26.5.11

JABARIAH VS QADARIAH, LEBIH ISLAMI MANA?

Kaum Mu’tazilah dikenal sebagai kaum rasionalis Islam. Secara teologis, mereka sebetulnya merupakan titisan kaum Khawarij. Ketika Khawarij tampil sebagai gerakan politik, sebetulnya telah ada bibit-bibit teologi yang bermula dari isu pembunuhan Utsman. Sebagai penggantinya, Ali menerima banyak tuntutan untuk menemukan siapa pembunuhya. Tetapi ia tidak bisa, sehingga A’isyah memerangi-nya dan kalah. Suasana Madinah yang sudah tidak mendukung, membuat Ali pindah ke Kufah. Namun di sini Ali menghadapi pe¬nen¬tang lainnya, Mu’awiyah dan terjadilah pertempuran. Akhir dari pertempuran itu adalah sebuah kompromi yang berakibat kekecewaan pada pengikut Ali garis keras.

Mereka yang kecewa ini keluar dari barisan Ali dan menamakan dirinya al-Syûrâ. Tetapi karena mereka keluar (khurûj) dari jamaah, maka kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Khawarij. Khawarij inilah yang mengangkat isu bahwa orang Islam yang melakukan kejahatan (dosa besar) menjadi kafir dan harus dibunuh. Menurut mereka, Utsman memang harus dibunuh karena telah melakukan dosa besar dengan berbuat zalim dalam menjalankan kekhalifahan.

Selama 12 tahun menjadi khalifah, enam tahun pertama dijalani Utsman dengan bagus. Menurut Ibn Taymiyah, yang menjadi masalah enam tahun berikutnya adalah ketika Utsman mulai menunjukan gejala nepotisme. Selain Utsman, yang dituduh zalim dan harus dibunuh adalah Ali; hal ini dikarenakan ia telah membuat kesepakatan dengan Mu’awiyah yang dipandang sudah kafir. Kaum Khawarij berhasil membunuh Ali, tetapi gagal membunuh Mu’awiyah yang telah menjadi raja.

Yang menarik, kenapa kaum Khawarij menyatakan bahwa orang Islam yang berdosa besar itu harus dibunuh. Menurut mereka, manusia diberi kemampuan untuk memilih pekerjaannya sendiri. Kalau ternyata dia memilih berbuat jahat, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Inilah yang disebut Qadariah, paham bahwa manusia itu mampu memilih pekerjaannya sendiri.

Pendapat ini ditentang oleh Bani Umayah dengan mengatakan tidak begitu. Menurut mereka, Utsman tidak boleh dibunuh dan dia tetap Islam karena semua kejahatan yang dilakukannya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Ini yang disebut Jabariah. Qadariah-Jabariah ini menjadi anticode dan merupakan dua faham yang mendominasi Islam waktu itu. Ketika Khawarij sebagai gerakan politik mati, teolo-ginya yang sangat antroposentris, berpusat kepada manusia, menjelma kembali ke dalam Mu’tazilah. Mereka menetapkan segala sesuatu berdasarkan rasio.

Baik Jabariyah maupan Qadariah sebagai teologi mempunyai kelemahan masing-masing. Kalau seluruh pekerjaan itu hasil karya manusia, seperti kata Jabariah, maka itu bisa menjadi ancaman bagi tauhid karena seolah-olah manusia menuhankan kemampuannya sendiri. Tetapi kalau seluruh pekerjaan kita ditentukan oleh Tuhan, seperti kata Qadariah, maka konsep pahala dan dosa menjadi tidak masuk akal; kalau pahala dan dosa merupakan balasan dari perbuatan, maka yang mendapat pahala dan dosa adalah Allah sendiri, bukan manusia.

Di tengah tarik-menarik inilah muncul Asy’ari. Ia sukses menengahi antara ke-duanya. Menurutnya, memang betul bahwa seluruh perbuatan manusia itu buatan Tuhan, tetapi tidak berarti bahwa manusia tidak bertanggungjawab atas perbuatan-nya; perbuatan baik akan mendapat pahala, perbuatan jahat akan mendapat dosa. Dia memperke¬nalkan istilah yang bernama kasb, keputusan pertama ketika melaku-kan sesuatu. Kasb inilah yang menjadi milik manusia, dan karena itu menjadi tempat tanggung jawab manusia. Memang kasb itu rumit, dan karena terlalu menekankan pada ide bahwa seluruh perbutan manusia ditentukan oleh Allah, maka akhirnya kasb tergelincir kepada Jabariah.

Oleh: Nurchalis Majdid

22.5.11

TIDAK IKHLAS = KAFIR

Tidak jarang kita melakukan satu pekerjaan bukan karena nilai intrinsik pekerjaan tersebut, namun ada faktor-faktor lain di luar tindakan itu sendiri. Keinginan untuk dilihat atau didengar menjadi faktor yang bahkan mendominasi dan menjadi pendorong kita untuk melakukan—atau tidak melakukan sesuatu. Dengan kata lian, bisa jadi tidak satu pun dari kita yang berhak menganggap dirinya terlepas dari sifat pamrih, baik yang sum’ah, atau yang riya’.

Konon para ahli jiwa mempunyai cara yang cukup handal untuk mengorek isi hati orang sehingga diketahui apakah orang itu mempunyai rasa pamrih dalam berbagai tindakan­nya atau tidak. Sebab seringkali sesungguhnya Dengan kata lain, kita sebenarnya belum tentu bertindak demi nilai intrinsik tindakan kita, melainkan karena nilai lain yang ada di luar tindakan itu sendiri. Karena itulah kepam­rihan menjadi lawan keikhlasan.

Jika pamrih kita ialah keinginan untuk “dilihat” orang, dalam istilah keagamaannya ialah riyâ’. Dan jika untuk “didengar” orang, misalnya agar nama menjadi terkenal, maka istilahnya itu sum’ah. Kedua-duanya itu adalah sejenis kemunafikan, ka­rena mengandung semangat bahwa kita berbuat tidak untuk tujuan sesungguhnya seperti kita katakan atau kesankan pada orang lain, melainkan untuk tujuan lain yang disembunyikan, yang nilai tujuan itu tidaklah terlalu mulia. Jadi kita tidak tulus dalam amal perbuatan kita.

Oleh karena itu dalam Kitab Suci diisyaratkan bahwa keinginan seseorang untuk mendapat pujian orang lain atas sesuatu yang sebenarnya tidak dia kerjakan adalah suatu bentuk sikap menolak kebenaran (Q., 3: 188). Dan sikap menolak kebenaran itu, sudah kita ketahui bersama, adalah salah satu makna kata-kata kufr. Bahkan karena pamrih itu mengandung arti mengalihkan tujuan hakiki amal-perbuatan kita kepada tujuan yang lain, atau membagi tujuan itu (yang semestinya secara tulus hanya untuk ridlâ Allâh) dengan tujuan selain dari pada-Nya, maka pamrih juga mengandung unsur syirk.

Karena itu dalam sebuah hadis yang terkenal, Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan terjadi padamu sekalian ialah syirik kecil, yaitu pamrih”. Artinya seolah-olah Nabi Saw. hendak menegaskan bahwa mungkin kita tidak lagi akan menyembah berhala, karena sudah jelas kepalsuannya, dan mudah dikontrol. Tapi yang sulit ialah bagaimana berteguh hati dalam tujuan perbuatan kita hanya kepada Allah Swt. demi ridlâ-Nya. Sebab semua orang kiranya merasakan betapa mudahnya—dan tanpa terasa—menyelinap ke dalam lubuk hati kita keinginan untuk dilihat, didengar, dan dipuji orang.

Masalah seseorang mendapat pujian dari orang lain, asalkan secara wajar dan beralasan, tentulah dibenarkan saja. Ini diisyaratkan dalam firman Allah, Katakan (wahai Muhammad): “Bekerjalah kamu semua, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu, begitu juga Rasul-Nya dan seluruh masyarakat kaum beriman” (Q., 9: 105). Dan sesuatu yang akan “dilihat” itu hasil kerja atau prestasi, yang memang akan menjadi inti kualitas seseorang. Dan tidaklah manusia itu mempunyai sesuatu kecuali yang dia usahakan (Q., 53: 39).

Tetapi yang menjadi persoalan ialah jika kita kehilangan kesejatian dan ketulusan dalam amal-perbuatan, karena menyelinap dalam hati kita keinginan mendapat pujian orang lain. Dalam keadaan demikian kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari amal-perbuatan itu. Maka untuk menjadi tulus dan sejati itu kita harus berjuang terus-menerus (mujâhadah) melawan kecende­rungan tidak benar dalam diri kita sendiri. Sebanding dengan kesung­guhan itulah kita insyâ’ Allâh mendapatkan pahala.