31.5.11

BANGGAKAH ANDA SEBAGAI MUSLIM?

Dia seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Islam kota Malang. Dari penampilannya, nampak bahwa dia seorang muslimah yang taat: berbusana islami, plus berjilbab. Suatu ketika, usai kuliah, seperti biasanya dia menunggu angkutan umum untuk segera pulang dan beistirahat melepas lelah di rumahnya. Siang itu cuaca sangat panas, maka ketika angkutan umum datang, segera saja dia masuk dan duduk sembari langsung membuka kaca jendela mobil. Lumayan, sepoian angin yang masuk dari celah kaca sedikit mengurangi panasnya terik matahari. Asal tahu saja, hampir semua sisi pakaiannya basah karena kucuran keringat. Bisa dibayangkan bagaiana gerahnya mengenakan pakaian serba tertutup. Hanya telapak tangan dan wajah yang terbuka.

Memang, sepanas apapun cuacanya, jika di tempat umum, seorang muslimah diyakininya wajib tetap menutupi aurat badan. Kecuali –seperti disebut tadi– telapak tangan dan wajah. Baginya, berpakaian tertutup rapi dan berjilbab merupakan busana islami. Tanpa berjilbab, apalagi berpakaian you can see, jelas bukan busana islami. Demikian pemahamannya seputar ajaran Islam mengenai penampilan seorang muslimah. Terlebih lagi dia adalah alumni sebuah pesantren, alias santriwati.

Tidak lama setelah dia duduk di dalam angkutan, tiba-tiba masuk sosok wanita yang tak mengenakan jilbab. Pakaian bawah yang dipakai wanita yang baru datang itu berjenis rok sepan,, dan sedikit di atas lutut. Sekilas, nampak bedanya penampilan dua wanita dalam angkutan umum tadi. Yang satu berbusana muslimah, sedang lainnya berpakaian you can see. Orang awam pun bisa menilai mana pakaian yang islami dan mana yang bukan islami. Toh demikian, ada satu hal yang seketika menyentak jiwa si wanita berpenampilan “islami”. Akunya, bagaikan disambar geledek di siang hari ketika dia mendengar ucapan dari sosok wanita yang baru datangg tadi masuk kendaraan. Dengan pelan tapi matap, sang wanita yang berpakaian you can see mengucapkan bismillahirrahmanirrahim sebelum kemudian naik dan masuk ke dalam kendaraan.

Kejadian itu sempat membuatnya sok. Jiwanya bergejolak dan mempertanyakan: “bagaimana mungkin, saya dengan penampilan islami tidak mengucapkan basmalah ketika tadi naik kendaraan, sementara wanita di sebelah saya yang berpakaian tidak islami justru mengucapkan basmalah. Manakah yang lebih islami: berbusna muslimah tapi tidak terbiasa menyebut nama Allah saat beraktifitas, atau berpakaian you can see, namun selalu mengucapkan basmalah setiap kali akan melakukan sesuatu?
***
Kisah di atas adalah contoh dari sekian banyak realita dalam memahami hakekat Islam sebagai ajaran serta tuntunan dalam menjalankan hidup. Kalau boleh dipilah, akan nampak gambaran antara simbol dan makna religiuisitas. Berpenampilan secara islami adalah simbol, sementara pengucapan basmalah setiap kali akan melakukan sesuatu menjadi wujud penghambaan seseorang kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Pertanyaannya, manakah yang lebih utama diantara keduanya? Mana yang seharusnya didahulukan antara simbol, atau hakekat makna beragama? Sebelum dijawab, ada baiknya jika kita merujuk bagaimana al-Qur’an membahas masalah tersebut.

Pesan dan seruan untuk menangkap makna yang ada di balik segi-segi formal dan lahiri adalah konsekuensi dari berbagai penegasan dalam Al-Quran bahwa selain formalitas-formalitas atau simbol-simbol terdapat makna-makna yang lebih hakiki, yang merupakan tujuan sebenarnya hidup keagamaan atau religiusitas. Misalnya formalitas dalam sistem keagamaan Islam, yaitu sentralitas Ka‘bah yang ada di Masjid Haram, Makkah. Sebagai arah menghadapkan diri atau kiblat di waktu shalat, Makkah dengan Masjid Haramnya yang berintikan Ka‘bah adalah penting sekali, sehingga dalam ilmu fiqih disebutkan bahwa shalat seseorang tidak sah jika tidak menghadap kiblat itu. Dan dalam Al-Quran sendiri terdapat perintah agar di mana pun, ketika shalat, kita menghadapkan diri kita ke arah Masjid Haram itu (Q., 2: 144, 149 dan 150). Tetapi juga ditegaskan bahwa Timur dan barat adalah milik Allah. Maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah Wajah Allah (Q., 2: 115).

Lebih jauh lagi, dalam kitab suci ditegaskan sebagai berikut, Bukanlah kebaikan itu ialah bahwa kamu menghadapkan wajah-wajahmu ke arah timur dan barat. Melainkan kebaikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab suci, dan para Nabi. Dan orang yang mendermakan hartanya, betapa pun cintanya (kepada harta itu), untuk keluarga dekat, anak-anak yatim, kaum miskin, orang jalanan, peminta-minta dan dalam usaha pembebasan budak. Dan orang yang menegakkan shalat, membayar zakat. Dan orang-orang yang menepati janji bila mengikat janji, dan tabah dalam kesulitan dan kesusahan, juga di waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang sejati, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (Q., 2: 177).

Dari ketegasan di atas, bisa difaham bahwa simbol atau formalitas saja tidak cukup bagi seorang muslim dalam menjalankan agamanya. Menangkap makna atau pesan yang terkandung dalam formalitas ibadah adalah keniscayaan yang justru lebih utama. Percuma saja seseorang rajin menjalankan ibadah nahdlah, semisal shalat, puasa, haji dan sebagainya; tapi tidak mampu menangkap pesan sosial dari ibadah-ibadah tersebut. Ditegaskan: Maka ceakalahh orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yng lali dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Jelas sekali ayat itu menunjukkan semangat penolakan segi-segi formal dan simbolik sebagai tujuan pada dirinya sendiri. “Menghadapkan wajah ke arah timur dan ke barat”, menurut tafsir al-Thabari yang termasyhur, berdasarkan berbagai riwayat atau hadis, adalah isyarat kepada shalat, sehingga makna firman itu ialah bahwa “kebaikan itu bukanlah shalat semata, melainkan kebaikan itu ialah budi pekerti yang Aku (Allah) terangkan ini kepada sekalian”. Meski demikian, penulis tetap melihat perlunya seorang muslim memperhatikan simbol-simbol keberislamannya. Firman Allah: isyhaduu bi anna muslimun (tunjukkanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam), memperkuat kewajiban kita untuk membanggakan formalitas dan simbol-simbol Islam.

Sebagai gambaran sederhana, perumpamaan uang dan kebutuhan menggunakannya adalah contoh antara simbol dan makna. Dalam perjalanan, misalnya, saat kita lapar ingin membeli makanan, uang menjadi simbol untuk mendapatkan makanan yang kita butuhkan. Makna kebutuhan uang adalah menghilangkan rasa lapar. Tanpa uang, bagaimana mungkin kita membeli makanan? Dari sini jelas di mana pentingnya posisi simbol. Sebagai ajaran, tentunya ada ciri-ciri khusus pembeda antara simbol-simbol Islam dengan ajaran-ajaran lainnya. Menunjukkan perbedaan formalitas seorang muslim dengan nonmuslim adalahh wujud nyata kebanggaan kepada Islam. Jika seorang muslim sudah menyepelekan simbol-simbol Islam, lantas siapa yang akan membanggakannya? Untuk menyikapi kisah di awal tulisan ini, semuanya terpulang kepada kecintaann serta kebanggaan masing-masing individu kepada agamanya. Wallahu a’lam bi alshawab.

26.5.11

JABARIAH VS QADARIAH, LEBIH ISLAMI MANA?

Kaum Mu’tazilah dikenal sebagai kaum rasionalis Islam. Secara teologis, mereka sebetulnya merupakan titisan kaum Khawarij. Ketika Khawarij tampil sebagai gerakan politik, sebetulnya telah ada bibit-bibit teologi yang bermula dari isu pembunuhan Utsman. Sebagai penggantinya, Ali menerima banyak tuntutan untuk menemukan siapa pembunuhya. Tetapi ia tidak bisa, sehingga A’isyah memerangi-nya dan kalah. Suasana Madinah yang sudah tidak mendukung, membuat Ali pindah ke Kufah. Namun di sini Ali menghadapi pe¬nen¬tang lainnya, Mu’awiyah dan terjadilah pertempuran. Akhir dari pertempuran itu adalah sebuah kompromi yang berakibat kekecewaan pada pengikut Ali garis keras.

Mereka yang kecewa ini keluar dari barisan Ali dan menamakan dirinya al-Syûrâ. Tetapi karena mereka keluar (khurûj) dari jamaah, maka kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Khawarij. Khawarij inilah yang mengangkat isu bahwa orang Islam yang melakukan kejahatan (dosa besar) menjadi kafir dan harus dibunuh. Menurut mereka, Utsman memang harus dibunuh karena telah melakukan dosa besar dengan berbuat zalim dalam menjalankan kekhalifahan.

Selama 12 tahun menjadi khalifah, enam tahun pertama dijalani Utsman dengan bagus. Menurut Ibn Taymiyah, yang menjadi masalah enam tahun berikutnya adalah ketika Utsman mulai menunjukan gejala nepotisme. Selain Utsman, yang dituduh zalim dan harus dibunuh adalah Ali; hal ini dikarenakan ia telah membuat kesepakatan dengan Mu’awiyah yang dipandang sudah kafir. Kaum Khawarij berhasil membunuh Ali, tetapi gagal membunuh Mu’awiyah yang telah menjadi raja.

Yang menarik, kenapa kaum Khawarij menyatakan bahwa orang Islam yang berdosa besar itu harus dibunuh. Menurut mereka, manusia diberi kemampuan untuk memilih pekerjaannya sendiri. Kalau ternyata dia memilih berbuat jahat, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Inilah yang disebut Qadariah, paham bahwa manusia itu mampu memilih pekerjaannya sendiri.

Pendapat ini ditentang oleh Bani Umayah dengan mengatakan tidak begitu. Menurut mereka, Utsman tidak boleh dibunuh dan dia tetap Islam karena semua kejahatan yang dilakukannya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Ini yang disebut Jabariah. Qadariah-Jabariah ini menjadi anticode dan merupakan dua faham yang mendominasi Islam waktu itu. Ketika Khawarij sebagai gerakan politik mati, teolo-ginya yang sangat antroposentris, berpusat kepada manusia, menjelma kembali ke dalam Mu’tazilah. Mereka menetapkan segala sesuatu berdasarkan rasio.

Baik Jabariyah maupan Qadariah sebagai teologi mempunyai kelemahan masing-masing. Kalau seluruh pekerjaan itu hasil karya manusia, seperti kata Jabariah, maka itu bisa menjadi ancaman bagi tauhid karena seolah-olah manusia menuhankan kemampuannya sendiri. Tetapi kalau seluruh pekerjaan kita ditentukan oleh Tuhan, seperti kata Qadariah, maka konsep pahala dan dosa menjadi tidak masuk akal; kalau pahala dan dosa merupakan balasan dari perbuatan, maka yang mendapat pahala dan dosa adalah Allah sendiri, bukan manusia.

Di tengah tarik-menarik inilah muncul Asy’ari. Ia sukses menengahi antara ke-duanya. Menurutnya, memang betul bahwa seluruh perbuatan manusia itu buatan Tuhan, tetapi tidak berarti bahwa manusia tidak bertanggungjawab atas perbuatan-nya; perbuatan baik akan mendapat pahala, perbuatan jahat akan mendapat dosa. Dia memperke¬nalkan istilah yang bernama kasb, keputusan pertama ketika melaku-kan sesuatu. Kasb inilah yang menjadi milik manusia, dan karena itu menjadi tempat tanggung jawab manusia. Memang kasb itu rumit, dan karena terlalu menekankan pada ide bahwa seluruh perbutan manusia ditentukan oleh Allah, maka akhirnya kasb tergelincir kepada Jabariah.

Oleh: Nurchalis Majdid

22.5.11

TIDAK IKHLAS = KAFIR

Tidak jarang kita melakukan satu pekerjaan bukan karena nilai intrinsik pekerjaan tersebut, namun ada faktor-faktor lain di luar tindakan itu sendiri. Keinginan untuk dilihat atau didengar menjadi faktor yang bahkan mendominasi dan menjadi pendorong kita untuk melakukan—atau tidak melakukan sesuatu. Dengan kata lian, bisa jadi tidak satu pun dari kita yang berhak menganggap dirinya terlepas dari sifat pamrih, baik yang sum’ah, atau yang riya’.

Konon para ahli jiwa mempunyai cara yang cukup handal untuk mengorek isi hati orang sehingga diketahui apakah orang itu mempunyai rasa pamrih dalam berbagai tindakan­nya atau tidak. Sebab seringkali sesungguhnya Dengan kata lain, kita sebenarnya belum tentu bertindak demi nilai intrinsik tindakan kita, melainkan karena nilai lain yang ada di luar tindakan itu sendiri. Karena itulah kepam­rihan menjadi lawan keikhlasan.

Jika pamrih kita ialah keinginan untuk “dilihat” orang, dalam istilah keagamaannya ialah riyâ’. Dan jika untuk “didengar” orang, misalnya agar nama menjadi terkenal, maka istilahnya itu sum’ah. Kedua-duanya itu adalah sejenis kemunafikan, ka­rena mengandung semangat bahwa kita berbuat tidak untuk tujuan sesungguhnya seperti kita katakan atau kesankan pada orang lain, melainkan untuk tujuan lain yang disembunyikan, yang nilai tujuan itu tidaklah terlalu mulia. Jadi kita tidak tulus dalam amal perbuatan kita.

Oleh karena itu dalam Kitab Suci diisyaratkan bahwa keinginan seseorang untuk mendapat pujian orang lain atas sesuatu yang sebenarnya tidak dia kerjakan adalah suatu bentuk sikap menolak kebenaran (Q., 3: 188). Dan sikap menolak kebenaran itu, sudah kita ketahui bersama, adalah salah satu makna kata-kata kufr. Bahkan karena pamrih itu mengandung arti mengalihkan tujuan hakiki amal-perbuatan kita kepada tujuan yang lain, atau membagi tujuan itu (yang semestinya secara tulus hanya untuk ridlâ Allâh) dengan tujuan selain dari pada-Nya, maka pamrih juga mengandung unsur syirk.

Karena itu dalam sebuah hadis yang terkenal, Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan terjadi padamu sekalian ialah syirik kecil, yaitu pamrih”. Artinya seolah-olah Nabi Saw. hendak menegaskan bahwa mungkin kita tidak lagi akan menyembah berhala, karena sudah jelas kepalsuannya, dan mudah dikontrol. Tapi yang sulit ialah bagaimana berteguh hati dalam tujuan perbuatan kita hanya kepada Allah Swt. demi ridlâ-Nya. Sebab semua orang kiranya merasakan betapa mudahnya—dan tanpa terasa—menyelinap ke dalam lubuk hati kita keinginan untuk dilihat, didengar, dan dipuji orang.

Masalah seseorang mendapat pujian dari orang lain, asalkan secara wajar dan beralasan, tentulah dibenarkan saja. Ini diisyaratkan dalam firman Allah, Katakan (wahai Muhammad): “Bekerjalah kamu semua, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu, begitu juga Rasul-Nya dan seluruh masyarakat kaum beriman” (Q., 9: 105). Dan sesuatu yang akan “dilihat” itu hasil kerja atau prestasi, yang memang akan menjadi inti kualitas seseorang. Dan tidaklah manusia itu mempunyai sesuatu kecuali yang dia usahakan (Q., 53: 39).

Tetapi yang menjadi persoalan ialah jika kita kehilangan kesejatian dan ketulusan dalam amal-perbuatan, karena menyelinap dalam hati kita keinginan mendapat pujian orang lain. Dalam keadaan demikian kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari amal-perbuatan itu. Maka untuk menjadi tulus dan sejati itu kita harus berjuang terus-menerus (mujâhadah) melawan kecende­rungan tidak benar dalam diri kita sendiri. Sebanding dengan kesung­guhan itulah kita insyâ’ Allâh mendapatkan pahala.

16.5.11

SAMBANGAN AL-MUNAWWARIYYAH BERSUJUD


Dengan gaya bahasanya yang khas, Kiai Maftuh mengingatkan para santri yang tahun ini menjadi peserta Ujian Nasional (UN) tentang cakupan makna filosofi kata “santri” yang semestinya difahami bersama. Jika di-Arabkan, kata “santri” akan terurai menjadi cakupan: “s” (sin), “n” (nun), “t” (ta’), “r” (ra’), “y” (ya’). Masing-masing huruf tersebut mengandung makna yang mempertegas keharusan bagi siapa saja yang menyandang predikat “santri”.

Bagi santri dan wali santri PP. Al-Munawwariyyah, hari kunjungan atau yang biasa disebut sambangan kemarin (16/5/11) menjadi sebuah momen yang sangat berkesan. Selain sebagai ajang bersua setelah sekian lamanya tidak saling bertemu antara orang tua dan anaknya yang nyantri di pondok asuhan Kiai Maftuh ini, waktu sambangan kemarin juga menjadi ajang pengumuman kelulusan santri kelas akhir di SMA dan SMK Al-Munawwariyyah.

Ada hal menarik atau mungkin unik dalam pengumuman kelulusan yang langsung disampaikan oleh Pengasuh. Dikatakan unik, karena hal tersebut mungkin sudah langka –untuk tidak mengatakan satu-satunya– dipraktekkan dalam lembaga pendidikan di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, kebiasaan para siswa di seluruh Indonesia beberapa tahun ini, pascapengumuman kelulusan adalah melampiaskan kegembiraan dengan berfoya-foya. Tidak jarang juga mereka mencorat-coret baju sekolah sebagai tanda berakhirnya masa studi di tingkat menengah atas.

Tidak demikian halnya di PP. Al-Munawwariyyah. Para santri kelas akhir dipimpin langsung 0leh pengasuh mensyukuri nikmat kelulusan dengan melakukan sujud syukur jama’i di tengah lapangan yang juga disaksikan banyak wali santri lainnya. Tidak sedikit juga para orang tua yang anaknya dinyatakan lulus ikut bersujud secara spontan. Menyaksikan kejadian tersebut, suasana PP. Al-Munawwariyyah kala itu nampak hening. Nuansa kekhidmatan sangat kental terasa. Hampir semua yang bersujud berisak tangis sembari meneteskan air mata kebahagiaan.

Nasehat Khusus Kiai

Kepada para santri yang sudah dinyatakan lulus, Kiai Maftuh mengingatkan, bahwa kelulusan ini tidak lain adalah karunia nikmat yang wajib disyukuri. Satu kewajiban yang tidak boleh hanya dipandang sebelah mata. Terlebih posisi para siswa SMA/SMK yang juga tercatat sebagai santri sebuah lembaga pendidikan Islam: selain siswa, mereka juga adalah santri.

Dengan gaya bahasanya yang khas, Kiai Maftuh mengingatkan mereka cakupan makna filosofi kata “santri” yang semestinya difahami bersama. Jika di-Arabkan, kata “santri” akan terurai menjadi cakupan: “s” (sin), “n” (nun), “t” (ta’), “r” (ra’), “y” (ya’). Masing-masing huruf tersebut mengandung makna yang mempertegas keharusan bagi siapa saja yang menyandang predikat “santri”.

Pertama, sin, huruf ini mengandung pengertian salikun ila al-akhirah (orang yang berjalan menuju akhirat). Seorang santri harus menjadikan akhirat sebagai tujuan utama segala aktifitasnya. Pengertian ini tidak lantas menafikan masalah duniawi. Akhirat sebagai tujuan akhir dimaksudkan agar semua urusan harus berorientasi akhirat. Bukan sebaliknya. Pada kenyataannya, tidak jarang kita saksikan urusan-urusan “akhirat” sering direduksi menjadi urusan duniawi. Beribadah mahdlah ingin dipuji, berceramah agar dibilang alim, adalah hal-hal “akhirat” yang diduniawikan. Kenyataan tersebut yang harus dihindari seorang santri.

Kedua, nun, huruf ini berkepanjangan kalimat: naibun ‘an asy-syaikh (pengganti atau wakil kiai). Kiai adalah sebuah julukan non-formal yang diberikan langsung oleh masyarakat kepada seseorang yang dianggap pantas menyandangnya. Kata kiai, secara kebahasaan sepadan dengan syaikh dalam bahasa Arab, sama dengan grand master dalam bahasa Inggris, suhu dalam bahasa Cina, dan mungkin masih banyak lagi padanan kata kiai dalam versi bahasa asing lainnya. Lebih spesifik lagi, jika kiai biasa dikenal di daerah Jawa, maka daerah lain di Indonesia mempunyai istilah yang berbeda. Orang Lombok punya istilah tuan guru, orang Padang punya istilah buya. Intinya, semua istilah tersebut diberikan kepada sosok yang pandai dalam bidang agama, arif, bersahaja, dan pastinya tingkah laku dan pembicaraannya penuh hikmah. Sikap dan kepribadian itu sekaligus menjadi prasyarat seseorang berhak disebut sebagai kiai. Dari sini jelas, sebutan kiai tidak bias direkayasa oleh seseorang, kelompok, termasuk juga media.

Dengan pengertian ini, seorang santri selayaknya menjadikan kiai sebagai tokoh idolanya. Pada titik inilah, maksud ungkapan “pengganti kiai” dimengerti. Tingkah laku, sikap, dan perkataan santri harus meniru sosok kiai yang arif, bijaksana, santun dan berakhlak mulia. Hal ini bukan berarti seorang santri harus menjadi kiai. Boleh saja seorang santri bercita-cita menjadi bisnisman, politikus, pejabat, dokter, dan banyak profesi lainnya. Toh demikian, ia tetap harus melandaskan semua profesi pilihannya dengan kepribadian kiai. Harapannya, akan muncul bisnismen yang sntri, aparat yang santri, politikus yang santri, pejabat yang santri, dan begitu seterusnya.

Selanjutnya, yang ketiga adalah huruf ta’, yakni: tariku al-ma’asyi (orang yang meninggalkan maksiat); ra’: ragibun fi al-khair (mencintai kebaikan); dan ya’: yarju rahmata Rabbihi (mengharap rahmat Allah). Semua ungkapan tersebut senyatanya menjadi satu kesatuan sikap yang harus dimiliki oleh setiap santri. Santri harus meninggalkan, bahkan membenci perbuatan maksiat, dan sebaliknya mencintai dan selalu mengerjakan hal-hal positif (al-khair). Dua sikap itu senyatanya menjadi pengejawantahan sikap taqwa. Dengan landasan sikap-sikap tersebut, harapan utama santri dalam kehidupannya adalah mengharap rahmat dan keridoan Allah SWT.

Demikian beberapa inti nasehat Kiai Maftuh selaku pengasuh PP. Al-Munawwariyyah sebelum secara resmi mengumumkan kelulusan siswa/siswi kelas akhir SMA dan SMK Al-Munawwariyyah yang dikepalai Amiruddin Badri dan Moh. Basjori.

Akhirnya, selamat atas keberhasilan dua lembaga ini. Selamat bagi SMA yang berhasil mengantarkan siswa/siswinya lulus dengan predikat 100 persen. Selamat juga bagi SMK al-Munawwariyyah atas keberhasilan perdananya meluluskan peserta didiknya. Jazakumullah khairan katsira. Good luck….!