24.1.12

KECEMBURUAN

Kecemburuan sebetulnya me­rupa­kan segi kekurangan pada seseorang. Kecemburuan, lebih-lebih yang parah dan disebut iri hati, biasanya diderita oleh kita yang cenderung ingin mencari kambing hitam untuk kekurangan, kelemahan atau kegagalan kita, karena kita sendiri sesungguhnya merasa tidak sanggup mengatasi persoalan kita. Jadi kecemburuan dapat disebut sebagai sikap kita yang kalah sebelum melangkah. Yang mantap kepada diri sendiri biasanya bebas dari iri hati.

Tapi semua itu benar kalau masalah kecemburuan tersebut kita tinjau hanya sebagai masalah pribadi atau kepribadian. Sedang­kan dalam tinjauan sosial, ke­cemburuan yang muncul sebagai gejala umum masyarakat harus dilihat sebagai akibat suatu bentuk tatanan sosial yang tidak wajar, misalnya jika terjadi kesenjangan antara kaya dan miskin yang amat mencolok. Dalam hal ini ke­cemburuan sosial harus dilihat sebagai gejala dan wujud lain dari dorongan jiwa masyarakat untuk menciptakan kembali keseimbang­an sosial, yang secara politik biasa disebut sebagai tuntunan untuk keadilan.

Jika tidak begitu, maka bagaimana kita menerangkan terjadinya revolusi-revolusi se­panjang sejarah umat manusia, baik yang dipimpin oleh para Nabi dan Rasul maupun yang dipelopori oleh para pemimpin non-agama seperti Washington, Thomas Jefferson, Lenin, Mao, Gandhi, Bung Karno, Bung Hatta, Gus Dur dan seterusnya. Semua revolusi itu melaju karena arus deras kecemburuan sosial yang meningkat menjadi protes sosial. Dan revolusi itu biasanya berhasil menumbangkan tatanan yang mapan (establishment), umumnya secara kejam dan tanpa belas kasihan (dalam berbagai analisa ternyata gejolak di Eropa Timur, sungguh ironis, adalah antara lain akibat kemewahan para pemimpin komunis sendiri di tengah kemelaratan rakyat yang mereka perintah).

Oleh karena itu, seperti menjadi inti pesan Presiden kita, dalam melihat kecemburuan sosial itu kira harus berani dengan jujur men­deteksi sebab-sebabnya, hubungan kausalitasnya, letak “biang keladi­nya”. Dan di mana-mana biang keladi kecemburuan sosial ialah kecenderungan hidup mewah sebagian kecil masyarakat di tengah kemiskinan rakyat. Kemewahan yang “halal” pun sudah cukup menjadi pelatuk untuk meledakkan kecemburuan sosial menjadi ke­kacauan sosial; maka apalagi kemewahan yang tidak halal dan tidak legitimate, baik secara sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain, maka kecemburuan itu akan lebih-lebih lagi mudah mendorong terjadinya kekacauan yang besar karena menumpuknya berbagai faktor itu.

Karena kemewahan selalu mengakibatkan malapetaka masya­rakat, maka Kitab Suci menyebut­nya sebagai perbuatan setan, makhluk kejahatan (Q., 17: 27). Lebih dari itu, coba kita renungkan firman suci yang terjemahannya kurang lebih demikian: Dan jika Kami (Allah) menghendaki untuk menghancurkan suatu negeri (sebagai hukuman atas ke-zhâlim-annya), maka Kami biarkan orang-orang yang hidup mewah dalam negeri itu berkuasa, kemudian di sana merekapun bertindak melewati batas, sehingga pastilah turun keputusan (azab) kepada negeri itu, dan kami hancurkanlah dia sehancur-hancurnya (Q., 17: 16).

Tidak ada komentar: