2.4.11

MEMBEBASKAN DIRI DARI TUHAN PALSU

Ketika Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan, ada sebuah suku di Gurun Gobi yang merasa kehilangan Tuhan. Sebab selama ini mereka menyembah bulan, yang kemudian diinjak oleh Neil Amstrong. Dalam sosiologi agama dikenal rumusan bahwa suatu objek disebut Tuhan kalau menurut mereka yang melihatnya mengandung unsur-unsur misteri, aneh, dan menimbulkan pertanyaan terus-menerus. Ketika orang melihat gejala alam atau binatang yang mengandung unsur-unsur tersebut, maka akan disembah. Di zaman Mesir kuno, ada orang atau suku yang menyembah buaya. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang menyembah buaya, karena binatang ini tidak terkalahkan. Saudara-saudara kita di Irian Jaya ada juga yang masih menyembah buaya. Maka ketika ada tentara dari Jakarta yang tertarik dengan kulit buaya dan menembaknya mati, maka Tuhannya gugur, sebab aspek misteriumnya tidak ada lagi.


Bahaya sekali bagi orang yang merasa kehilangan Tuhan akibat aspek misteriumnya gugur, sebab bersamaan dengan itu ia akan kehilangan makna hidup. Tidak heran kalau suku-suku terasing yang mengenal dunia luar kemudian berubah menjadi kacau dan lari ke minuman keras; itu juga yang menjadi ciri-ciri suku Aborigin di Australia. Mereka mengalami dislokasi dan di­sorientasi. Budaya yang selama ini memberikan makna hidup dihancurkan oleh ilmu pengetahuan.


Oleh karena itu penting sekali memahami kredo Islam mengenai, “lâ ilâha illallâh” (tiada tuhan selain Allah). Asumsinya, dari sudut Islam, manusia itu bukan tidak percaya kepada Tuhan, tetapi percaya kepada kelewat banyak Tuhan, sehingga untuk kembali kepada Tuhan yang sebenarnya, proses pertama yang diperlukan ialah mebebaskan diri dari kepercayaan yang palsu melalui “lâ ilâha”, artinya membunuh semua tuhan yang ada. Jadi pernyataan Nietzsche “The God is Death” adalah analog dengan proses ini. Mengapa Nietzsche sampai mengatakan Tuhan telah mati? karena dia tidak bisa menerima konsep ketuhanan seperti yang dia kenal.


Dalam buku The Key of Hyram ada penjelasan seperti ini: Kalau bukti-bukti ilmiah, antropologi, arkeologi, dan sebagainya, sampai pada kesimpulan bahwa kalau Budha Gautama itu tidak ada atau hanya mitos, maka agama Budha tidak akan hancur; hal ini karena ajarannya tidak tergantung kepada pribadi Budha Gautama itu sendiri; kalau Musa itu ternyata hanya dongeng, maka agama Yahudi juga tidak akan hancur; begitu juga kalau seandainya Muhammad itu ternyata hanya dongeng, agama Islam tidak akan hancur sebab ajaran Islam tidak tergantung kepada pribadi Muhammad; tetapi kalau ternyata Yesus itu dongeng, maka seluruh agama Kristen akan hancur, karena semuanya terpusat kepada Yesus (konsep penebusan dosa). Tidak usah masalah apakah Yesus itu ada atau tidak, bahkan kalau Yesus itu ternyata tidak mati di tiang kayu salib saja, maka seluruh bangunan agama Kristen itu hancur. Itulah sebabnya kenapa di Barat pertentangan ilmu pengetahuan dan agama menjadi sengit. Dan ketika tidak bisa didamaikan, keduanya dipisahkan dan menjadi apa yang disebut sekularisme (pemisahan antara kebenaran ilmiah dan kebenaran dogmatik yang disucikan).


Kalau orang Islam konsekuen dengan syahadatnya sendiri, lâ ilâha illallâh, maka jelas tidak akan terjadi hal-hal semacam itu. Misalnya orang Makkah dan orang Madinah dalam memperlakukan Hajar Aswad. Mereka melihatnya tidak lebih sebagai benda. Padahal sesuci-suci objek di muka bumi ini adalah Hajar Aswad. Sikap yang paling tepat terhadap Hajar Aswad barangkali seperti dilakukan oleh Umar ibn Khaththab. Ketika harus mencium Hajar Aswad dalam suatu tawaf, dia mengatakan, “Kamu hanya batu, kalau saya tidak pernah melihat Muhammad mencium kamu, saya tidak mau mencium kamu!” Baru setelah itu dia mencium Hajar Aswad. Artinya, memang tidak ada yang suci kecuali Allah, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran jika kemudian ilmu pengetahuan semakin bertendensi mengungkap sisi-sisi gelap agama. Justru kelak ilmu pengetahuan itu akan membantu memperteguh tauhid.