7.2.10
Julukan Semar untuk Gus Dur
Tidak terasa, Ahad besok adalah 40 hari wafatnya almaghfurllah KH Abdurrahman Wahid Ad Dakhil alias Gus Dur. Hingga hari ini, ribuan pelayat masih terus berdatangan ke makam beliau di Tebuireng, Jombang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Juga beberapa tokoh dari luar negeri. Penghormatan juga diberikan tokoh lintas agama.
Semua itu menjadi bukti bahwa Gus Dur adalah tokoh besar, disayang semua kalangan, yang ide-ide dan pemikirannya terus hidup dan berkembang. Almaghfurllah KH Chamim Jazuli (Gus Miek), tokoh sentral semaan Alquran Mantab, menyebut Gus Dur sebagai tokoh langka yang nyeleneh, kaya ide, dan mengabdikan sepenuh hidupnya untuk rakyat. Gus Miek menjuluki Gus Dur sebagai Semar, tokoh pewayangan berbadan tambun, berkulit hitam, perut buncit, dan berkuluk di kepala.
''Gus, panjenenangan kedah dados Semar. Indonesia butuh tokoh yang bisa menjadi pengayom dan melindungi segenap tumpah darah rakyat.'' Begitu pesan Gus Miek berkali-kali setiap bertemu Gus Dur pada 1991-1992.
Saya sempat bertanya kepada Gus Miek, mengapa harus jadi Semar? Kan Gus Dur sudah menjadi ketua umum PB NU yang notabene adalah pemimpin umat yang mengabdikan diri untuk bangsa dan negara? Gus Miek menjawab, ''Gus Dur harus menjadi sesepuh bangsa, guru bangsa, bapak bangsa, pejuang rakyat jelata dan kaum tertindas. Gus Dur itu milik semua orang, bukan hanya warga NU. Karena itu, dia harus menjadi Semar.''
Filosofi Semar
Dari berbagai literatur, Semar digambarkan sebagai lambang dunia nyata, mahadewa di dunia bawah. Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, penguasa kosmos. Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.
Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik. Seolah-olah dia merupakan simbol penggambaran jagat raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.
Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembap. Penggambaran itu merupakan simbol suka dan duka. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan. Semar adalah seorang hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam.
Namun, di balik wujud lahir tersebut, tersimpan sifat-sifat mulia. Yakni, mengayomi, melayani umat tanpa pamrih, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, serta penuh humor. Semar adalah pengejawantahan ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni ''manunggaling kawula-Gusti'' (menyatunya hamba-raja).
Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar. Pemimpin di Indonesia harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, serta kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.
Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya.
Semar itu hakikatnya di atas, tapi eksistensinya di bawah. Seorang pemimpin adalah sebuah paradoks (Kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa). Dia majikan sekaligus pelayan, kaya tapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, namun tetap berkasih sayang.
Ajaran tua tentang kekuasaan politik dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks tersebut. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Dia dewa tua, tapi menjadi hamba. Dia berkuasa, tapi melayani. Dia kasar di kalangan atas, tapi halus di kalangan bawah. Dia kaya raya penguasa semesta, tapi memilih memakan nasi sisa. Dia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil. Dia menyindir dalam bahasa metafora bila yang dilayani berbuat salah.
Tokoh Semar itulah yang mengejawantah ke diri Gus Dur sebagaimana yang diinginkan Gus Miek. Budayawan Dr Sindhunata dalam sebuah seminar di Jogjakarta (Kompas-Online, 1997) juga dengan sangat serius mengasosiasikan tokoh wayang Semar dengan Gus Dur, baik dari sikap-sikap politik maupun fisik.
Menjangkau Masa Depan
Gus Miek memang sejak lama bersahabat dengan Gus Dur, terutama ketika menjelang dan saat berlangsungnya Muktamar NU di Situbondo pada 1984. Bahkan juga dengan almaghfurlah KH Achmad Shiddiq, mantan rais aam PB NU. Saat Munas Ulama NU 1993, tiga tokoh yang juga dikenal sebagai waliyullah itu sering terlibat aktif berdiskusi soal masa depan bangsa.
Pemikiran spektakuler yang mereka hasilkan, antara lain, bentuk negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Indonesia harus utuh menjadi negara kesatuan yang wajib dipertahankan eksistensinya oleh setiap muslim. Hasil ijtihad lainnya yang kemudian diputuskan dalam muktamar ke-27 NU adalah Pancasila sebagai satu-satunya asas, yang diikuti dengan kembalinya NU ke khitah 26.
Karena dianggap sukses memimpin NU pada masa peralihan, dari politik praktis menjadi jam'iyah diniyah, Gus Miek kemudian meminta agar Gus Dur menjadi pengayom bangsa. Kelak, kata Gus Miek, bangsa ini mengalami problem besar yang menyentuh seluruh sendi dan aspek kehidupan. Saat itu, diperlukan tokoh yang mampu membawa bangsa keluar dari kemelut multidimensional.
Diperlukan tokoh yang punya pikiran kritis dan cerdas untuk mencari solusi. Gus Dur dianggap mampu oleh Gus Miek seperti halnya Semar. Itu juga diakui Greg Barton. Pemikiran Gus Dur bisa merambah jalan menuju masa depan. Mungkin, Gus Dur masih baru meletakkan dasar-dasar pemikiran di bidang kenegaraan, demokrasi, HAM, keagamaan, dan sebagainya. Kitalah yang harus meneruskan pikiran-pikiran besar itu.
Namun, ada satu keinginan Gus Miek kepada Gus Dur dan Kiai Shiddiq yang tidak terlaksana. Yakni, agar mereka bertiga menempati makam yang sama di Makam Aulia Desa Tambak, Ploso, Kediri. Namun, Gus Dur akhirnya dimakamkan di Tebuireng, dekat makam ayah dan kakeknya. Allahummagfir lahum warhamhum.
*). Sholihin Hidayat, mantan Pemred Jawa Pos, kini direktur Ko Hin Institute
3.2.10
TRADISI GURU-MURID, ISLAMI KAH?
Selama perjalanan, Khalifah hanya membawa seokor unta yang ditungganginya secara bergantian: satu waktu khalifah Umar yang menunggangi unta, sementara pengawalnya berjalan dibawahnya. Pada waktu lain sebaliknya: pengawal khalifah menunggangi unta dan sang khalifah yang berjalan kaki. Begitu seterusnya, sampai tiba di tempat tujuan.
Saat memasuki kota Qudsi yang saat itu mayoritas penduduknya beragama Nasrani, khalifah Umar kebagian giliran berjalan kaki, sementara yang menunggangi unta adalah pengawalnya. Melihat kejadian tersebut, penduduk Qudsi yang sebelumnya sudah mengenal sosok Umar bin Khattab sebagai khalifah merasa kaget sekaligus heran. Mereka terperanjat, bagaimana mungkin seorang khalifah berjalan kaki sementara pengawalnya justru menunggangi unta.
Ya, sebuah pemandangan yang langka serta aneh bagi mereka, bahkan mungkin bagi siapa saja yang belum mengenal ajaran Islam. Agama yang menyamakan hak antara pemimpin dan pengikutnya; antara si kaya dan si miskin, laki-laki dan perempuan; dan pastinya antara pemerintah dan rakyatnya. Nilai manusia, sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an, hanya tergantung kualitas ketaqwaannya saja. Tidak lain.
Terlepas dari keabsahan kisah diatas, kandungan nilai kisah tersebut juga ditauladani Nabi Muhammad selaku pembawa risalah Islam. Rasulullah tidak pernah membedakan umatnya menurut klasifikasi yang umum menjadi standar penilaian masyarakat Quraisy kala itu; di mana Rasul dilahirkan dan tumbuh berkembang. Beliau bahkan menentang kecendrungan tata cara bersosialisasi masyarakat Arab pada waktu itu, yakni standarisasi penilaian manusia dari segi materialistik dan keturunan.
Sejak awal Rasul memang selalu memberi suri tauladan penghapusan nilai-nilai fanatisme kelompok dan golongan. Karenanya tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya dalam bermuamalah, baik secara sosial, ekonomi, politik, juga hukum. Dalam penerapan hukum, asas persamaan dan keadilan betul-betul beliau terapkan. Bahkan, Fatimah putrinya pun, jika ketahuan mencuri, hukumannya sama dengan yang lainnya: potong tangan, tanpa pertimbangan putrid Rasul.
Dalam aspek sosial, tauladan persamaan sangat kental, bahkan cendrung nampak “ekstrim” dilakoni Nabi. Kita tidak akan pernah mendengar ada sebutan ‘murid Nabi’, apalagi pembantu Nabi. Yang ada hanya istilah ‘sahabat Nabi’. Kita pasti meyakini, bahwa hanya Rasul satu-satunya manusia pada masanya yang mendapat petunjuk langsung dari Allah berupa wahyu. Sementara selain Nabi adalah –dalam istilah sekarang– pengikut atau murid beliau.
Nabi yang mengajarkan mereka segala apa yang diwahyukan Allah. Jadi Nabi adalah guru, dan lainnya tentu murid. Tapi, dengan kerendahan hatinya, beliau tidak pernah menonjolkan dirinya agar disebut sebagai guru. Semua orang yang mengenal dan hidup dimasanya tak lain menjadi sahabtnya. Ada lagi, Sahabat Abu Hurairah yang terkenal di kalangan ualama hadis sebagai periwayat beribu-ribu hadis, tak lain merupakan -menurut tradisi kita- khaddam (pembantu) Nabi.
Begitulah salah satu inti ajaran Islam dalam hal persamaan antar sesama manusia. Tak ada yang perlu meresa lebih tinggi atau lebih rendah dari lainnya karena kekuasaan, harta atau keturunan. Perbedaan antar manusia di sisi Allah hanya dinilai dari ketaqwaannya. Siapa yang bisa menilai kualitas taqwa seseorang? Tak ada satu pun selain Allah. Ketaqwaan tak lain adalah urusan antar pribadi dengan Rabb Allah.
Dengan landasan pemahaman di atas, adalah orang yang tidak tahu ajaran Islam lah siapa-siapa yang menilai orang lain lebih rendah darinya, atau sebaliknya, lebih mulia. Tak ada alasan yang membenarkan –dalam ajaran Islam– merendahkan atau memuliakan orang lain, melebihi tatakrama kesopanan serta etika kesantunan bermasyarakat sebagaimana mestinya.
Selebihnya, jika penduduk kota Qudsi yang mayoritas nonmuslim merasa aneh saat menyaksikan kedatangan khalifah Umar bin Khattab bersama pengawalnya dengan bergantian menunggangi unta, maka saat ini dengan penduduk mayoritas muslim, apakah masyarakat Indonesia juga akan melihat adanya kejanggalan atau keanehan ketika melihat presiden Indonesia sedang menyupir mobil yang ditumpangi oleh para pengawal atau ajudannya? Mungkinkah?!
Satu lagi, jika Rasulullah saja yang diyakini sebagai maha guru bagi para sahabatnya, lantas tidak menganggap mereka sebagai murid, tapi justru sahabat saja; bagaimana kita yang berprofesi sebagai guru, ustad atau dosen harus merasa lebih tinggi di hadapan para murid kita?; kita anggap para murid su’ul adab saat pringainya tidak atau kurang menghargai kita selaku guru mereka? Tidakkah ini menandakan keangkuhan “fikiran” kita wahai sekalian guru, ustad dan dosen!!!
8.7.09
Pesantren Bukan Mercusuar
PESANTERN BUKAN LAMPU MERCUSUAR
Oleh: Zulfan Syahansyah*
Bagi rakyat Indonesia, tanggal 8 Juli 2009 menjadi catatan hari bersejarah bangsa. Pada hari itu, pesta demokrasi: pilpres tiga pasangan kandidat akan digelar. Pada tanggal yang sama juga, PP. Al-Munawwariyyah secara resmi membuka hari pertama penerimaan santri/wati baru tahun pelajaran 2009-2010.
Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, penerimaan santri/wati baru di pondok yang berlokasi di dusun Ledoan desa Sudimoro ini selalu kedatanagan calon walisantri/wati baru dari seantero Nusantara. Spontan, momen ini akan menjadikan daerah sekitar pondok menjadi padat. Sedikit banyak, acara penerimaan ini akan mengganggu aktifitas para tetangga pondok.
Sebagai penduduk daerah, masyarakat sekitar dimohon kerelaan dan kesediaanya menjadi tuan rumah yang ikhlas dan nrimo. Demikian pinta KH. Muh. Maftuh Said, pengasuh pesantren kepada warga sekitar pondok saat acara tasyakuran penerimaan santri baru di kediamannya, pada Senin malam, 6 Juli 2009 lalu.
Sudah menjadi tradisi PP. Al-Munawwariyyah, sehari sebelum acara penerimaan santri baru, pengasuh pondok selalu mengundang warga sekitar untuk tasyakkuran bersama, sebagai upaya mempererat silaturrahmi pondok dengan masyarakat tetangga. Upaya ini juga sebagai simbol bahwa PP. Al-Munawwariyyah adalah milik bersama. Kiai Maftuh tidak ingin pondok menjadi bagai lampu mercusuar yang hanya menerangi daerah yang jauh, sementara daerah sekitar tetap gelap.
Sejatinya, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam berkewajiban mengayomi dan mendidik masyarakat sekitar, sebelum terlanjur dikenal sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat secara luas. Hal ini menjadi indikasi pengakuan masyarakat yang berdomisili di sekitar pondok. Bagaimanapun, pengakuan masyarakat sekitar menjadi sebuah komponen penting bagi berdirinya pesantren sacara utuh. Betapapun besarnya sebuah pesantrn, jika terjadi mis-komunikasi dengan masyarakat sekitar, maka keberadaannya sebagai lembaga pengayom ummat menjadi rancu.
Banyak kita saksikan pesantren-pesantren besar berlevel nasional yang bahkan tidak tersentuh masyarakat sekitarnya. Para santri dari luar daerah berdatangan, sementara masyarakat sekitar enggan memondokkan putra-putrinya di pesantren tersebut. Realita ini sungguh ironis. Jika diumpamakan penerang, pesantren yang tak mampu “memikat” penduduk sekitar bagaikan lampu mercusuar. Ia hanya dapat menerangi daerah-daerah yang jauh dari tiang penyanggah, sementara lokasi sekitar tetap gelap tak tersinari.
Menyadari kenyataan inilah, Kiai Maftuh selalu menekankan bahwa cakupan keluarga besar PP.Al-MUnawwariyyah bukan hanya para pendidik dan sekalian santri/wati saja, namun seluruh masyarakat sekitar juga menjadi komponen keluarga yang tak boleh diabaikan begitu saja.
Pengajian rutin setiap malam Jum’at, pendirian Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren) dan semakin banyaknya para tetangga yang memondokkan putra-putrinya di pondok Al-Munawwariyyah adalah contoh nyata kepedulian pondok terhadap masyarakat sekitar. Bak tali bersambut, setiap kali pondok punya gawe, antusia masyarakat sekitar pun turut membantu.
Harapan, semoga keharmonisan PP. Al-Munawwariyyah dengan masyarakat sekitar menjadi potret nyata bahwa pondok pesantren sejatinya tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat jauh, namun juga mampu mengayomi penduduk sekitar. Maka misi dan visi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dapat dirasa masyarakat secara luas pada umumnya, dan penduduk sekitar pada khususnya.
*Pengurus PP. Al-Munawwariyyah
21.6.09
Umat dan Perbedaan
Oleh: A. Mustofa Bisri
Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.
Atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah pun mengutus Nuh a.s. untuk mengingatkan manusia kembali kepada ketentuan-ketentuan-Nya itu. Bertahun-tahun, Nabi Nuh a.s mengajak manusia untuk kembali kepada jalan Allah, ketentuan-ketentuan Allah itu, hingga akhirnya Nabi Nuh a.s kehabisan cara untuk menyadarkan mereka. Hanya beberapa puluh orang yang mengikutinya; yaitu mereka--yang ketika banjir azab menyapu manusia— ikut bersamanya dalam bahtera. Nabi Nuh a.s. dan para pengikut setianya kemudian–setelah banjir surut—membangun kembali peradaban baru sesuai ketentuan-ketentuan Ilahi semula. Namun sejarah berulang. Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya jumlah manusia, semakin lama manusia pun kembali banyak yang lupa dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Ilahi yang diajarkan nabi Nuh a.s. Dan atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah pun kembali mengutus utusan untuk mengingatkan dan menyadarkan manusia. Demikian seterusnya. Setiap kali lupa dan ketidaksadaran sudah menjadi ”peradaban” manusia, Allah mengutus utusan-Nya. Sampai akhirnya, Allah mengutus utusan terakhir, Nabi Muhammad SAW.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ...( ۲ البقرة: ۲۱۳ ﴾
مَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُون )١٠. يونس:١٩ (
Ketentuan-ketentuan Ilahi yang dibawa nabi-nabi itulah kiranya yang kita istilahkan sebagai agama. Dari sisi lain; ternyata sesuai kehendak Allah, manusia tidak pernah lagi dapat menjadi umat yang satu dan memang tidak dikehendaki demikian. Seandainya Allah menghendaki niscaya dengan mudah manusia akan menjadi satu umat seperti semula.
Maka, meskipun manusia berasal dari satu bapa, Nabi Adam a.s, dan satu ibu, ibu Hawa; atau berasal dari satu bahtera, bahtera Nabi Nuh a.s., selamanya tidak bisa diseragamkan. Maka, upaya penyeragaman oleh siapa pun adalah sia-sia. Di Indonesia, pernah ada upaya gila selama lebih 30 tahun ingin menyeragamkan bangsa ini. Jalan pikirannya boleh jadi: kalau bangsa ini seragam maka akan harmonis hidupnya. Kegilaan menyeragamkan ini tidak hanya sampai soal pakaian, namun sampai ke soal ngecat tembok rumah (termasuk rumah Tuhan: masjid) dan marka jalan.
Nah, kini saatnya kita “belajar” kembali tentang kefitrian perbedaan itu dengan adanya momentum pilpres yang menampilkan tiga pasang capres-cawapres yang semuanya tokoh Indonesia yang semuanya mengaku ingin mensejahterakan rakyat Indonesia. Kita lihat, apakah mereka para capres-cawapres, para tim sukses masing-masing, dan kita semua dapat menyikapinya dengan dewasa atau setidaknya menjadikannya latihan kedewasaan. Kedewasaan ditandai terutama oleh kemampuan berbeda. Wallahu a'lam.