28.4.10

MENYOAL DIKOTOMI ILMU PENGETAHUAN

Saya sampai pada kesimpulan, agama adalah satu kesatuan yang meliputi etika, budaya, kecendrungan, serta sikap yang bersumber dari guidence-idealist, panduan ideal untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Pengertian agama dan keberagamaan tidak menyempit pada laku ritual belaka, namun pastinya mencakup semua aspek hidup. Seluas apapun bidang kehidupan seseorang, dengan ketaatannya, maka seluas itu pula agama bisa diejahwantahkannya.

Ritualitas agama tidak lain menjadi pondasi awal sebuah bangunan keberagamaan seorang hamba. Karena hanya pondasi –tanpa mengkerdilkan urgensitas praktek ubudiyah– pelaksanaan ibadah ritual masih belum bisa dipandang sebagai ketaatan utuh hamba dalam beragama. Sebuah bangunan akan nampak jelas seiring kelengkapan bentuk yang menjadi corak bangunan tersebut. Etika, kecendrungan serta sikap inilah yang “melengkapi” keberagamaan seseorang. Apapun agamanya.

Dengan pemahaman di atas, penulis lantas mempertanyakan pemilahan ilmu pengetahuan yang berkembang di masyarakat: ada ilmu agama, juga ilmu umum (non-agama). Pemahaman yang berkembang, ilmu agama adalah pengetahuan yang berhubungan langsung dengan ritualitas beragama. Sementara yang tidak langsung berhuungan, dikata ilmu umum. Ilmu fisika, matemtika, biologi, ekonomi, kimia, arsitektur, kedokteran dan sejenisnya adalah contoh ilmu non-agama. Benarkah? Mari kita bangun sebuah asumsi dengan beberapa contoh kasus berikut.

Seperti halnya masalah pada umumnya, pemahaman keberagamaan seperti ini pun menjadi objek perdebatan antara yang pro dan kontra. Toh demikian, sejauh pengamatan penulis, sumber perselisihan bisa dipetakan timbul dari perbedaan sudut pandang makna agama, serta efek langsungnya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada baiknya penulis ketengahkan sebuah pertanyaan yang bisa menjadi contoh bahwa semua ilmu bisa menjadi ilmu agama. Ada pertanyaan: “Apa kaitannya antara ilmu otomotif dengan agama?” Sepintas, nampak keluguan dari pertanyaan ini. Namun tidak menutup kemungkinan itu menjadi pertanda ketidak-setujuan penanya pada pemahaman penulis tentang agama, termasuk persepsi menyamakan semua ilmu.

Sebagai jawaban, penulis lantas memaparkan pengalaman yang baru beberapa waktu lalu terjadi, karenanya masih sangat segar dalam ingatan. Suatu ketika penulis berangkat ke sebuah kampus tempat mengajar. Tiba-tiba, di tengah perjalanan, mobil penulis mogok. Sesuai jadwal, beberapa saat lagi penulis harus mengawasi Ujian Tengah Semester (UTS).

Penulis berasumsi, para mahasiswa tidak mungkin mau tahu alasan keterlambatan penulis masuk ke ruang ujian. Namun, untung saja ada kawan yang pandai otomotif, bisa segera datang dan membantu memperbaiki mobil mogok tadi. Maka, selamatlah penulis dari anggapan sebagai dosen yang tidak konsisten waktu.

Bukankah agama (Islam) menyuruh umatnya menjadi sosok yang bisa dipercaya, amanah dan sebagainya. Dengan kemampuan otomotif, kekhawatiran diasumsikan sebagai sosok yang tidak amanah bisa ditepis. Bukankah, "ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib" ? Kemampuan otomotif adalah perantara mensukseskan kewajiban sebagai sosok yg beragama.

Jika ada yang bertanya: dimana letak kewajiban sebagai sosok beragama dlam contoh tersebut? Berkepribadian amanah, bisa dipercaya adalah satu dari sekian kawajiban seorang muslim. Artinya, muslim tidk boleh berkepribadian munafiq. Gampangnya, bersifat munafiq hukumnya haram; bersikap amanah adalah wajib.

Masih dalam kapasitas sebagai perantara, ilmu-ilmu eksaks juga tidak kalah pentingnya untuk dikatagorikan sebagai ilmu agama. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menjalankan perintah Allah agar memikirkan bagaimana penciptaan langit dan bumi, jika tidak mnggunakan ilmu-ilmu astronomi dan fisika?; bagaimana mungkin juga seorang muslim mau merenungkan proses penciptaan makhluk hidup, untuk semakin menguatkan keimanannya, kalauu tidak dengan biologi? Tidak mungkin kan!

Pada ranah inilah penulis ingin memastikan bahwa semua ilmu pengetahuan masuk katagori ilmu agama, bahkan "ilmu maling" sekalipun, selama dufungsikan sebagai mediasi perantara mendekatkan diri pada Rabb. Sebaliknya, ilmu yang saklek agamis akan bernilai non-agamis, bahkan mudillun, menyesatkan jika tidak bisa mengantar pemiliknya untuk semakin mendekati-Nya. Wallahu a’lam bi alshawab.

3.4.10

JIKA TUHAN MERASA BINGUNG

Pada pertengahan tahun 2025 M, ada seorang intelejen yang berhasil menyelusup masuk ke singgasana kerajaan langit. Kepada hampir semua massmedia, sang intel melaporkan hasil intaiannya di sekitar kawasan Tuhan dan para ajudan-Nya. Sontak saja, semua media massa menjadikan berita curian dari langit itu sebagai headline-news.
Dengan kecanggihan tekhnologi informasi, dalam sehari saja, berita langit itu menyebar dan dimaklumi oleh umat manusia. Berita bisa dibaca di koran-koran harian, majalah, Tabloid, TV, juga melalui Fb dengan versi tercanggihnya.

Saat itu, nampak jelas kekompakan umat manusia seantero bumi menanggapi kabar tersebut. Meski kenyataannya anak cucu Adam ini selalu berbeda-beda pada banyak aspek kehidupan. Berbeda bahasa, ras, budaya, politik, kecendrungan, termasuk juga pandangn; namun untuk menanggapi pemberitaan tersebut, semuanya bisa kompak bersatu atas nama ‘Persatuan Manusia’. Saat itulah, untuk pertama kalinya manusia mampu menyamakan "missi", bisa se-iya dan se-kata, sejak pertama penciptaannya, beribu-ribu tahun lalu.
Bagi anda yang tidak yakin akan hidup sampai tahun 2025, dengan senang hati akan saya sertakan kabar tersebut dalam catatan berikut ini. Perhatikanlah dan renungkan..!
***

Dilaporkan, Tuhan sedang bingung memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu manusia yang selalu banyak permintaan dan tuntutan. Di tengah kebingungan itu, Tuhan memanggil empat malaikat terbaiknya dan bertanya bagaimana caranya agar tidak ditemukan oleh manusia.

Malaikat pertama berkata: ''Tuhanku, kenapa Engkau tidak pergi saja ke sebuah gunung yang tinggi di mana orang-orang belum tahu bahkan tidak berani ke sana, di sana Engkau bisa santai dan tidak diganggu oleh umat manusia. Misalnya gunung Himalaya atau Jaya Wijaya, Tuhanku.''

Tuhan Pun menjawab: ''Itu dulu! Sekarang mereka telah mampu mendaki gunung-gunung tertinggi di mana pun termasuk Himalaya. Pasti ketahuan juga kalau aku bersembunyi di puncak gunung. Manusia adalah makhluk pemberani dan nekat!.”
Lantas, malaikat kedua berkata: ''Kenapa Tuhan tidak coba pergi ke dasar laut? Pasti manusia tidak bisa masuk untuk waktu lama ke dasar lautan, bukankah meraka makhluk daratan.?!''
Tuhan menjawab: ''Kalau dulu, mungkin. Sekarang, tidak lagi. Sekarang manusia sudah sangat pintar. Mereka sudah bisa ciptakan alat selam tercanggih. Mereka pasti temukan Aku, meski ke dasar lautan paling dalam pun.''

Lantas Tuhan berjalan mondar-mandir sambil terlihat bingung, dimintalah pendapat malaikat ketiga, ''Bagaimana menurutmu hai malaikat?'' Sang malaikat menjawab, ''Ah...kenapa Tuhan tidak coba pergi ke planet antariksa, di mana manusia jelas-jelas tidak bisa sampai ke sana?''
Lagi-lagi Tuhan menjawab, ''Itu dulu, itu dulu, sekali lagi itu dulu, wahai para malaikatku. Sekarang mereka sudah sangat cerdas. Mereka ciptakan tekhnologi; ciptakan pesawat yang mampu menembus langit dan menuju planet-planet antariksa. Manusia sudah sangat canggih. Dengan akal dan ambisi mereka, Aku pasti ketahuan.''

Tuhan nampak semakin bingung. Pada saat ituah, malaikat terakhir berkata: ''Tuhanku, ada satu tempat yang tidak bisa dijamah manusia, dengan ambisi dan akal; sepintar apapun mereka. Suatu tempat yang sebenarnya dekat sekali dengan manusia; bukan di gunung, atau dasar laut, bukan di planet, bukan juga di tempat-tempat yang jauh; tapi justru tempat yang sangat dekat dengan manusia''

Tuhan pun penasaran dan berkata: ''Di mana tempat itu, wahai malaikatku?'' Lantas dijawab: ''Di hati manusia sendiri, Tuhanku. Mereka tidak akan pernah bisa sampai kepada Engkau wahai Tuhanku, jika hanya dengan ambisi, nafsu bahkan penalaran akal. Hanya manusia yang pandai menggunakan hati sajalah yang bisa menjumpai Engkau. Kalau sudah menggunakan hati nurani, manusia tidak akan minta macam-macam'' Tuhan pun mangguk-mangguk tanda setuju usulan malaikat terahir ini.

Maka sejak saat itu, konon Tuhan bersemayam di hati setiap hamba-Nya. Tuhan lantas menjadikan setiap manusia yang bisa menyelami hati nuraninya sebagai kekasih yang selalu dimanja. Jangankan meminta atau menuntut, ada keinginan yang terbersit saja di hati kekasih Tuhan, spontan akan diijabahi. Mau jadi kekasih Tuhan?

21.2.10

Plagiat Oleh Profesor*



Membaca berita tentang adanya profesor yang melakukan plagiat, rasanya sangat sedih dan menjengkelkan. Bagaimana seorang profesor yang sehari-hari mengajari para mahasiswanya agar rajin meneliti, menulis, dan atau membuat karya ilmiah, ternyata masih berani berbohong, dengan cara mengambil tulisan orang lain sebagai miliknya. Lebih menjengkelkan lagi, menurut berita itu, tulisan yang diambil adalah milik sarjana strata satu.

Peristiwa itu sangat memalukan baik terhadap sesama guru besar, lembaga pendidikan tinggi di mana ia bekerja, dan tidak terkecuali adalah dunia pendidikan tinggi pada umumnya. Seorang guru besar yang semesinya selalu bersikap obyektif, jujur, disipin, menjaga integritasnya sebagai seorang ilmuwan ternyta masih melaggar norma akademik yang sedemikian jauh. Melakukan plagiat adalah merupakan kejahatan akademik yang luar biasa, sehingga mestinya tidak boleh yang bersangkutan dipercaya lagi sebagai seorang guru besar.

Berita itu seolah-olah melengkapi carut marut bangsa ini. Berita-berita buruk tentang korupsi yang melibatkan berbagai kalangan, baik birokrasi pemerintahan, wakil rakyat, lembaga peradilan, BUMN dan lain-lain ternyata masih ditambah dengan penyimpangan keterlaluan yang dilakukan justru oleh orang yang dianggap paling memiliki integritas, karena yang bersangkutan bekerja di ranah pengemban ilmu pengetahuan, intelektual, dan moral.

Sebenarnya perguruan tinggi akhir-akhir ini dianggap sebagai beteng terakhir dalam menjaga moral, etika, dan kejujuran. Tetapi ternyata banteng itu, dengan terkuaknya peristiwa yang memalukan tersebut, telah jebol berantakan. Bisa jadi dengan kejadian itu, semua bangunan idealisme yang selama ini dircaya menjadi runtuh. Apalagi kalau kemudian orang mengatakan bahwa peristiwa itu bagaikaa gunung es. Artinya sedikit yang tampak itu dipercayai sebagai gambaran dari sekian banyak yang belum kelihatan.

Apa salahnya, jika mau, sebagai seorang profesor menyediakan waktu setengah jam saja secara istiqomah untuk menulis sebagai upaya mengekpresikan pikiran, pandangan, dan pendapatnya. Bagi seorang profesor sesungguhnya melakukan pekerjaan seperti itu jelas tidak sulit, apalagi sudah terbiasa dilakukan. Seseorang hingga mendapatkan gelar guru besar, semestinya sudah melewati sebuah proses panjang, melakukan kegiatan akademik, penelitian, dan juga penulisan karya ilmiah. Oleh sebab itu, cara kerja konyol dengan melakukan plagiat, rasanya tidak masuk di akal sehat.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, akan melakukan seleksi yang semakin ketat terhap persyaratan seseorang yang akan ditetapkan sebagai guru besar. Di zaman seperti sekarang ini menyelesaikan pekerjaan menyeleksi karya-karya ilmiah tersebut tidak akan mudah dilakukan. Sebab betapa banyaknya jumlah dan jenis karya ilmiah yang telah ditulis oleh orang di perguruan tinggi yang sedemikian banyak jumlahnya. Apalagi petugas penyeleksi itu jumlahnya masih terbatas.

Saya rasa, melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan betapa pentingnya sikap jujur, obyektif, dan terbuka, kiranya lebih penting sebagai penyempurna dari upaya menseleksi yang lebih ketat itu. Namun yang perlu diperhatikan, ialah bahwa jangan sampaii orang yang telah jujur, obyektif, dan produktiif menjadi terugikan oleh peristiwa itu, sehingga kenaikan jabatannya terhambat. Kejahatan seseorang tidak boleh terlalu jauh merugikan bagi orang-orang yang telah berdedikasi tinggi dan berbuat sebaik-baiknya dalam melakukan pengabdian.

Salah satu cara untuk melakukan control terhadap aktivitas akademik para dosen di semua perguruan tinggi, sesungguhnya bisa ditempuh dengan memanfaatkan fasilitas modern seperti website. Seluruh dosen, misalnya harus memiliki website dan setiap tulisan mereka harus dimasukkan pada fasilitas itu. Tulisan-tulisan dosen dan juga guru besar bisa diakses oleh siapapun melalui alamat atau fasilitas website itu secara terbuka. Bahkan seorang dosen yang sudah pada waktunya naik pangkat, termasuk ke jenjang guru besar, bisa dilihat dan diketahui dari website mereka masing-masing. Melalui fasilitas ini pula seorang dosen dalam waktu tertentu bisa diketahui, berapa buah hasil penelitian, artikel, dan karya-karya lain yang telah dibuatnya.

Belajar dari kasus ini, sesungguhnya ada hal yang lebih mendasar lagi untuk segera dipahami dan diperhatikan oleh para pimpinan bangsa ini. Yaitu bahwa ternyata kebohongan, kepalsuan, kepura-puraan, ketidak-jujuran, dan sejenisnya sudah terlalu menggurita, masuk di relung-relung terdalam dari kehidupan bangsa ini. Seorang profesor saja sudah memplagiat skripsi mahasiswanya yang masih bertaraf S1, menunjukkan hal yang sangat keterlaluan. Kejadian itu sudah menunjukkan sebuah gambaran yang terlalu dan sangat memprihatinkan.

Oleh karena itu, menurut hemat saya sudah waktunya para pemimpin bangsa ini berteriak keras, mengajak seluruh elemen dan lapisan masyarakat, segera kembali kepada kepribadian bangsa yang luhur dan agung. Mengikuti istilah yang pernah dikembangkan oleh NU dalam muktamarnya di Situbondo pada tahun 1984, yaitu kembali ke khithoh 1926, maka bangsa ini perlu segera kembali secara bersama-sama, tanpa terkecuali, kepada semangat kemerdekaan 1945. Jika tidak segera dilakukan dan menjadi terlambat, bangsa ini akan semakin terpuruk. Wallahu a’lam.

* Oleh: Prof. Imam Suprayogo

13.2.10

Kejujuran Itu Sedemikian Mahal

Umpama semua pejabat Bank itu jujur, maka tidak akan ada pekerjaan yang sedemikian sulit dan panjang menyelesaikan kasus-kasus penyimpangan. Bank Century tidak akan menjadi berita besar dan memakan waktu berbulan-bulan menyelesaikannya jika di lembaga keuangan dan pejabat yang terkait dengan itu jujur semua. Umpama pejabat bank itu jujur, maka juga tidak akan ada orang yang banyak memiliki uang itu, sampai masuk penjara. Umpama para pejabat di berbagai level itu telah dipercaya kejujurannya, maka DPR juga tidak perlu membentuk panitia khusus hak angket yang harus bersidang berlama-lama. Demikian pula, para aktivis tidak perlu berdemonstrasi, dengan penampilan dan mengeluarkan kata-kata semaunya.

Umpama kepolisian, kejaksanaan, kehakiman, DPR, pimpinan BUMN, dan semua pejabat pemerintah bersifat jujur semua, maka tidak perlu lahir Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain itu, manakala kejujuran bisa dijaga, maka para pejabat akan berwibawa di mata rakyat. Bermilyard-milyard uang negara, yang seharusnya digunakan untuk membiayai proyek-proyek kepentingan rakyat menjadi terselamatkan. Umpama kejujuran itu bisa dijalankan oleh siapapun di negeri ini maka bangsa ini telah lama meraih kejayaannya.

Umpama para pejabat pemerintah setelah mengucapkan sumpah jabatan sesuai dengan agamanya masing-masing konsisten dengan sumpahnya itu, maka juga tidak akan terjadi saling curiga mencurigai, saling menduga-duga, membuat pengawasan yang ketat, yang semuanya itu sesungguhnya berbiaya mahal. Orang yang saling mencurigai di antara sesame tidak akan menjadikan hidupnya tenteram. Akibat lainnya, hubungan silaturrahmi menjadi kendor, dan akhirnya pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Contoh kecil lainnya, tetapi cukup aktual, bahwa Ujian Nasional (UN) tidak akan memerlukan sekian banyak pengawas, termasuk harus melibatkan kalangan perguruan tinggi, jika pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ujian itu dipercaya kejujurannya. Rasanya aneh, sebatas ujian nasional saja harus menggerakkan sedemikian banyak orang dengan biaya milyardan rupiah. Namun hal itu harus dilakukan, karena ditengarai bahwa di lembaga pelatihan orang jujur itu pun ternyata juga belum berhasil sepenuhnya ditegakkan kejujura. Sungguh sangat aneh, lembaga pendidikan pun masih harus dicurigai, karena ditengarai belum mampu menegakkan kejujuran.

Akan tetapi, memang begitulah keadaannya, di mana-mana masih banyak penyimpangan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Undang-undang, peraturan, tata tertib, pedoman, himbauan masih diabaikan begitu saja. Banyak orang tidak jujur agar pekerjaannya dapat diselesaikan lebih mudah, cepat, beruntung besar, atau berhasil apa yang dimaui sekalipun tanpa syarat-syarat yang dianggap berat dan menyulitkan. Orang juga melakukan apa saja yang diinginkan agar mendapatkan sesuatu atau beruntung besar sekalipun harus melanggar etika kejujuran. Semua itu karena kejujuran belum bisa dimiliki oleh para pemimpin, pejabat, dan banyak orang lainnya.

Sebagai akibat minimnya kejujuran itu, maka betapa besar jumlah pemborosan yang harus dikorbankan oleh negara, baik berupa pikiran, tenaga, uang, dan kekayaan lainnya. Bermilyard-milyard dan bahkan triliyunan rupiah uang rakyat hilang percuma gara-gara pemegang amanah tidak jujur. Selain itu, berapa banyak para pejabat sebagai orang penting, terhormat, dan pilihan di antara sekian banyak lainnya, ternyata harus masuk penjara, karena tidak jujur itu. Itu semua menggambarkan dan sekaligus mengingatkan bahwa menjadi pintar adalah penting, tetapi kepintaran itu harus diikuti oleh kejujuran.

Tidak bisa dibayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mendidik orang-orang hingga menjadi pintar, dan akhirnya dipilih dan diangkat menjadi pejabat tinggi itu. Orang-orang cerdas, pintar, dan unggul kemudian diangkat menjadi pejabat tinggi itu sesungguhnya adalah merupakan kekayaan bangsa ini. Mengantarkan orang menjadi cerdas, pintar dan unggul juga bukan pekerjaan mudah. Diperlukan pendidikan yang berkualitas dan guru yang hebat. Namun orang cerdas, pintar, dan unggul itu tidak akan bermakna apa-apa, jika yang bersangkutan tidak jujur. Pada saat sekarang ini bukti tentang hal itu sudah sekian banyak. Banyak orang disebut cerdas, pintar, dan unggul tetapi karena minus kejujuran, maka hanya menjadi bagaikan sampah, mereka dimasukkan ke penjara.

Kejujuran ternyata memang sangat mahal dan penting. Dengan kejujuran maka kerugian apapun bisa dihindari. Berteman dengan orang jujur akan menjadi tenang dan aman. Begitu pula, jika sebuah komunitas, kantor, organisasi, institusi dan bahkan negara, dipimpin orang jujur maka akan merasa aman dan tidak akan ada yang dirugikan. Namun sayangnya, kejujuran belum dijadikan tema besar sebagai sesuatu yang mendesak dan penting untuk diperjuangkan. Lembaga pendidikan pun pada kenyataannya baru mengedepankan betapa pentingnya kepintaran dan kecerdasan, belum terlalu memperhatikan betapa pentingnya aspek kejujuran lebih dikedepankan.

Contoh agung dan mulia yaitu Nabi Muhammad saw., sejak kecil dikenal sebagai orang yang amat jujur, dan sama sekali tidak pernah berbohong, hingga oleh semua anggota masyarakat lingkungannya, ia diberi gelar al- Amien. Melalui contoh itu, maka seharusnya kejujuran bagi siapapun, apalagi orang yang menduduki posisi pemimpin, harus dijadikan syarat utama. Artinya, siapapun tidak boleh menjadi pemimpin, jika tidak diketahui benar sebagai orang jujur. Begitu pula lembaga pendidikan tingkat apapun, mestinya tidak boleh meluluskan seseorang, jika yang bersangkutan belum berhasil menampakkan kejujurannya. Kejujuran,------- karena mahalnya itu, harus diletakkan pada posisi utama dan pertama. Wallau a’lam

Oleh: Prof. Imam Suprayogo