Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

14.7.15

REFLEKSI MAKNA IDUL FITRI



(Khutbah Idul Fitri 1436 H)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر  ٣× الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
الله أكبر ماَ أَشْرَقَتْ وُجُوْهُ الصَّائِمِيْنَ بَشَراً .. الله أكبر ماَ تَعاَلَتِ اْلأَصْواَتُ تَكْبِيْراً وَذِكْراً ... الله أكبر ماَ تَوَالَتِ اْلأَعْياَدُ عُمْراً وَدَهْراً .. لك الْمَحاَمِدُ ربَّنا سِراً وَجَهْراً .. لَكَ الْمَحاَمِدُ رَبَّنا دَوْماً وَكَرَّا .. لَكَ الْمَحاَمِدُ ربَّنا شِعْراً وَنَثْراً..
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العفو الغفور. وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الحبيب الشكور، وصلى الله عليه وسلّم وعلى آله وصحبه الذين يرجون تجارة لَنْ تَبُوْرَ.
          أما بعد: فيا عباد الله، أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله، واصبروا وصابروا ورابطوا لعلكم تفلحون.
Hadirin wal hadirat, jama’ah solat Id Fitri rahimakumullah….
            Di pagi hari yang mulia ini, dalam suasana nan khidmat  penuh barakah, saya berseru mengajak diri sendiri juga segenap hadirin untuk bersama memperbanyak rasa syukur ke hadirat Allah SWT, seraya terus meningkatkan kualitas ketaqwaan: bermujahadah untuk selalu melaksanakan perintah Allah, dan menjahui segala larangan-Nya. Pada kesempatan ini juga, kita berseru mengagungkan Allah SWT, dengan takbir, tahmid, tahlil dan bertasbih; sebagi ungkapan rasa syukur dan suka cita; menenggelamkan diri dalam suasana kemenangan, setelah sebulan lamanya kita laksanakan ibadah puasa; sebagai manifestasi keimanan dan ketaqwaan; sembari bermunajat dengan penuh harapan; kita termasuk hamba-hamba yang dikaruniai kefitrahan baik dahir serta batin. Amin ya rabbal alamin.

Kaum muslimin dan muslimat Rahimakumullah
Setidaknya ada dua hal yang perlu diketengahkan dalam kesempatan mulia ini; yang pertama, upaya meromadankan seluruh bulan dalam setahun, dan yang kedua, merefleksikan makna Idul Fitri yang saat ini kita rayakan bersama.
Tentang upaya meromadankan seluruh bulan dalan setahun, mula-mula wajib disyukuri bahwa dalam Romadan, ibadah kita bisa dibilang meningkat, baik ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah (hablun minallah), atau antar sesama manusia (hablun minannas), disebut juga: ibadah sosial.
 Untuk ibadah hablun minallah, contohnya adalah Shalat. Kita bahkan semangat melaksanakan berbagai macam shalat sunnah dalam Ramadan, mulai dari Rawatib, Tarawih, Shalat Malam, Witir, dan sebagainya. Jika untuk shalat Sunnah kita bisa lebih termotivasi, insya Allah apalagi yang wajib. Begitulah ibdah Shalat kita dalam bulan Ramadan.
Termasuk hablun minallah, yakni puasa Ramadan. Tentu, seruan disini untuk kaum muslimin yang dengan sadar dan tulus mau melaksanakan kewajiban puasa. Adapun bagi yg masih belum menyadari kewajiban puasa, kita hanya bisa mendo'akan semoga Allah segera memberikan hidayah-Nya kepada mereka. Amin ya Rabbal Alamin. Dan selain shalat dan puasa, yang termasuk hablun minallah disini adalah qira'atul Qur'an (ngaji). Ngaji termasuk ibadah yang banyak dilakukan umat Islam saat Ramadan.
Baik shalat, puasa, dan juga ngaji Qur'an, alhamdulillah, kita memang sengaja memberi jatah lebih saat Ramadan. Sekali lagi, ini patut kita syukuri kalau ibadah kita kepada Allah bisa meningkat. Masih banyak yang bahkan tidak peduli dengan bulan Ramadan. Janagnkan mau menjalankan puasa, sholat wajib saja masih enggan melaksanakannya. Na'udzubillahi min dzalik...  
Begitulah kira-kira ciri peningkatan ibadah kita kepada Allah saat Ramadan. Hal yang juga sama adalah ibadah sosial kita (hablun minnas). Diakui atau tidak, ada semacam "maghnet" yang menarik kita untuk lebih meningkatkan muamalah antar sesama. Saat puasa Ramadan, kita berusaha semaksiamal mungkin bisa mengendalikan, bahkan mengekang diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang bisa mengurangi ganjaran ibadah puasa kita. Kita berusaha untuk bicara jujur, tidak menggunjing, tidak mengadudomba, dan juga berusaha untuk tidak menfitnah. Tentu sesuai kadar kemampuan kita. Di sinilah makna puasa Ramadan sebagai media latihan mengendalikan diri bisa difahami. Termasuk ibadah sosila juga: kita bisa meningkatkan amalan shadaqah, infaq, dan juga zakat. Alhamdulillah...  

Hadirin Jama'ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah...
            Jika ditanya, kenapa kita bisa meningkatkan amalan ibadah saat bulan Ramadan? Jawaban yang mungkin disampaikan disini, Pertama, adanya tradisi turun temurun sejak generasi sebelum kita; bahwa kalau Ramadan, lingkungan kita bisa menjadi semakin "islami". Realita ini menjadi semacam aturan tak tertulis, bahwa ketika Ramadan kita harus menghormati bulan yang penuh barokah ini. Hal itu bisa kita maklumi bersama. Lebih dari itu, mass media pun seolah mengkomersialisasikan program Ramadan. Itu alasan pertama.
Dan alasan kedua, kita semakin faham bahwa bulan Ramadan memang bulan yang penuh barokah. Banyak sekali tuntunan hadis nabi yang membicarakan seputar fadilah dan keutamaan bulan Ramadan. Ya, banyak sekali ajaran, baik yang termuat dalam Al-Qur'an, hadis nabi, termasuk juga aqwalul ulama' yang membicarakan keutamaan bulan Ramadan. Tidak mungkin pada kesempatan ini tersampaikan semuanya.
Kaitannya dengan semangat meningkatkan amalan ibadah saat Ramadan, mungkin bisa disampaikan di sini nasehat dari saayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau mengatakan:
"نَوْمُ الصَّائِمِ عِباَدَةٌ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجاَبٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ إِفْطاَرِهِ دَعْوَةٌ لاَ تُرَدُّ"
"Tidurnya orang yg sdg berpuasa adalah ibadah, diamnya merupakan tasbih, do'anya mustajab, amalannya dilipatgandakan (ganjarannya). Dan sesungguhnya do'a org yang berpuasa -menjelang berbuka- tidak akan tertolak".
            Nasehat ini cukup memotifasi kita untuk beramal sholeh ketika Ramadan, termasuk juga bershadaqoh dan lain sebagainya. Belum lagi ada jaminan surga, dan diampuni segala dosa bagi siapa saja yang menjalankan ibadah puasa karena berlandaskan keimanan dan mengharap ridla Allah semata. Sebagaimana hadis Nabi:
"مَنْ صَامَ رَمَضاَناً إِيْماَناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"    
            Yang juga termasuk keistimewaan Ramadan: ada satu malam dalam bulan ini, yang jika kita beribadah di dalamnya, maka ibadah kita tercatat lebih bagus dari ibadah selama seribu bulan. Subhanallah... malam itu kita kenal dengan Lailatu Qadar.
            Ajaran-ajaran seputar Ramadan cukup memotifasi kita umat Islam dalam meningkatkan ibadah selama sebulan. Untuk manggapai semua fadilah puasa Ramadan, kita pun sangat menjaganya dari segala hal yang dapat mengurangi fadilah puasa kita. Dalam hal ini, rasulullah berwasiat:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "الصِّياَمُ جَنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثُ وَلاَ يَجْهَلُ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ"
"Diriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasul bersabda: Puasa itu merupakan perisai, maka janganlah (org yg sedang berpuasa) berkata kotor, dan jangan juga melakukan (hal-hal) yang bodoh. Dan jika ada org yang memerangi, atau mengajaknya berkelahi, maka katakanlah: inni sâim (saya sdg berpuasa)"

Ayyuhal Hadirunal kiram rahimakumullah...
            Selanjutnya, bagaimana upaya kita merefleksikan makna Idul Fitri? Sebagai hamba yang dianugrahi pemikiran, tentu kita harus semakin pandai memaknai perayaan Hari Raya yang kita rayakan usai puasa Ramadan. Dari segi bahasanya: hari raya ini disebut: 'Idul Fitri, yakni: kembali pada kefitrahan diri. Dalam Islam, setiap bayi terlahir dalam keadaan suci tanpa noda, alias tiada dosa. Sabda Rasul: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. Ini tentu berbeda dg ajaran agama lain yang mengatakan manusia yang lahir sudah terbebani dosa adami. Islma tidak begitu.
            Namun demikian, seiring perjalanan waktu, karena lemahnya diri menahan hawa nafsu, dan juga hebatnya godaan syaitan, harus diakui: bahwa kita sering kali terjerumus dalam perbuatan dosa. Kita sering melakukan kecurangan, baik kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, termasuk juga kepada Allah. Ini yang mula-mula harus kita insafi. Tidak ada satupun dari kita yang terbebas dari dosa. Kenyataan ini dipertegas oleh nabi:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
"Setiap manusia itu pasti (pernah) berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat"
            Jika kita renungkan bersama, hadis ini sebenarnya menginsafi kita akan perbedaan antara Adam dengan Iblis. Sebagaimana diketahui bersama, Adam dan Iblis adalah dua hamba Allah yang pernah melakukan kesalahan saat di Surga. Iblis bersalah karena tidak mau menjalankan perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Sedangkan Adam bersalah karena melanggar perintah Allah untuk tidak makan buah terlarang, namun tetap saja dia makan.
            Bedanya Iblis dengan nabi Adam, saat Allah menegor Iblis, dia tidk merasa bersalah, bahkan justru bersikukuh dengan kesalahannya, dan memohon kepada Allah untu dipanjangkan umurnya dan anak cucu Iblis agar bisa terus berbuat salah, yakni menggoda anak turunan Adam, yakni kita. Sedangkan nabi Adam, setelah dihukum atas kesalahannya itu, beliau -dengan penyesalan yang tulus-  bertaubat kepada Allah, seraya berdo'a:
"ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكوننا من الخاسرين"
"Wahai Tuhan kami, sungguh kami telah mendolimi diri kami, jika tiada ampunan dan kasih sayang dari-Mu, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi"
Begitulah kisah kakek kita Adam dalam menginsafi kesalahan yang diperbuatnya. Menurut riwayat, taubat beliau diterima oleh Allah setelah berselang ratusan tahun sejak diturunkan dari langit, hingga dipertemukan kembali oleh Allah dengan Hawa di Jabal Rahmah.
Hikamah dari kisah tersebut, kita adalah manusia yang penuh kesalahan dan dosa, kita pertanyakan pada diri masing-masing: adakah kita akan meniru jejak kakek kita Adam; mengakui kesalahan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, atau kita meniru jejak Iblis; tidak mau mengakui kesalahan diri, dan justru terlena dengan dosa-dosa yang selama ini kita lakukan. Na'udzubillahi min dzalik....

Jama'ah Sekalian yang berbahagia...
            Hikmah lainnya yang wajib kita renungkan dari kisah Adam tadi adalah bahwa Allah sangat-sangat mencintai kita. Kita bisa bayangkan; jika nabi Adam yang hanya melakukan satu kesalahan saja perlu waktu ratusan tahun untuk bisa kembali kepada kefitrahannya, yakni diampuni dosanya, nah.. kita –sebagaimana hadis nabi sebelumnya- hanya dengan puasa Ramadan yg dikita kerjakan dg berlandaskan keimanan dan mengharap ridla Allah saja, semua dosa-dosa kita sudah diampuni. (mari katakan bersama-sama) Subhanallah... sungguh kasih sayang Allah kpd kita umat Muhammad saaangat luar biasa.
            Selain dengan cara berpuasa seperti dijelaskan tadi, kita juga bisa kembali kepda kefitrahan diri dengan cara melakukan ibadah haji dengan baik dan benar, sebagaimana hadis nabi:
"مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ" (متفق عليه)
"Barang siapa yang melakukan ibdah haji, dan ia tidak berkata kotor, juga tidak melakukan perbuatan fasik, maka (dia akan mendapatkan ganjaran) kembali seperti hari dimana ibunya baru melahirkannya, yakni kembali dalam kefitrahan diri" Muttafaqun alaih

Hadirin sekalian yang berbagia...
            Itulah salah satu makna Idul Fitri yang saat ini sedang kita rayakan bersama. Jika kita sudah melakukan ibadah puasa seperti tuntunan nabi tadi, maka kita wajib yakin kalau saat ini dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah SWT. Adapun peluang kembali pada kefitrahan diri dengan berhaji, kita berdo'a mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan bagi kita sekalian untuk melaksanakan ibadah haji. Amin, amin ya Rabbal alamin....  
            Maasalahnya kemudian, bagaimana mempertahankan kefitrahan diri yang saat ini sudah kita raih? Bagaimana bisa terus bertahan untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, baik hablun minallah, juga hablun minannas? Jika saat Ramadan bisa meningkat, bagaimana untuk sisa sebelas bulan lainnya? Kalau ketika Ramadan termotifasi meningkatkan ibadah, karena dalam bulan ini, Allah banyak menjanjikan pahala yang dilipat gandakan; ada lailatul qadar yang kita kejar; dan juga, karena puasa itu sendiri adalah perisai yang membentengi kita dari melakukan maksiat, maka jka Ramadannya berlalu, berarti habis juga masa berlakunya prisai sekaligus benteng kita itu?! Lantas apa yang bisa kita jadikan periasai untuk membentengi diri dari berlaku maksiat?

Kaum Muslimin dan Muslimat, Mu'minin dan Mu'minat Rahimakumullah...
            Meskipun secara jelas tidak disampaikan oleh nabi, tapi pada hakekatnya kita masih memiliki identitas diri yang bisa dijadikan perisai sekaligus benteng untuk memperingati diri agar tidak melaukauan kesalahan, sebagaimana prisai puasa. Jika saat Ramadan kita mengatakan "ana shaim" untuk tidak melakukan perbuatan keji, maka setelah Ramadan berlalu, kita bisa mengatakan "ana mu'min" atau "ana muslim" sebagai upaya mengontrol hawa nafsu serta emosi diri. Kita bisa jadikan identitas kita sebagai mukmin dan muslim untuk membentengi diri setiap kali tergoda melakukan maksiat. Bagaimana maksudnya?
            Rasul bersabda:
"الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ"
"Seorang muslim (sejati) adalah dia yang orang-orang muslim lainnya merasa aman dari omongan dan tangan muslim tersebut"
Hadis lainnya:
"مَنْ كاَنَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كاَنَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ" (متفق عليه)
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik lagi benar, atau jika tidak, lebih baik diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunya"  (HR: Muttafaqun Alaih)
            Disini jelas sudah, bahwa indikasi haqiqi keimanan dan keislaman seseorang adalah kemampuan mengontrol omongan, dan anggota badan lain, terutama tangannya untuk tidak merugikan orang lain. Seorang mukmin juga wajib menghormati tetangga dan tamunya.
Jika ini kita amalkan, insya Allah, meski tidak sedang berpuasa, kita masih punya prisai untuk membentengi diri. Dan pastinya, kita tidak merasa perlu lagi menunggu iming-iming ganjaran melimpah hanya untuk beribadah kepada Allah. Bukankah kita tercipta hanya untuk beribadah kepada Allah..! Maka, mau ada ganjaran melimpah atau tidak, kita harus tetap bribadah lillahi ta'ala. Bukan untuk mengejar lainnya, termasuk bukan untuk mencari lailatul Qadar. Inilah hakekat keikhlasan. Dan dengan cara seperti, kita bisa meromadonkan sebelas bulan lainnya. Wallahu a'lam bissawab...
Akhirnya, semoga hati kita dibukakan oleh Allah SWT, dan bisa menjadikan keimanan dan keislaman sebagai periasi dalam menjalankan sisa hidup ini Semoga, kefitrahan diri yang saat ini kita raih bisa terus dipertahankan sampai akhir hayat nanti. Amin ya Rabbal alamin...
Dalam kesempatan ini, saya pribadi mengucapkan "Selamat Idul Fitri" kepada segenap jama'ah, dan dengan kerendahan hati memohon maaf lahir batin atas segala kekhilafan dan kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja.

عيدٌ سعيد، أعاد الله عليكم وإياي نفسي بالسعادة والخير والرفاهية وكل عام وأنتم بخير
جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين المقبولين، وبارك لنا فى القرآن العظيم. ونفعنا بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، إنه هو البر الرؤوف الرحيم،
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: "قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى"
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

    Oleh:
           Zulfan Syahansyah 

27.7.12

MENYAMBUT RAMADAN



الحمد لله الذي فضل أوقات رمضان على غيره من الأزمان وأنزل فيه القرآن هدى وبينات من الهدى والفرقان ، أحمده سبحانه وأشكره، أشهد أن لا أله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن نبينا محمدا عبده ورسوله الذي كان يخص رمضان بما لم يخص به غيره من صلاة وتلاوة وصدقة وبر وإحسان
 اللهم صل عليه وعلى آله وأصحابه الطاهرين الذين آثروا رضا الله على شهوات نفوسهم فخرجوا من الدنيا مأجورين وعلى سعيهم مشكورين وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين  .
أما بعد : فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فهي جماع الخير كله فاجعلوا بينكم وبين عذاب الله وقاية بفعل الأوامر وترك النواهي

Kaum muslimin sekalian, rahimakumullah.
Pertama dan yang paling utama, saya mengajak diri pribadi dan segenap hadirin untuk bersama-sama kita tingkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah SWT. Hanya dengan itulah, hidup ini akan semakin bernilai baik di dunia, terlebih di akhirat kelak. Tanpa ketaqwaan, apapun yang kita miliki, juga apapun yang kita upayakan, tidak akan pernah ada nilainya. Hanya kerugian dan kerugian semata yang kita alami. Naudzu billah min dzalika…

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia…
Sesuai akidah, kita semua adalah umat Nabi Muhammad SAW., sekaligus menjadi umat penutup, alias umat terakhir. Sebagai umat terakhir, selayaknya kita bisa membaca perbedaan antara kita dengan umat-umat terdahulu. Tentunya, lain kita, lain pula umat terdahulu. Ada klasifikasi yang membedakan antara satu umat dengan lainnya.
Bisa jadi ada banyak ciri khas yang membedakan. Dibutuhkan penelitian sejarah untuk membuktikannya. Toh demikian, jika sejenak direnungkan, setidaknya ada tiga ciri khas umat Muhammad yang membedakan sekaligus menjadi keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan umat lainnya.
          Ketiga ciri khas tersebut adalah: diwahyukannya al-Qur’an sebagai kitab suci, dipilihnya sosok Muhammad sebagai rasul-Nya, dan relatif dipersingkatnya usia. Tentang kitab suci Al-Qur’an, kita patut bangga, karena penjagaannya langsung dilakukan oleh Allah SWT. Dijelaskan:
إنا أنزلناه الذكرى وإنا له لحافظون (الأية)
“Kami telah menurunkan al-Qur’an sebagai pengingat, dan kami juga lah yang menjaga kemurnian isinya”. Pada titik ini, kita bisa melihat bagaimana kitab-kitab Allah sebelum al-Qur’an telah diselewengkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Pastinya, masih terlalu banyak keistimewaan al-Qur’an sebagai kitab suci bagi umat Muhammad yang bisa dibanggakan.
          Hal selanjutnya yang perlu dibanggakan sebagai umat nabi Muhamad adalah realita pribadi Rasulullah sendiri. Sebuah hadis qudsi menjelskan:
لولاك لولاك يا محمد، ما خلقت هذه الكائنات
“Jika bukan karena engkau, hai Muhammad, niscaya tidaklah aku ciptakan dunia beserta isinya ini”. 

Kaum muslimin yang berbahagia...
            Kiranya tidk perlulah saya berapologis dengan banyak komentar seputar dua keutamaan umat nabi Muhammad tadi; tentang keutamaan al-Qur’an dan keistimewaan sosok Nabi Muhammad. Hal tersebut sangat bergantung pada kualitas keimanan kita. Meski secara defakto telah terbukti, namun tetap saja akan menyisakan prasangka subjektif di kalangan mereka yang tidak seiman.
          Waba’du, tersisa satu ciri khas yang bisa kita cermati menjadi sebuah kajian yang logis-rasional; yakni relatif dipersingkatnya usia. Jika dibandingkan dengan usia umat-umat terdahulu, usia manusia yang hidup saat ini memang relatif singkat. Kata Rasul: usia umatku berkisar antara 60 sampai 70 tahun saja. Angka tersebut sangat singkat kalau melihat usia orang-orang dahulu yang konon mencapai ratusan tahun.
          Usia nabi bisa menjadi presentasi bagi usia umatnya. Nabi Muhammad sendiri usianya sekitar 63 tahun saja Maka usia umat beliau tidak jauh dari itu. Sangat jarang yang melebihi usia 70 tahun. Jika ada, julukan yang pas adalah lanjut usia. Tidak demikian dengan usia umat-umat terdahulu. Ini bisa dilihat dari usia para nabi mereka.
          Nabi Adam usianya sampai 930 th; nabi Nuh, lebih lama lagi, sampai 1000 th. Nabi Ibrahim, usianya sampai 195 th; nabi Sulaiman, 180 th; nabi Zakaria mendekati usia 300 th. Begitu seterusnya. Maka, bisa dipastikan bahwa usia umat-umatt terdahulu menyamai usia nabi mereka. 
          Pertanyaannya, dimana letak keutamaan umat nabi Muhammad yang berusia relatif singkat? Satu contoh analogis: jika dua hamba Allah yang selama hidupnya selaluu beribadah dan berbuat kebajikan, yang satu berusia 50 tahun, dan lainnya berusia 100 tahun, maka bisa dipastikan: orang yang berusia sampai 100 tahun mempunyai peluang lebih banyak mendapatkan ganjaran dibanding mereka yang hanya hidup cuma sampai 50 th??!!! Dimana letak keutamaan berusia relatif singkat bagi kita umat nabi Muhammad?
          Disinilah lagi-lagi Allah memanjakan kita umat Muhammad. Bagi kita disiapkan satu nilai kuadrat dalam kebajikan, yakni barokah. (ziyadatu al-khair fi syai’: bertambahnya nilai kebaikan dalam urusan). Ada dua macam barokah: barakatun mahalliyah dan barakatun zamaniyyah. Banyak tempat-tempat yang penuh barakah bagii kita. Saah satunya, seperti sabda nabi adalah masjid-masjid mulia dalam Islam. Ada masjid Haram di Makkah, masjid Nabawi di Madinah dan masjid Aqsha di Palestina.
          Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” (HR. Muslim no. 1394). Menurut riwayat, shalat di masjidil Haram bisa berlipat 100.000 kali. Bayangkan, bagi kita yang bisa pergi ke Tanah Suci, dan shalat selama sebulan –umpamanya- di masjidil Haram, secara matematis, perbandingannya akan sama dengan ganjaran umat lainnya dengan jangka waktu bertahun-tahun. Demikian contoh kalkulasi yang nampak dari barakah mahaliyyah bagi umat Muhammad.
          Bagi kita yang belum ditaqdirkan bisa datang ke tanah Haram, baik karena faktor biaya atau karena alasan lain, jangan khawatir, ada barakah lain yang disediakan bagi kita umat nabi Muhammad, yakni barakah zamaniyyah: barakah waktu. Banyak sekali waktu-waktu yang penuh barakah bagi umat Islam. Namun di antara sekian banyak waktu yang ada, ada satu waktu yang nilai kebarokahannya melimpah, dan terhitung paling lama. Bayangkan, sebulan penuh. Waktu tersebut adalah bulan suci Ramadan. 

Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah
          Jika barakah tempat seperti shalat di masjid al-Haram sudah terbilang kelipatan ganjarannya, maka dalam Ramadan ini justru tidak terungkap secara eksplisit. Dan lagi-lagi Allah sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Dalam hadis qudsi dijelaskan:
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
“semua amal ibadah manusia pada hakekatnya untuk mereka, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku (kata Allah), dan Aku-lah yang akan memberikan ganjarannya”. Dari sini bisa difaham, sedemikian besarnya ganjaran ibadah puasa, hingga hitungan matematis tidak cukup mewakili sebagai perlambang besarnya ganjaran ibadah puasa.
          Sedemikian berlimpahnya barakah Ramadan, hingga penalaran logis manusia tidak mampu melukiskannya. Alias tidak masuk akal. Indikasi ini tergambar dalam sebuah hadis:
خلو فم الصائم أطيب من ريح المسك
“bau mulutnya orang yang berpuasa, bagi Allah justru lebih harum dibandingkan wewangian parfum yang paling harum sekalipun”. Bagaimana kita bisa menganalogis antara bau mulut dengan parfum? Lebih-lebih bau mulut orang yang berpuasa. Maka, jelaslah betapa besar barakah serta ganjaran yang disediakan bagi kita dalam bulan Ramadan. Sedemikian besarnya, sampai-sampai andaikan kita mengetahuinya, maka seluruh bulan dalam setahun kita harapkan menjadi bulan Ramadan semuanya. Seperti sabda Rasul:
لو عرف الناس ما في رمصان لتمنوا أن تكون السنة كلها رمضان
“Andai saja manusia mengetahui keutamaan-keutamaan dalam bulan Ramadan, maka niscaya mereka akan mengharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadan.”

Kaum muslimin sekalian...
          Kiranya tidak akan cukup waktu jika saat ini kita membicarakan seputar fadilah dan barokah bulan Ramadan. Satu hal yang perlu kita fahami: Ramadan adalah anugrah. Maka selayaknya kita melihatnya sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba melakukan amal ibadah dan kebajikan, dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridla Allah SWT.
          Intinya, meski kita sebagai umat Nabi Muhammad berusia relatif singkat, namun peluang memperbanyak ganjaran kebajikan tetap terbuka untuk menyaingi umat-umat lain yang berusia jauh lebih panjang. Peluang itu salah satunya berada di bulan Ramaadan yang beberapa hari lagi menjelang.
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena keimanan dan mengharap ridla Allah, maka niscaya segala dosa-dosanya yang terdahulu diampuni oleh Allah SWT. Wallahu a’lam bi al-shawab...
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم و نفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو البر الرؤوف الرحيم. وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.