8.2.17

LUASNYA AMPUNAN ALLAH SWT




Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas Pengampunan-Nya” (QS. An-Najm: 23)
Bagaimana kita memahami “luasnya ampunan” Allah SWT? Catatan berikut mungkin bisa menggambarkan luasnya ampunan Allah. Ya, hanya gambaran saja. Bukan sebenarnya. Karena pada hakekatnya, luasan ampunan Allah tidak akan bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan manusia. Allah Maha Pengampun. Ampunan-Nya sangat luas tiada batas.

Ketahuilah, pada hakekatnya semua umat Islam, baik pria maupun wanita masuk dalam satu daerah yang disebut: “ahlul iman wan Islam”. Satu tempat, dimana telah Allah anugrahkan banyak kenikmatan, dan tidak ada di tempat lainnya. Salah satu dari anugrah kenikmatan tersebut adalah anugrah limpahan ampunan dan magfirah. Limpahan ampunan dan magfiroh ini dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi.

Pertama, Allah berfirman sebagaimana dalam surat An-Nisa’, ayat: 48:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa bagi siapa saja yang menyekutukan-Nya, dan mengampuni semua dosa selain syirik bagi siapa saja yang Allah kehendaki”. 
Kemudian di ayat lain (QS. Az-Zumar: 53) Allah berfirman:
Katakan (Wahai Muhammad): Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian berputus asa atas rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

 Dari ayat-ayat di atas Allah berjanji akan mengampuni semua jenis kesalahan/dosa, kecuali menyekutukan-Nya. Dan harus diketahui bahwa ampunan dari Allah SWT itu karena memang Dzat Allah memiliki sifat “Al-Gaffar” (Yang Maha Pengampun). Sifat “Al-Gaffar” ini merupakan salah satu sifat qadim (dahulu) bersamaan dengan wujud Allah SWT. Sedangkan istigfarul mustagfirin (permohonan ampun dari hamba) adalah sifat hawadis (baru) sebagaimana sifat barunya makhluk. Maka merupakan satu hal yang mustahil jika sifat qadim Allah bergantung pada sifat hawadis makhluk. Dengan kata lain: bahwa Allah Maha Pengampun atas semua dosa tanpa bergantung pada permohonan ampun, atau menunggu pertaubatan dari hamba-Nya. Dzat Allah sejak dahulu, sebelum terciptanya makhluk pada hakekatnya memang sudah Maha Pengampun (Al-Gaffar).

Kedua, termasuk anugrah kenikmatan bagi kaum muslimin-mukminin adalah, bahwa Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar beristigfar (meminta ampun) untuk umatnya. Firman-nya: “Dan mintalah ampun atas dosamu dan dosa kaum mukminin dan mukminat..” (QS. Muhammad: 19).
Sebagai utusan sekaligus kekasih Allah, Nabi Muhammad itu lebih utama dibanding kaum mukminin bagi diri mereka sendiri. Sebagaimana firmannya (Al-Ahzab: 6).
Dan harus diyakini juga, bahwa istigfar (permohonan ampun) Nabi itu pasti diterima oleh Allah SWT. Karena pastinya diterima istigfar beliau SAW, maka Allah melarang Nabi untuk beristigfar bagi kaum musyrikin, sebagaimana Friman-Nya: “Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, meskipun mereka itu termasuk kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orfang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (QS. At-Taubah: 113).

Selain itu juga, Nabi dilarang menyolati (jenazah) orang-orang yang munafiq dan kafir. Firman Allah: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) orang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik  (QS. At-Taubah: 83).

Itulah anugrah kedua yang dikhususkan bagi kaum muslimin-mukminin. Anugrah nikmat selanjutnya adalah,  bahwasanya para malaikat juga memintakan ampunan kepada Allah bagi kaum muslimin. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya, dan mereka beriman kepada-Nya, serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya berdo’a): Wahai Tuhan kami Yang rahmat serta Ilmu-Nyameliputi segala sesuatu, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, dan jagalah mereka dari siksaan neraka jahanam” (QS. Ghafir: 7)

Subhanallah, betapa agung limpahan nikmat bagi kita umat Islam dalam hal pengampunan. Selain memang Dzat Allah adalah Ghaffar (Maha Pengampun), dan Allah masih menyuruh Nabi Muhammad beristigfar untuk kita, serta para malaikat juga turut beristigfar,  ternyata Allah juga masih memberi nikmat, yakni sesama umat Islam bisa saling mendo’akan dan memohonkan ampun untuk saudara seimannya. Model dan cara do’a seperti ini disebut “Do’a bi dohri al-ghaib

Rasulullah SAW bersabda: “Barangg siapa yang mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya (bi dohri al-Ghaib), maka malaikat yang mendampingi orang tersebut ikut mengamini do’anya, dan berdo’a: semoga engkau juga mendapatkan seperti apa yang kau do’akan” (HR. Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Ibnu Majah)

Dengan pemahaman hadis di ats, dan jika umpamnya seorang atau sekelompok muslim berdo’a:
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات
 
Ya Allah, ampunilah dosa umat Islam laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup atau yang sudah mati”, maka sesungguhnya orang yang berdo’a seperti di atas, dia telah telah memohonkan ampunan dosa bagi semua orang Islam sejak awal masa kenabian hingga waktu terbacanya do’a tersebut.

Bisa dibayangkan, betapa banyak jumlah umat Islam secara keseluruhan (yang masih hidup dan juga yang sudah mati). Mereka semuanya masuk dalam hitungan do’a tersebut. Dan dengan jumlah sebanyak itu, orang yang membacakan do’a dan yang mengamininya, secara otomatis dosa-dosanya juga terampuni. Dan jika dosanya tidak sebanyak jumlah kaum muslimin sejak dahulu hingga sekarang, maka sisanya menjadi catatan kebaikan si pembaca do’a dan yang mengamininya. Allaaah......
Do’a di atas, minimal kita baca di penghujung khutbah Jum’at. Subhanallah.... betapa luasnya pengampunan Allah bagi kita umat Islam.
Lantas, pantaskah bagi kita jika tidak mensukurinya???
Allahu Akbar, walillahilhamd...

-ZUS-