18.4.11

NABI ISA DALAM AL-QUR'AN

Nabi Isa adalah satu dari sekian Rasulullah yang sangat dimuliakan dalam Islam. Nama beliau disebut tidak kurang dari 25 kali. Ada empat sebutan dalam al-Qur’an yang maksudnya tertuju kepada nabi pembawa kita Injil ini, yakni: Isa, Isa putera Mariam, putera Mariam, dan al-Masih. Nama “Isa” sendiri sebenarnya adalah nama yang langsung diberikan oleh Allah SWT. Dalam al-Qur’an, surat Ali Imran: 45 tercatat:

إِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ {45}

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)

Sepintas saja, kita bisa faham, betapa Allah sangat memuliakan Nabi Isa dengan keanehan-keanehan yang tidak diberikan kepada manusia lainnya, alias mu’jizat khusus Nabi Isa. Keanehan tersebut bahkan sudah tampak sebelum beliau terlahir ke muka bumi. Jika seluruh Manusia –kecuali Adam dan Hawa- terlahir dengan satu perantaraan kedua orang tua; melalui ayah dan ibu, maka nabi Isa terlahir cukup dengan kalimat “kun” (jadilah) seperti maksud ayat di atas.

Keanehan nabi Isa lainnya adalah kemampuannya berbicara saat masih bayi dalam gendongan. Seperti ayat selanjutnya:

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَمِنَ الصَّالِحِينَ {46}

“dan dia berbicara dengan manusia saat dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh."

Sungguh pun saat ini kita melihat bahwa kelahiran seorang Isa tanpa ayah adalah sebuah mu’jizat, namun tidak demikian halnya ketika Ibunda nabi Isa, Maryam baru saja melahirkannya. Cemoohan, gunjingan serta hinaan dari masyarakat sekitar tidak bisa dihindari. Mereka berkata: "…Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. (Maryam:27) Mereka menilai kalau Maryam telah merusak citra masyarakat waktu itu. Dan khususnya, ia dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya. Termaktub dalam al-Qur’an:Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina" Cacian dan hinaan dari penduduk kepada Mariam masing-masing termaktub pada surat Mariam ayat 27 dan 28.

Mendapat tuduhan tersebut, Mariyam pun membantah seraya mempersilahkan mereka bertanya langsung kepada bayinya yang sedang ia gendong. Mendapatkan tawaran seperti itu, para penduduk lantas tertawa sembari mencibir, lalu berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

Seketika itu juga, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui Isa yang masih bayi dalam buaian. Dalam al-Qur’an, ucapan-ucapan Nabi Isa saat dalam buaian itu terekam di surat Maryam ayat 30-33:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللهِ ءَاتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا {30}

Berkatalah Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi” selanjutnya...

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَاكُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ مَادُمْتُ حَيًّا {31}

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”. kemudian...

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا {32}

dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Lalu...

وَالسَّلاَمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا {33}

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."

Demikianlah sedikit potret bagaimana al-Qur’an mengisahkan nabi Isa bersama Ibunya Maryam sebagai hamba-hamba pilihan Allah SWT. Maka wajiblah bagi kita umat Islam untuk juga memuliakan kedua hamba Allah ini. Melalui Nabi Isa, Allah menurunkan kitab Injil sebagai tuntunan bagi kaumnya. Satu ajaran yang meneruskan isi kandungan kitab Taurat. Pengikut kedua ajaran ini disebut umat Yahudi dan Nasrani.

Sebagaimana kita yakini bersama, Islam sebagai satu ajaran, tuntunan, bahkan agama, adalah keberlanjutan dari agama-gama samawi sebelumnya. Risalah yang diemban Nabi Muhammad SAW, adalah satu risalah penyempurna risalah-risalah sebelumnya. Al-Qur’an menjelaskan agama-gama Samawi tersebut dengan istilah Millah Ibrahim (ajaran Nabi Ibrahim). Terbilang mulai Ajaran Yahudi, Nasrani, dan Islam sendiri. Secara teologis-historis, ketiga agama ini berasal dari satu rumpun: yakni ajaran ketuhanan Nabi Ibrahim as. Ketiganya memuat ajaran yang serupa namun tak sama. Konteks ruang dan waktu menjadi sebab utama perbedaan ketiganya. Sebagai ajaran, ketiga agama ini sama-sama memuat sisi teologi atau hablun minallah, dan sisi kemanusiaan atau hablun minannas.

Bagi Umat Islam, polemik utama dengan Yahudi bukanlah masalah teologi, melainkan masalah kemanusian. Mereka angkuh, sombong, hingga mengklaim sebagai the choosen people (umat pilihan Tuhan). Sebaliknya, polemik kita dengan Nasrani mengarah pada aspek teologinya, bukan kemanusiaannya. Tentang ajaran kemanusiaan Nasrani, al-Qur'an justru memuji. Ajaran kemanusiaan di Injil sangat mengedepankan kasih sayang.

Mengenai polemik ketuhanan umat Nasrani ini, Nabi Isa ditegor langsung oleh Allah: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk (mengatakannya).

Nabi Isa juga menegaskan, seperti terekam dalam surat al-Maidah ayat 17:

مَاقُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَآأَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمُ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ {117}

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (untuk mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.

14.4.11

Tema Disertasiku

TELAAH PEMBELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK PEMAHAMAN AL-QUR’AN BAGI NON-ARAB: ANALISIS NAHWU IMAM SIBAWAIH

(الإطلاع على تعليم اللغة العربية لفهم القرآن لغير العرب: تحليل النحو لإمام السيبويه)

Oleh: Zulfan Syahasnyah

Sebagai muslim non-Arab yang berkonsentrasi pada kuliah Pembelajaran Bahasa Arab (PBA), tema penelitian di atas senyatanya merupakan kesatuan rangkuman aspek-aspek mendasar berupa kewajiban, keinginan, juga mungkin kelayakan bagi peneliti. Dipandang sebagai kewajiban, karena penelitian ini berusaha memaparkan kembali tujuan utama pembelajaran bahasa Arab bagi kalangan non-Arab: yakni upaya memahami al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam. Dari sini saja, kiranya kita mafhum jika ada asumsi bahwa Islam sebagai agama identik dengan bahasa Arab. Sebab keseluruhan ajaran Islam terangkum dalam al-Qur’an dan hadis nabawi yang berbahasa Arab. Bukankah setiap muslim diwajibkan memahami ajaran agamanya secara benar? Maka kewajiban memahami ajaran Islam berdampak pada kewajiban memahami bahasa Arab, sebagai mediasinya, meski hanya bersifat reseptif. Sebuah kaidah fiqih menjelaskan: “ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib” (sesuatu yang tanpanya tidak terlaksana satu kewajiban, maka sesuatu itu pun juga wajib)

Selain sebagai kewajiban, tugas penelitian ini juga pada hakekatnya menjadi bagai sebuah ajang pencapaian hasrat yang sekian lama mengendap. Sejujurnya, sejak usia dini, tepatnya saat peneliti mulai mengenal bahasa Arab sebagai satu materi pembelajaran, khususnya sub materi PBA yang berkaitan dengan gramatika, peneliti sudah “akrab” dengan nama-nama ulama yang identik dengan kajian bahasa Arab. Di antara sekian nama tersebut, yang paling masyhur bagi umat Islam di Indonesia pada umumnya adalah Ibnu Malik dengan kitabnya Alfiyah, dan tentunya ‘Amru bin ‘Usman al-Qunbar, atau yang terkenal dengan sebutan Imam Sibawaih. Pada penelitian kali ini, peneliti secara khusus ingin mendalami siapa dan apa karakteristik Imam Sibawaih, khususnya seputar pemikirannya tentang Nahwu (gramatika bahasa Arab).

Sebagaimana diketahui, Imam Sibawaih adalah sosok ulama non-Arab (‘ajam) yang telah berjasa besar bagi perkembangan ilmu bahasa Arab. Bahkan bisa dibilang kalau Sibawaih termasuk yang paling berjasa dalam meletakkan istilah-istilah dasar ilmu Nahwu, khususnya di Bashrah. Pastinya, terlalu banyak alasan untuk peneliti ungkapkan sebagai alasan kenapa menjadikan Sibawaih dengan kajian-kajiannya seputar ilmu Nahwu sebagai objek penelitian. Di antara sekian banyak alasan, seperti pemaparan di atas, kenyataan bahwa Sibawaih adalah sosok non-Arab yang menguasai ilmu bahasa Arab adalah hujjah dominan bagi peneliti. Maka asumsi pun muncul: tidak mungkin Sibawaih melakukan semua itu tanpa adanya motifasi yang kuat. Maka pertanyaanya kemudian: apa motif Sibawaih mendalami dan menguasai bahasa Arab sebagai bahasa asing? Bagaimana ia memandang bahasa Arab? Adakah alasan yang lebih utama selain keberadaannya sebagai muslim yang dituntut memahami ajaran-ajaran Islam yang berbahasa Arab, terutama al-Qur’an?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peneliti berusaha mencari benang merah antar materi ilmu Nahwu Sibawaih dengan pemahaman al-Qur’an. Untuk kajian ini, peneliti telah menyesun tahapan-tahapan kajian secara sistimatis. Tentu saja, peneliti berusaha agar tidak apologiz dalam mengkaji dan menelaah pemikiran ulama asal Persia itu, sebagai landasan dan syarat pengungkapan fakta secara objektif dari data-data yang semaksimal mungkin peneliti usahakan pengumpulannya. Dengan kajian yang mendalam, serta telaah atas teks-teks karya Imam sibawaih, baik berupa karangannya langsung, atau pandangan para pengikutnya, juga mereka yang mengkritisinya secara tertulis, penelitian berupaya menguak fakta dan realita dimana posisi Nahwu Imam sibawaih dalam korelasinya antara PBA sebagai ilmu terapan sebagaimana kajian bahasa pada umumnya, dan PBA dalam upaya pemahaman al-Qur’an bagi kalangan non-Arab.

Dengan pengungkapan data-data seperti dimaksud, peneliti melihat perlunya merekonstruksi ulang posisi PBA bagi kalangan non-Arab, semisal di Indonesia. Artinya, perlu ada ketegasan memposisikan bahasa Arab sebagai bahasa Asing bagi rakyat Indonesia. Karena tidak etis jika mensejajarkannya dengan basaha Indonesia sebagai bahasa nasional. Dengan posisinya ini, bahasa Arab masuk pada ranah kognitif yang memerlukan pembelajaran intensif sebagai pengetahuan baru, seperti halnya teori bahasa menurut Leonard Bloomfield. Untuk tujuan ini, peneliti melihat kelayakan kajian ini sebagai body of knowledge peneliti: masuk pada area Pembelajaran bahasa Arab.

Dengan klasifikasi metode dan jenisnya, penelitian ini masuk pada kajian Analisi Isi (Content Analysis). Yakni satu metode -seprti ditulis Mujia Raharjo- paling awal untuk menganalisis teks dan bahasa; fokus pada penggalian makna dan apa yang tampak; apa yang ditulis orang, namun tidak untuk memberikan penjelasan atau alasan bagaimana sesuatu itu disampaikan.

Sebagai dasar rujukan, selain data primer dan sekunder, penelitian ini tentunya berangkat dari beberapa penelitian sebelumnya. Sampai catatan ini ditulis, peneliti masih belum menemukan hasil penelitian yang berkesesuaian langsung dengan rencana penelitian ini. Namun demikian, ada beberapa penelitian yang turut menginspirasi kajian ini. Di antaranya:

- “Metode Penelitian dan Pembelajaran Nahwu: Studi Teori Linguistik Tammam Hassan”, yang dipertahankan oleh Muhbib Abdul Wahab pada siding senat terbuka di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 2008.

- “Teori Interpretasi Al-Qur’an Ibnu Rusyd: Kritik Ideologis-Hermeneotis”, oleh Aksin Wijaya, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2008.

Pada hasil penelitian pertama, peneliti dapat mempelajari bagaimana Muhbib menguak fakta teori linguistic Tammam Hassan. Sebagai asumsi dasar, peneliti juga bisa menelaah bagaimana karakteristik pemikiran Nahwu Tammam Hasan. Pada titik ini, penulis memanfaatkan sistimatika serta cara penyimpulan Muhbib dari data-data yang didapat. Sedangkan untuk penelitian kedua, peneliti berusaha mempelajara pengungkapan realita dampak satu pemahaman (filsafat) untuk memahami al-Qur’an. Dari sini, peneliti bisa menelaah teori-teori penyimpulan dalam memahami teks al-Qur’an.

Kiranya, untuk sementara, ini saja yang bisa peneliti paparkan seputar rencana penelitian dengan tema di atas. Selebihnya, peneliti berharap agar hasil kajian ini bisa berkontribusi banyak bagi semua pihak, khususnya penggiat PBA non-Arab di Indonesia. Semua itu tidak lain agar bahasa Arab semakin menemukan perannya. Minimal, realita dan citra bahasa Arab di Indonesia bisa semakin mengejar idealitanya yang memang dianggap sebagai bahasa “suci” bagi umat Islam. Wallahu a’lam bi alshawab.

10.4.11

المدارس النحوية فى الكوفة و البصرة

المدارس النحوية مصطلح يشير إلى اتجاهات ظهرت في دراسة النَّحو العربي، اختلفت في مناهجها في بعض المسائل النحوية الفرعيّة، وارتبط كل اتجاه منها بإقليم عربي مُعيّن، فكانت هناك مدرسة البصرة، ومدرسة الكوفة، ومدرسة بغداد وهكذا. ولم يكن لهذا الارتباط المكاني دلالة علميّة خاصة. ويرى بعض الباحثين أن القدماء لم يطلقوا على مسائل الخلاف في النحو القديم كلمة مدرسة، فلم يؤثر عنهم مصطلح المدرسة البصرية، ولا مصطلح المدرسة الكوفية ولا مدرسة بغداد ولكننا نقرأ من قولهم: مذهب البصريين، ومذهب الكوفيين، ومذهب البغداديين، وربما ورد في قولهم: مذهب الأخفش، ومذهب الفراء، ومذهب سيبويه وغير ذلك. غير أن المعاصرين استحسنوا لفظ المدرسة فاستعاروها في مادة الخلاف النحوي، كما استعاروها في مسائل أدبية أخرى، فأطلقوا على بناء القصيدة عند أوس بن حجر ـ على سبيل المثال ـ بناءً خاصًا يختلف عما عند غيره من الجاهليين ـ واستمرأ هذا النهج في الاصطلاح بعض الباحثين، فكانت مدرسة الديوان، وهكذا قيل عن الأدب في المهجر، على الرغم من الخلاف الكبير بين أدباء المهجر في منازعهم الفكرية.

ولعل من هذا ماذهب إليه الباحثون المعاصرون في تاريخ النحو والنحاة، فأثبتوا مصطلح المدرسة في نحو البصريين، ومثله مدرسة الكوفة، ومدرسة بغداد أو غير ذلك. غير أنك حين تنظر في التراث النحوي لاتجد جمهرة النحاة ـ بصريين وكوفيين وغيرهم ـ قد اختلفوا في أصول هذا العلم، ولم ينطلق هؤلاء من أفكار متعارضة، ولكنهم قد اختلفوا في مسائل فرعية تتصل بالتعليل والتأويل، فكان لهؤلاء طريقة أو مذهب، ولأولئك طريقة أو مذهب آخر، وقد يكون الاختلاف بين بصري وبصري كما كان بين كوفي وكوفي آخر، ولا تعدم أن تجد بصريَّا قد وافق الكوفيين، وكذلك العكس.

أما كلمة مذهب فترد كثيرًا في الكلام عن الخلاف النحوي، فيقولون، مذهب البصريين كما قالوا: مذهب الكوفيين، ومذهب البغداديين، وقد تطلق كلمة مذهب على الطريقة التي سار عليها أحد النحاة فقالوا: مذهب سيبويه كذا، أو قولهم: مذهب الأخفش والفرَّاء كذا.

والمتصفح لكتب التراث التي تعرضت للبحث في تاريخ النحو والنحاة، يلحظ خلوّها من مصطلح المدرسة ولكنه يجد أخبارًا مجموعة لعلماء كل عصر على حدة، ففي الفهرست لابن النديم مثلاً نجد بابًا يفرد للكلام في النحو وأخبار النحويين واللغويين من البصريين، وبابًا آخر لأخبار النحويين واللغويين الكوفيين، ثم باباً ثالثًا لأخبار جماعة من علماء النحو واللغويين ممن خلط المذهبين، وقد عرف هؤلاء الأخيرون عند الدارسين بالبغداديين. على أن أبا سعيد السيرافي أفرد كتابًا لأخبار النحويين البصريين بدءًا بأبي الأسود الدؤلي، وانتهاء بأبي بكر محمد بن السري المعروف بابن السراج، وأبي بكر محمد بن علي المعروف بمبرمان اللذين أخذ السيرافي عنهما النحو، وعليهما قرأ كتاب سيبويه، ونص على أن في طبقة أستاذيه هذين ممن خلط علم البصريين بعلم الكوفيين، أبو بكر بن شقير، وأبو بكر بن الخياط.

وعندما ألّف أبو الطيب عبـدالواحد بن علي اللغوي (ت351هـ) كتابه في مراتب النحويين، عرض لعلماء الأمصار الثلاثة ممن اشتغلوا باللغة والنحو، بدءًا من أبي الأسود، ومن أخذ عنه، وبعض اللغويين والنحويين من البصريين، دون أن يعقد لذلك عنوانًا، حتى إذا فرغ من البصريين عقد بابًا لـعلماء الكوفة، لكن الناظر فيمن سلكهم ضمن الكوفيين يرى بعض العلماء البصريين يسلكون خلال هذه المجموعة، وعلى سبيل المثال ترى الجرمي وأبا عثمان المازني وأبا العباس المبرد، ولعله لم يُرد ذلك، فعقد بعد ذلك بابًا لعلماء الكوفة بعد الكسائي، حتى إذا فرغ من ذكرهم خصص الباب الأخير لعلماء بغداد.

أما الزبيدي، فقد وضع النحويين واللغويين في طبقات، فابتدأها بطبقات النحويين البصريين، وصنفهم إلى عشر طبقات، وانتقل بعدها إلى طبقات النحويين الكوفيين فكانوا ست طبقات، ثم عاد للغويي البصرة فكانوا سبع طبقات، فلغويي الكوفة وهم خمس طبقات، بعد ذلك خصص أبواباً لطبقات النحويين واللغويين المصريين، فالنحويين واللغويين القرويين، ثم النحويين واللغويين الأندلسيين.

وعلى كل حال، فقد شاع بين المحدثين استقلال كل مصر من هذه الأمصار بمذهب شاع بين علمائها ونحاتها، وألفّت الكتب في هذا التواطؤ، فهناك كتاب عن مدرسة الكوفة وآخر عن مدرسة البصرة النحوية، وصنف الدكتور شوقي ضيف كتابًا في المدارس النحوية أجمل فيه الجهود الخصبة لكل مدرسة، وكل شخصية نابهة فيها، فابتدأه بالمدرسة البصرية؛ لأنها هي التي وضعت أصول النحو وقواعده، وكل مدرسة سواها فإنما هي فرع لها، وثمرة تالية من ثمارها، وذهب إلى أن الخليل بن أحمد الفراهيدي هو المؤسس الحقيقي لمدرسة البصرة النحوية، ولعلم النحو العربي بمعناه الدقيق، ثم تلاه سيبويه فالأخفش الذي أقرأ النحو لتلاميذ من البصرة والكوفة، ثم جاء بعده المازني، فتلميذه المبرِّد وهو آخر أئمة المدرسة البصرية النابهين.

أما نشاط مدرسة الكوفة فبدأ متأخرًا عند الكسائي الذي استطاع هو وتلميذه الفراء أن يستحدثا في الكوفة مدرسة نحوية تستقل بطوابع خاصة من حيث الاتساع في الرواية، وبسط القياس وقبضه، ووضع بعض المصطلحات الجديدة، والتوسع في تخطئة بعض العرب، وإنكار بعض القراءات الشاذة.

أما المدرسة البغدادية فقد قامت على الانتخاب من آراء المدرستين (البصرية و الكوفية) مع فتح الأبواب للاجتهاد، والوصول إلى الآراء المبتكرة. ولم يتخلص علماء هذه المدرسة من نزعتهم إلى إحدى المدرستين السابقتين، أو ميلهم إلى مناهجها أكثر من ميلهم إلى المذاهب الأخرى، أو إلى الاستقلال عنهما.

ثم ظهرت بعد ذلك المدرسة الأندلسية بدءًا من القرن الخامس الهجري، ومثلها المدرسة المصرية، إلا أن علماءهما لم يكونوا إلا تابعين لعلماء البصرة أو الكوفة أو بغداد، ولم يتجاوزوا الاجتهاد في الفروع.

http://www.startimes.com/f.aspx?t=27493012

6.4.11

CATATAN BUKAN UNTUK MALAIKAT

Secara bahasa, "ibadah" adalah satu akar kata dengan "'abdun", hamba. Karenanya, beribadah juga bermakna tindakan penghambaan diri, melakukan kebak­tian. Dengan tujian ini jugalah, Allah menciptakan manusia dan Jin. "Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya beribadah kepada-Ku" (Q., 51: 56). Selain memiliki pengertian demikian, ayat ini juga bisa ditaf­sirkan sebagai penegasan bahwa nature (fitrah) manusia adalah beribadah. Hal ini didasarkan pada adanya "perjanjian primordial" antara manusia dengan Tuhan sebelum lahir ke dunia. Isi dari perjanjian itu adalah persaksian kita manusia bahwa Allah menjadi "Pangeran", "Rabb" kita. Tentu saja ini terjadi pada alam ruhani, karenanya tidak menjadi kesadaran lahiriah kita, melainkan mengendap dalam kedirian kita yang paling da­lam.

Menarik untuk dipermasalahkan: kenapa batas penegasan tercipta untuk beribadah hanya jin dan manusia saja? Bukankah selain kedunya masih banyak makhlu-makhluk Allah lainnya? Dalam keimanan kita, selain Dzat Allah, semua yang ada di langit, bumi beserta isinya adalah makhluk; termasuk juga malaikat. Jika dikatakan bahwa nikamat terbesar yang diberikan Allah untuk para makhlunya adalah anugerah kepatuhan untuk menjalankan perintah, malaikatlah penerima terbanyak kenikmatan besar tersebut. Lalu kenapa hanya Jin dan Manusia yang diperintahkan untuk beribadah? Ayat di atas tidak mencantumkan malaikat.

***

Hakekat Malaikat dan Manusia

Keberadaan malaikat yang terdapat di dunia gaib menjadi sebab utama ke-alpa-an kajian teori ilmiah tentang makhluk yang tercipta dari cahaya ini. Kajian-kajian seputar malaikat hanya bisa dirujuk melalui kitab-kitab suci. Kendati demikian, tidak ada keterangan pasti mengenai siapa (apa) sosok malaikat. Sekarang ini yang perlu ditekankan adalah meyakini keberadaannya dengan keyakinan haqqu al-yaqin, seperti halnya meyakini kehidupan setelah mati; bukan keyakinan oportunis: "percaya saja mungkin nanti benar, kalau tidak benar juga toh tidak apa-apa". Model keyakinan kedua ini akan berdampak pasif pada keimanan seorang mukmin.

Menurut riwayat, sejak masa penciptaannya, hingga hari qiyamat, para malaikat hanya melakukan apa yang telah diperintahkan Allah. Mereka yang diperintahkan untuk bertasbih, sepanjang waktu hanya bertasbih yang dilakukan. Demikian juga yang mendapatkan tugas memberi rizqi, mencatat amal, dan sebagainya, sepanjang belum qiyamat, tuga-tugas tersebut yang dikerjakan tanpa pernah ada upaya melanggar. Digambarkan dalam Al-Qur'an bahwa malaikat itu sangat taat pada Tuhan, "mereka mengerjakan segala yang diperintahkan" (Q.,16:50; 66:6).

Dapat dibayangkan para malaikat tidak mempunyai emosi ataupun nafsu, yang pada puncak perkembangannya menjadi apa yang kita sebut sebagai cinta. Berbeda dengan manusia yang dikaruniai emosi. Dalam batasan tertentu, dengan emosi manusia dapat menuju puncak kemuliaan tertinggi, atau sebaliknya terjerembab ke dasar lembah paling hina. Kekuatan berkeinginan akan berjalan lurus dengan emosi tersebut, agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi; membawa manusia lebih dekat kepada sifat ketuhanan.

Kita juga dapat menduga bahwa malaikat tidak memiliki kemauan sendiri, inisiatif bebas: modal dasar untuk melahirkan inofasi. Kesempurnaan "prilaku" malaikat hanya menjadi cerminan kesempurnaan Tuhan. Hal ini menafikan kehormatan untuk tugas kekhalifahan, seperti yang disandang manusia. Khalifah yang sempurna, tentu makhluk yang memiliki kemampuan berinisiatif sendiri, namun kebebasan tindakannya tetap mencerminkan kehendak Sang Kepala (Principal, yakni Tuhan).

Jadi, hakekat malaikat adalah makhluk suci yang hanya berdimensi tunggal, yakni dimensi kesucian itu sendiri, sebagai akibat kebaktiannya yang penuh kepada Tuhan. Sisi lain yang tidak ada pada malaikat, namun dimiliki oleh manusia adalah emosi. Sisi inilah yang membedakan antara hakekat manusia dengan malaikat: emosi, hawa nafsu, hasrat atau keinginan.

Ibarat senjata, emosi dapat menjadi perisai manusia menuju kemuliaan, tetapi juga dapat menjadi "senjata makan tuan". Dalam surah Yusuf ayat 53 dijelaskan, melalui ucapan seorang wanita yang pernah menggoda Yusuf putra Ya'qub, bahwa emosi atau nafsu itu tidak boleh dilepaskan secara bebas, karena akan dengan kuat mendorong pada kejahatan, kecuali jika mendapatkan rahmat dari Tuhan; yang dengan rahmat itu nafsu justru akan mendorong kepada kebaikan atau prestasi keunggulan.

***

Manusia Sebagai Khalifah

Saat Allah menegaskan keinginan-Nya untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, para malaikat menyatakan keraguannya dengan memberikan alasan bahwa manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi; sementara mereka selalu berbakti kepada Tuhan dan tidak pernah melanggar perintah; sebagai konsekuensi hakekat malaikat yang hanya satu sisi(Q., 2:30). Malaikat melihat kekuatan emosi manusia sebagai sumber bencana, namun mereka gagal melihat emosi sebagai sumber tenaga ke arah keluhuran jika dipergunakan secara benar dan baik.

Dalam surat Al-Tîn dikatakan, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik (Q., 95:4). Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan. Dikatakan juga: "man was created upon the image of God": bahwa manusia diciptakan menurut desain Tuhan. Maksudnya, di antara semua makhluk Tuhan yang paling sempurna, karena itu secara hierarkis yang paling bisa mendekati Tuhan, adalah manusia. Tetapi harus diperhatikan ayat lanjutannya, Kemudian Kami jatuhkan dia serendah-rendahnya (Q., 95:5). Maksudnya, sangat mungkin Tuhan mengembali­kan manusia menjadi makhluk yang paling rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang. Kenapa? Karena manusia yang jahat bisa menjadi lebih jahat daripada binatang. Sebagai contoh, macan itu jahat, tapi setelah menerkam dan memakan manusia, dia kembali diam. Tetapi manusia bisa mem­bunuh ratusan, bahkan ribuan orang sekaligus. Maka disebutkan, Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan (Q., 95: 6). Artinya, manusia itu akan tetap menempati kehormatannya sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah kalau beriman dan beramal saleh.

Hakekat dan Makna Ibadah

Hakikat ibadah dalam Islam bukanlah untuk memenuhi kepentingan Allah Swt. Sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan atau kebesaran-Nya kalau saja seluruh manusia di muka bumi ini tidak menyembah kepada-Nya. Namun, perlu diingat bahwa hakikat perintah ibadah dalam Islam adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan untuk memberikan pelayanan kepada Allah Swt. karena Dia sama sekali tidak membutuhkan pelayanan makhluk. Kemudian, terciptanya manusia dengan dua sisi sekaligus; kebaikan dan keburukan, menjadikan peranan akal begitu dominan.

Tidak salah jika dikatakan bahwa keunggulan manusia dengan makhluk lainnya adalah penganugrahan akal fikiran. Pemberian Allah yang hanya dikhususkan bagi anak Adam, sebagai modal utama menjadi khalifah Allah di muka bumi: satu hal yang pernah diragukan oleh para Malaikat, namun ditampik tegas oleh Allah. (QS. 2:30)

Hanya dengan akal, tugas kekhalifahan manusia dapat dijalankan. Dengannya pula, bisa dibedakan antara kebaikan dan keburukan. Penghambaan kepada Allah swt, dikatagorikan sebagai ibadah setelah melalui tahapan fungsi akal. Kepasrahan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan Allah (beriman, berislam, dan bertaqwa), bernilai ibadah setelah kita berhasil menaklukkan sisi kejahatan.

Inilah yang penulis maksudkan sebagai ibadah aktif. Kewajiban melaksanakan sholat, misalnya, jika mendengarkan sisi kejahatan, bisa saja kita tidak mengerjakannya. Toh ada kecendrungan ke sana. Berbeda dengan malaikat, mereka pasti mengerjakan perintah Allah, karena memang tidak mempunyai kecendrungan untuk meninggalkan perintah. Jadi ibadah para malaikat adalah iabadah yang pasif; tidak ada ijtihad untuk "berperang" melawan hawa nafsu.

Dengan pemahaman ini, menjadi jelas kenapa malaikat tidak ditegaskan dalam penciptaannya, untuk beribadah; makhluk-makhluk lain, termasuk hewan juga tidak disuruh beribadah. Cuma kita manusia dan para jin yang diperintah untuk itu. Maka, penulis menyimpulkan: bahwa ibadah adalah upaya untuk menundukkan sisi kejahatan di bawah sisi kebaikan. Hanya makhluk Allah yang berpeluang melakukan kejahatan dan "dipersenjatai" akal lah yang bisa beribadah. Selebihnya, wallahu a'lam bi alshawab.