26.12.14

SELAMAT NATAL: PENAFIAN KETUHANAN ISA




Pengucapan "Selamat Natal" sampai saat ini menjadi polemik di kalangan umat Islam yg terus berkelanjutan. Permasalahannya seputar boleh-tidaknya kaum muslim mengucapkannya kepada umat Nasrani. Sebagian ulama ada yang membolehkan, dan sebagian lagi ada yang melarang.
Macam-macam alasan yang melarang pengucapan "Selamat Natal. Mulai dari anggapan menyetujui perayaan Hari Besar kaum Nasrani ini, sampai kepada kekhawatiran terjerumus pada kesyirikan karena sepakat atas ketuhanan Isa putra Maryam. 

Sementara bagi kelompok yang membolehkan pengucapan "Selamat Natal", alasan yang dipakai pun bermacam-macam. Mulai dari pengamalan nilai toleransi antar sesama umat beragama, hingga merelatifkan kata-kata pengucapan tersebut. Kata kelompok ini: apa sih salahnya cuma sekedar mengucapkan?

Buntutnya, kedua kelompok ini pun saling mementahkan alasan masing-masing. Kata kelompok yang melarang: jangan salah, dengan kalimat talak, hubungan suami istri bisa putus; dg kalimat syahadat, non muslim bisa masuk Islam. Maka dengan kata-kata "Selamat Natal", bisa saja umat Islam terjerumus kesyirikan, dan sebagainya, dan seterusnya. Sementara kata kelompok yang membolehkan ucapan Natal, bahwa Islam itu agama yang toleran. Mereka juga beralasan bahwa tidak ada satu pun nas yang melarang pengucapannya. Dan banyak lagi alasan lainnya yang tidak mungkin penulis ketengahkan dalam catatan ini.

Waba'du, dalam catatan ini, penulis mencoba memposisikan masalah di antara dua kubu umat Islam tersebut; setuju dengan alasan kelompok yang melarang, dan juga mengamini hujjah kelompok yang membolehkan. Dengan posisi ini, penulis menerima alasan mereka yang kontra, dan pastinya bangga dengan argumen mereka yang pro sebagai bentuk pengamalan nilai toleransi dalam Islam, khususnya dalam pengucapan "Selamat Natal".

Sebagaimana dalam judul catatan, penulis mempersilahkan, bahkan menganjurkan umat Islam mengucapkan "Selamat Natal". Sepintas, catatan ini nampak mendukung kelompok yang membolehkan pengucapannya, dan bertentangan dengan kelompok lainnya. Dus, catatan ini pun terkesan keberpihakannya kepada kelompok yang membolehkan pengicapan "Selamat Natal". Untuk kelompok yang kontra, sebaiknya anda sabar dulu, dan jangan keburu berpikiran negatif. Alasan yang akan penulis kemukakan justru pada hakekatnya berpihak pada alasan kelompok yang melarang pengicapan tersebut. 

Berikut alasan yang penulis pakai untuk menganjurkan pengucapan "Selamat Natal" bagi umat Islam kepada kaum Nasrani:
Pertama, konsep ketuhanan dalam Islam sangat jelas termaktub di QS: Al-Ikhlas. Disana disebutkan bahwa Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Artinya, sesuatu atau siapa saja yang beranak, atau diperanakkan, maka umat Islam harus tegas menolak sesuatu tersebut sebagai Tuhan.

Kedua, dari makna kata "natal" itu sendiri. Secara bahasa, "natal" berarti kelahiran, dan maksud dari kata "Selamat Natal" adalah "Selamat atas kelahiran Isa". Dari sini jelas, ketika kita mengucapkan "selamat Natal" itu artinya kita meyakini bahwa Isa putra Maryam itu dilahirkan. Tentang benarkah Issa dilahirkan pada tanggal 25 desember, itu lain urusan. Yang jelas, orang yang dilahirkan itu pasti bukan Tuhan. Bukankah konsep ketuhanan dalam surah Ikhlas sudah menegaskan hal ini. Dengan logika ini, penulis justru menyayangkan pelarangan pengucapan "Selamat Natal" oleh umat Islam. Pelarangan ini bisa menimbulkan perspektif bahwa Isa itu memang benar-benar Tuhan yang tidak dilahirkan. Maka, bagi kita yg meyakini kebenaran surah Ikhlas, sepatutnya justru memperbanyak pengucapan "Selamat Natal" kepada umat Kristiani, dengan maksud meyakinkan bahwa Isa itu dilahirkan, dan ini mementahkan konsep ketuhanan Isa.

Dan yang ketiga, alasan penulis menyebarkan anjuran pengucapan "Selamat Natal", adalah agar alasan ini juga dibaca oleh kaum Nasrani dan ujung-ujungnya mereka sendiri akan menolak pengucapan "Selamat Natal" dari umat Islam, atau mereka pun bisa menerima secara logis bahwa memang Isa itu tidak lain hanyalah manusia yang diberikan wahyu oleh Tuhan untuk menjadi Rasul bagi kaumnya. Dan Isa Putra Maryam jelas bukan Tuhan, kan??! Maka, dengan mengucapkan "Selamat Natal", itu artinya kita menegaskan bahwa Isa itu juga manusia karena juga dilahirkan. Inilaha yang penulis maksud dengan judul" "Selamat Natal: Menafikan Ketuhanan Isa".
Wallahu a'lam bissawab...


Tidak ada komentar: