22.1.12

SIMBOL DAN BAHASA

Simbol merupakan lambang yang biasa kita gunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang penting dan bermakna. Kita memerlukan simbol, karena kata-kata biasa tidak mampu lagi mengungkapkannya, terutama untuk suatu kenyataan tinggi yang ingin kita sampaikan. Simbol, atau bahasa Indonesia menyebutnya “tamsil-ibarat” diperlukan sebagai alat mengungkapkan “kenyataan tinggi” kehidupan manusia. Secara etimologis, tamsil berarti perumpamaan, sedangkan ibarat adalah sesuatu yang yang harus diseberangi.

Keterangan di atas perlu dikemukakan terlebih dahulu, karena hampir setiap hari kita menyebut kata tamsil-ibarat, tetapi seringkali tidak jelas apa yang dimaksudkan dengan kata itu. Dengan kata tamsil-ibarat itu, artinya segala sesuatu yang ditamsilkan baru kita ketahui maknanya secara benar apabila kita menyeberang ke apa yang ada di balik kata-kata itu.

Sebagai contoh, sering disebut bahasa merupakan suatu sistem simbol. Oleh karena itu, bahasa adalah suatu lambang yang tidak mempunyai maknanya sendiri. Makna bahasa ada pada benda atau barang yang kita namakan sesuai dengan kesepakatan. Maka banyak teori yang menyebutkan bahwa bahasa itu sebenarnya satu, tetapi kemudian berkembang menjadi berbagai macam, karena terjadinya proses penamaan simbol yang berbeda-beda.

Perbedaan simbol ini seringkali dipertengkarkan, akibat orang lupa akan esensinya (“apa yang hendak dirujuk oleh simbol itu”). Jika orang mengetahui esensi dari simbol itu, dan tidak berhenti pada perbedaan simbolnya, maka pandangan orang dapat menjadi sama. Misalnya agama (yang seperti juga bahasa, pada hakikatnya agama adalah sistem simbol).

Perbedaan memang ada pada agama-agama, karena setiap agama mempunyai perbedaan simbol—dalam agama biasa disebut syir`ah atau syarî`ah yang berarti jalan—tetapi sebenarnya pada tingkat esensinya (“pada tingkat transendennya”) adalah sama, yang dalam bahasa Islam disebut “mengajarkan sikap kepasrahan kepada Tuhan” (makna dari islâm itu sendiri). Dalam bahasa Arab sistem yang mengajarkan kepasrahan itu disebut dîn, yaitu ketundukan.

Tidak ada komentar: