24.1.11

Perlu Kecerdasan dalam Berbohong

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar hidup yang kita jalani ini berlangsung baik-baik saja. Pertama, jangan durhaka kepada orang tua, apalagi ibu yang menyimpan surga di bawah telapak kakinya. Cerita Malin Kundang memberitahu kita bahwa seorang anak akan menjadi batu saat itu juga karena mendurhakai ibu kandung. Kedua, berhati-hatilah dalam menghadapi kaum yang tertindas. Sebab, lidah orang0orang tertindas itu ampuh sekali. Doa mereka pun mujarab karena selalu dikabulkan. Ketiga, hindari keong racun, buaya darat, dan sebagainya. Lagu-lagu pop mengajari kita untuk waspada terhadap binatang-binatang itu.

Satu binatang darat lain yang amat patut diwaspadai adalah lintah darat. Dalam situasi yang memungkinkan, binatang terakhir ini berkembang biak amat subur. Reklamenya bisa Anda baca di tembok-tembok pagar atau di tiang-tiang listrik dan telepon: “Butuh uang...?”

Tentu saja yang disampaikan itu bukan peringatan untuk pemerintah. Pemerintah kita tidak perlu takut pada itu semua untuk menjalani hidup baik-baik. Ia tidak perlu takut pada air mata ibu yang didurhakai. Ia tidak takut pada orang-orang tertindas. Ia tidak taut pada keong racun, buaya darat, atau lintah darat. Ia hanya sedikit tidak nyaman ketika sepuluh guru besar berkumpul di Surabaya dan membuat pernyataan bahwa pemerintah berbohong. Orang-orang dekatnya (atau “aparat terkait” jika Anda menggunakan istilah yang lebih resmi) segera membuat pernyataan bantahan bahwa pemerintah tidak pernah berbohong.

Dugaan sementara saya, dua kubu pastilah sama-sama benar. Anda tahu, tidak ada yang salah di negeri ini. Kalau toh ada orang-orang yang dihukum karena korupsi atau karena urusan-urusan lain, itu bukan karena mereka bersalah, tapi karena nasib mereka sedang apes belaka.

Semua yang terjadi di negeri ini –menggunakan istilah Pak Presiden– sudah pas dan terukur. Pemerintah sudah bekerja baik dan terus mengupayakan kesejahteraan bagi seluruh warga. Anda hanya perlu mempercayai pernyataan itu, seperti orang-orang beriman mempercayai kebenaran agama. Mengenai bagaimana cara pemerintah mengupayakan kesejahteraan, tak perlu dipikirkan amat. Anda mungkin tidak akan pernah tahu. Bahkan, pemerintah sendiri mungkin tidak tahu.

Mencari tahu bagaimana cara pemerintah mengupayakan kesejahteraan, menurut saya, kurang lebih sama dengan mencari tahu bagaimana mukjizat Tuhan bekerja. Itu sama-sama di luar jangkauan nalar manusia. Anda akan kelelahan jika mencari tahu hal-hal yang di luar nalar.

Sebelum lebih jauh membicarakan tentang pernyataan bahwa pemerintah berbohong, saya ingin menyampaikan hal yang paling dasar. Karena sebagaian besar di antara kita tidak mempelajari ilmu pemerintahan, pikiran kita akan segera tertuju ke presiden dkkjika mendengar sebutan pemerintah. Pikiran saya begitu. Pemerintah=presiden. Pikiran presiden rupanya begitu. Buktinya, ketika ada pernyataan bahwa pemerintah berbohong, yang sibuk membuat penolakanadalah para anak buah presiden. Mereka bergantian membantah.

Ini memang pekan yang cukup sibuk dengan perbantahan. Presiden menyampaikan curhat tentang gajinya yang tidak pernah naik dalam tujuh tahun terakhir. Survei majalah The Economist menyebutkan bahwa gaji presiden kita 28 kali lipat upah minimum. Dengan kelipatan itu, ia berada di urutan ketiga dalam daftar pemimpin negara dengan kesenjangan gaji terbesar.

Berdasarkan angka itu, kita bisa bergerak lebih jauh. Jika presiden mengeluhkan gajinya yang tidak naik-naik dan mungkin terlalu kecil, kita tahu bahwa jumlah upah minimum di negeri ini memang benar-benar minimum sehingga memerlukan kecerdasan finansial yang ekstra genius untuk mengelolanya. Tanpa kegeniusan finansial, Anda akan segera kering kerontang diisap lintah darat.

Lagi-lagi kita beruntung bahwa presiden kita dan keluarganya cukup prigel dalam mengelola gaji sehingga harta kekayaannya bertambah meskipun gajinya tidak naik-naik. Itu menurut catatan pegawai pencatat harta kekayaan.Tetangga saya, seorang pesuruh kantor, saya kira perlu mencontoh cara presiden mengelola keuangan. Dia sudah bekeja lebih dari sepuluh tahun, dan gajinya pun naik sedikit-sedikit, tetapi harta kekayaannya malah merosot dari waktu ke waktu. Sekarang sebagian sudah dijual dan sebagaian lagi nangkring di rumah gadai.

Sebenarnya, ketika membaca pernyataan tentang kebohongan pemerintah, dan segala bantahannya, sejak awal saya sudah menetapkan dugaan sementara bahwa dua kubu pasti benar, sebagaimana sudah saya nyatakan di atas. Jadi tanpa bermaksud mencari tahu mana yang benar dan mana yang keliru, saya ingin membahas yang remeh-remeh saja. Misalnya, apa pengertian berbohong dan kenapa pemerintah tidak suka disebut berbohong oleh para guru besar.

Berbohong bisa juga Anda sebut berdusta, adalah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Itu menurut Kamus Basar Bahasa Indonesia. Apakah Anda membaca kamus atau tidak, tentu Anda tidak suka dibohongi. Bahkan, orang yang suka berbohong juga tidak suka dibohongi. Artinya, sesungguhnya dia tidak suka dengan perbuatannya sendiri.

Dalam konteks pemerintah, kalau toh terjadi kebohongan, sangat mungkin itu adalah kebohongan yang tidak disengaja. Mungkin karena ia terlalu banyak berjanji dan selanjutnya lupa apa saja yang sudah ia janjikan. Atau lebih sepele dari itu: ia tidak memiliki kecakapan untuk menepati janji. Untuk mendapatkan contohnya, lihatlah Gubernur Fauzi Bowo di Jakarta. Dia berjanji mengatasi masalah-masalah dan pelbagai keruwetan di DKI. “Serahkan pada ahlinya,” katanya sewaktu kampanye. Tetapi dia terlanjur memenangi pilkada.

Para guru besar mungkin melihat hal yang sama pada pemerintah pusat. Berjanji memberantas korupsi tanpa pandang bulu, tidak ditepati. Berjanji meningkatkan kesejahteraan, tidak ditepati. Berjanji menjadi pemimpin yang peduli pada nasib orang banyak, tidak ditepati.

Dalam pandangan guru besar, itu adalah kebohongan. Sedangkan dalam pandangan pemerintah, itu bukan kebohongan, jadi tidak apa-apa dilakukan. Saya sendiri absen. Saya tidak tahu apakah tidak cakap menepati janji bisa dikatagorikan kebohongan. Saya hanya tahu bahwa orang berbohong biasanya untuk tujuan tertentu.

Anda bisa berbohong karena takut mempertanggungjawabkan perbuatan Anda. Anda bisa berbohong karena kalau menyampaikan apa adanya, Anda akan kena marah. Anda berbohong karena mengidap keyakinan yang meleset bahwa Anda akan hancur jika Anda jujur. Anda berbohong karena Anda tidak mampu mengerjakan apa yang menjadi kewajiban Anda. Oh, saya tahu sekarang, Anda bisa berbohong karena tidak mampu menepati janji.

Jika Anda berjanji ngalor ngidul dan Anda tidak mumpuni untuk mewujudkan apa yang Anda janjikan, orang akan mengatakan bahwa Anda hanya bisa menggombal. Seorang istri akan frustasi jika suaminya hanya tukang gombal.

Anda tahu, kebanyakan politisi adalah tukang gombal. Dalam pernyataan Khruschev, “Mereka selalu berjanji membangun jembatan meski tidak ada sungai.” Mereka seper4ti gerombolan untuk melamar gadis-gadis lugu agar mau dijadikan istri. Bedanya dengan para suami gombalan, politisi itu bisa menjadi apa saja, bergantung nasibnya. Ada yang jalan mondar-mandir dengan bercawat saja karena gagal mendapatkan apa-apa setelah menghamburkan seluruh persedian gombalnya. Ada yang jadi presiden karena nasibnya baik.

Hal lain yang membedakan pemerintah, yakni para politisi yang bernaib baik, dari para tukang gombal yang berusaha mencuri hati adlah kecerdasannya. Pemerintah pasti lebih pandai dalam segala hal ketimbang para mbambungan pencari istri, termasuk kecerdasan dalam berbohong. Setidaknya kita berharap demikian. Jika pemerintah tidak cakap dalam berbohong, celakalah kita. Sedih saya karena kita bisa dibohongi oleh pemerintah yang tidak lebih cerdas dari pada mbambungan itu.

Mengenai kebohongan yang cerdas, pasti ada statistik di sana. Pasti ada bukti-bukti di atas kertas untuk menunjukkan bahwa pemerintah adalah jujur dan memiliki hati yang tulus seperti anak-anak yang tajut neraka. Kita pun akan merasa lebih tentram menerima kebohongan yang disertai bukti-bukti.

Oleh; A.S. Laksana

17.1.11

MAULID yang Kontekstual

Sebagai suatu temuan kultural, Maulid pernah membuktikan efektivitasnya pada saat Perang Salib. Oleh karena itu, kita tidak perlu ikut-ikutan mengharamkan Maulid. Justru karena Maulid ini satu-satunya perayaan keagamaan yang diadakan di Istana, maka bagi kita bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, Maulid mempunyai nilai simbolik yang sangat penting. Tradisi warisan Bung Karno itu pada mulanya adalah saran dari Haji Agus Salim, satu-satunya tokoh Islam yang “didengar” oleh Bung Karno. Setelah Haji Agus Salim meninggal, maka ada yang membawa dan memasukkan unsur-unsur lain dalam peringatan Maulid di Istana. Oleh karena itu, tugas umat Islam sekarang adalah membersihkannya dari unsur-unsur yang tidak bisa dibenarkan oleh agama seperti pemujaan yang berlebihan kepada Nabi.

Kalau dulu Salahuddin al-Ayyubi memperingati Maulid untuk mengantisipasi suatu masalah yang konkret, yaitu menghadapi tentara Salib, maka sekarang pun spirit Maulid harus dibuatkan polanya yang kontekstual. Misalnya, masalah paling aktual saat ini adalah kemelaratan, maka dalam peringatan Maulid itu mestinya yang dibacakan bukan syair-syair pemujaan ala Barzanji dan sebagainya, melainkan perjuangan Nabi dalam memberantas kemelaratan, membela orang miskin, dan sebagainya. Pembacaan syair-syair Dibba’i, Barzanji, dan sebagainya, dalam peringatan Maulid Nabi pada dasarnya berkaitan dengan kecintaan kepada Nabi. Hal ini sama halnya ketika seorang anak yang baru lahir dibacakan Barzanji, yang juga menjadi semacam doa kepada Allah melalui pernyataan kecintaan kepada Nabi. Ide shalawat sebenarnya ialah mendoakan Nabi. Ustaz-ustaz di pesantren biasanya menerangkan bahwa Nabi itu diibaratkan sebuah gelas yang sudah penuh. Dengan membaca shalawat berarti kita mengisi lagi gelas yang sudah penuh itu sehingga airnya meluber dan tumpah. Tumpahannya itulah konon yang dianggap sebagai berkah atau syafaat Nabi.

Maulid Nabi juga menjadi medium untuk mengembangkan rasa keindahan yang suci. Tetapi perlu dicatat bahwa dalam Islam sebenarnya tidak ada seni yang suci; semua seni adalah dekoratif ornamental. Namun, melalui perkembangan sejarah Maulid itu sendiri, diciptakanlah literatur yang serba-indah, termasuk yang paling terkenal yaitu Dibba’i dan Barzanji, dan itu menjadi ekspresi seni dengan nilai estetika yang sangat tinggi.

Tentu saja, terlepas dari motif-motif luhur semacam itu, ada di antara kalangan Islam di Indonesia yang dengan tegas menolak perayaan Maulid Nabi, seperti Muhammadiyah dan Persis (Persatuan Islam). Kerugian orang-orang Muhammadiyah ialah karena mereka terlalu puritanistik, sehingga cenderung membuang hal-hal semacam itu. Dengan begitu, Islam dalam Muhammadiyah menjadi Islam yang “kering”, tidak berseni, seperti tidak adanya lagu-lagu. Hal ini berbeda dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang shalawat pun dinyanyikan dengan iringan musik-musik yang pas, sehingga menjadi ekspresi yang luar biasa bagusnya. Seni-seni Islam dari sejak rebana sampai gambus berkembang di kalangan orang NU. Maka persoalannya ialah bagaimana menampilkan seni yang menggugah atau menimbulkan keharuan tetapi bebas dari syirik.

Hampir menyerupai Muhammadiyah yang merupakan gerakan pembaharuan Islam, Persis lebih tepat dikategorikan sebagai gerakan pemurnian Islam. Mereka ingin memurnikan agama Islam dari unsur-unsur yang mereka sebut sebagai bid’ah yang datang dari luar. Dari kerangka pikiran seperti itu, jelas mereka pun akan menolak Maulid, apa pun bentuknya. Namun, betapapun kerasnya upaya untuk memurnikan Islam dari unsur-unsur yang dianggap sebagai “unsur luar”, dalam batas-batas tertentu tetap ada kompromi untuk tidak mencap semua produk budaya sebagai bid’ah. Salah satu contohnya yang sering mengemuka dalam kontroversi di zaman dulu ialah produk pakaian, seperti celana. Dulu, celana pernah diharamkan oleh para ulama karena merupakan pakaian Belanda. Tetapi sekarang kita menggunakannya tanpa ada masalah. Dus, tergantung cara kita memandangnya. Hal ini sama halnya ketika dulu Hadi Supeno mengejek orang Islam sebagai kaum sarungan”.

Padahal sarung adalah pakaian orang Islam yang paling umum dipakai. Bahkan menurut Schumaker, pengarang buku terkenal The Small is Beautiful, dari semua pakaian umat manusia yang paling bagus dan ideal ialah sarung, karena sederhana dan tidak perlu jahitan macam-macam, selain juga bisa dipakai untuk segala macam keperluan. Sekali lagi, itu adalah produk budaya yang penilaian terhadapnya ditentukan oleh cara meman­dangnya. Karena itu, orang Islam semestinya tidak perlu keberatan dikatakan sebagai “kaum sarungan”.

12.1.11

LINGUISTIK DAN MANFAATNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Idealnya, setiap ilmu mengandung manfaat bagi kehidupan manusia. Demikian juga halnya dengan linguistik. Ilmu ini, setidaknya bisa memberikan manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam hal kebehasaan, baik linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku, jurnalis, penyusun kamus, atau bahkan politikus, juga diplomat.

Bagi linguis, pengetahuan yang luas dan mendalam tentang linguistik tentu bisa sangat membantu dalam menjalankan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik, karena bahasa yang menjadi objek bahasan linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra. Pemahaman karya sastra dengan baik tidak akan mungkin tanpa dilandasi pengetahuan seputar hakekat dan struktur bahasa dengan baik pula. Apalagi jika mengingat bahwa karya sastra menggunakan ragam bahasa khusus yang berbeda dengan ragam bahasa umum.

Demikian juga kiranya fungsi linguistik bagi guru, terutama guru bahasa. Pengetahuan linguistik sangat penting, baik dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaaan. Bagaimana mungkin seorang guru bahasa dapat melatih keterampilan berbahasa jika dia tidak menguasai fonologi; dapatkan dia melatih keterampilan menulis jika tidak menguasai ejaan, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Selain itu, sebagai guru bahasa, dia bukan hanya melatih keterampilan berbahasa, tapi juga harus menerangkan kaidah-kaidah bahasa yang diajarinya dengan benar.

Beberapa waktu lalu, penulis telah rampung menulis makalah yang berkaitan dengan analisis kesalahan berbahasa Arab di kalangan pelajar Indonesia. Dari analisis yang terbilang sangat sederhana itu, penulis menyimpulkan memang ada karakteristik atau kekhususan antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Sebagai langua ada perbedaan mendasar antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Karenanya, pengajaran bahasa Arab di kalangan pelajar Indonesia seyogyanya memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut. Tanpa itu, hampir mustahil pengajaran bahasa Arab berhasil seperti yang diharapkan. Atau setidaknya, pengajar hanya bisa meng-Indonesiakan bahasa Arab saja, tidak lebih.

Sebagaimana diketahui, sasaran kajian linguistik terarah pada subdisiplin kebahasaan, baik fonologi, morfologi, sintaksis, simantik, leksikologi, juga diskursus atau wacana. Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya. Hal-hal yang dibahas dalam fonologi antara lain: 1) bunyi suara, 2) fonetik dan fonemik, 3) alat ucap, 4) pita suara, 5) vokal, 6) konsonan, 7) perubahan fonem, dan 8) intonasi. Dari bahasan-bahasan tersebut, telaah fonologi fokus pada bunyi bahasa yang harus diperhatikan oleh penutur suatu bahasa.

Selain fonologi, sub-bidang kajian linguistik adalah morfologi, yakni ilmu yang membicarakan seputar kata dan pembentukannya. Pengertian tentang bentuk belum terbilang jelas tanpa mengetahui lebih lanjut tentang wujud kata dan apa yang menjadi ciri-cirinya. Semua arus-ujaran yang terdengar adalah rangkaian kesatuan. Bila kita berusaha memotong-motong suatu arus-ujaran yang sederhana seperti: “p e k e r j a a n m e r e k a m e m u a s k a n”, maka potongan-potongan (segmen) yang didapat adalah kesatuan yang langsung membentuk kalimat itu: pekerjaan, mereka dan memuaskan. Unsur mereka di satu pihak tidak dapat dipecahkan lagi, sedangkan unsur pekerjaan dan memuaskan masih dapat dipecahkan lagi mejdai: kerja dan pe-an, serta puas dan me-kan. Pemaparan di atas adalahh contoh kajian morfologi.

Selanjutnya adalah sintaksis. Jika morfologi membicarakan struktur internal kata, maka sinteksis adalah subkajian linguistik yang membahas seputar kata dalam hubungannya dengan kata lain. Dalam bahasan ini, pengajar bahasa menitik-beratkan pembehasan pada gramatikal kata dalam bahasa yang diajarkannya.

Subkajian linguistik lainnya adalah simantik, yakni bagian dari tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu; mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata. Dalam semantik hanya dibicarakan tentang makna kata dan perkembangannya, yang mencakup: macam-macam arti, hononim dan sinonim, perubahan makna, dan nilai rasa.

Ada lagi bahasan dalam linguistik lainnya, yakni diskursus atau wacana, yaitu perspektif yang membedakan dalam pemahaman maksud penutur antara bahasa ibu dan bahasa asing yang dipelajari. Dalam perkembangannya, telaah pada bidang ini sangat membantu dalam memahami makna tersirat dari susunan kata yang tersurat. Tanpa pengetahuan subkajian ini, seseorang akan sangat sulit memahami maksud dari arti sebuah bahasa asing secara leterleg.

Lalu yang terakhir adalah leksikologi. Secara bahasa, leksikologi berasal dari kata lexicon yang berarti kamus, mu’jam atau istilah dari sebuah ilmu . Subkajian ini mempelajari seluk beluk makna/ arti kosakata yang telah termuat atau akan dimuat di dalam kamus. Selain pengertian tersebut, para pakar bahasa Arab juga memberi istilah lain untuk subkajian ini. Ada Ilm al-Amufradat, al-Laffadz, Ilm Dalalah Mu’jam dan lain sebagainya.
***
Dalam perspektif psikolinguistik, pemahaman seseorang terhadap suatu bahasa harus melalui empat tingkatan: fonologis (al-mustawa al-shawti), leksikologis (al-mustawa al-mu’jami), struktural (almustawa al-tarkibi), dan diskursus /wacana (al-mustawa al-khitabbi). Keempat tingkatan tersebt tidak jarang dihadapkan pada perbedaan-perbedaan antara kedua bahasa (ibu dan asing), meskipun kedua bahasa itu juga memiliki kesamaan. Berangkat dari kesamaan sistem bahasa itulah pembelajaran bahasa asing diasumsikan jadi lebih mudah difahami.

Toh demikian, tetap saja kiranya bagi seorang guru bahasa asing harus mempertimbangkan sisi perbedaan antara satu bahasa dengan lainnya. Pada sisi inilah pembelajaran bahasa asing akan terkesan sulit. Kaitannya dengan telaah kita, seorang guru bahasa Arab semestinya bisa memilah perbedaan anatara bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu dan bahasa Arab sebagai bahasa asing. Sebagaimana diketahui, perbedaan utama kedua bahasa tersebut adalah perbedaan ras bangsa dan rumpun. Bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa Semith (Assamiyah), sedangkan bahasa Indonesia dari rumpun bahasa Austronesia.

Sebagai pengkaji bahasa Arab dan pendidikannya di Indonesia, sejujurnya penulis merasa prihatin atas merosotnya perkembangan bahasa yang identik dengan umat Islam ini. Selain karena faktor keagamaan, sebagai bahasa yang terus berkembang, perbendaharaan bahasa Indonesia sangat terbantukan dengan bahasa Arab. Hal ini terbukti dengan banyaknya kosakata Arab yang masuk menjadi kosakata resmi bahasa Indonesia.

Banyak penyebab keprihatinan penulis seputar perkembangan bahasa Arab. Selain faktor eksteren: sosial, politik dan ekonomi, faktor interen pengembangan bahasa Arab –dalam hal ini kridibilitas pengajar dan proses pembelajarannya– juga turut memperparah keadaan. Realita di lapangan, sebagian besar pengajar bahasa Arab di Indonesia adalah mereka yang senyatanya tidak memiliki kapasitas ke arah sana. Yang penting jebolan pesantren, bisa mengaji dan kentara beraura “alim”, sosok seperti ini sudah dianggap mampu mengempu materi bahasa Arab. Asumsi seperti inilah yang menggejala di masyarakat pada umumnya.

Fenomena ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Paralelisasi antara bahasa Arab dan Islam yang menggejala di Indonesia, dan mungkin di banyak negara berpenduduk Islam lainnya, bisa kita asumsikan sebagai penyebabnya. Pada titik inilah, tugas pengajar bahasa Arab sebagai bahasa asing semakin terasa berat dan penuh tantangan.

Untuk itu, sembari terus menyadari realita pembelajaran bahsa Arab di Indonesia saat ini, upaya untuk terus mengembangkan potensi diri guru dan pengetahuan seputar kebahasaan –termasuk di dalamnya mendalami linguitik bahasa Arab– menjadi keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi dalam rangka mengembangkan pembelajaran bahasa Arab di kalangan pelajar Indonesia.

Tanpa itu semua, harapan meningkatkan pembelajaran bahasa Arab tidak lebih sekedar “isapan jempol” yang hanya memamerkan simbolisasi Islam untuk pencitraan agar semakin diakui eksistensi dan peranannya dalam kancah internasional. Akhirnya, harapan semakin meningkatkan kompetensi pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing di kalangan pelajar Indonesia menjadi hal yang realistis melalui pendalaman linguistik. Wallahu a’lam...



Daftar Pustaka
1. Abdul Chaer, Linguistik Umum, hal.25, cet.III, PT. Asdi Mahasatya, Jakarta, 2007
2. http://zoelfansyah.blogspot.com/2011/01/kajian-analisis-kesalahan-berbahasa.html
3. http://tata-bahasa.110mb.com/Fonologi.htm
4. Research and Studies Center, The Dictionary English-Arabic, hal.446, Dar al-Kutb al-Ilmiyah, Libanon, 2004
5. H.R. Taufiqurrahman, Leksikologi bahasa Arab, hal.2, cet.I, UIN Malang Press, 2008
6. Abdul Fattah, Musykilã al-lughah wa al-Takhãtub fi daw’ ;Ilm al-Lughah al-Nafsi, hal.83, Cet.I, Dar al-Quba, Kairo, 2002














Dosen Pembimbing
Prof. Effendi Kadarisman, P.hD


Program Doktor
Pendidikan Bahasa Arab
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
2010

7.1.11

~ METODE ALAMIAH BELAJAR AGAMA ~

Oleh: Agus Mustofa

Metode yang paling manjur dalam sebuah pembelajaran sebenarnya sangatlah sederhana: ‘tirulah cara belajar anak kecil’. Tentu saja yang alamiah. Jangan yang sudah direkayasa oleh para orang dewasa yang ada di sekitarnya. Apalagi yang sudah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu, sehingga menjurus kepada doktrin, yang menyebabkan anak-anak tidak tumbuh berkembang secara sehat dalam pemikirannya. Menurut Anda anak-anak itu belajar secara paedagogi ataukah Andragogi?

Cobalah lihat bagaimana proses belajar anak-anak untuk menjadi pintar.

  1. Keingintahuannya sangat besar. Kecuali punya kelainan bawaan. Segala macam dia eksplore untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Dimulai dari dirinya, dia sering memainkan-mainkan anggota badannya. Misalnya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Mengulum-ngulum jari-jarinya. Memegang apa saja yang bisa dipegang dan seterusnya. Dia sedang mencoba mengenal, mempersepsi, merasakan sensasi, dan kemudian menyimpannya di dalam memori. Suatu saat, itu berguna untuk memutuskan sesuatu terkait kejadian yang sedang dia hadapi.
  2. Dia tidak mengenal rasa takut dan malu, karena dia belum punya persepsi terhadap sebuah sistem nilai. Kecuali sudah ditakut-takuti terlebih dahulu atau ditanamkan sikap terhadap suatu nilai moral tertentu. Yang ada di benaknya adalah keingintahuan, dan ia ingin melampiaskan sepuas-puasnya. Nah, pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, membuat tertawa dan menangis, dan sebagainya itulah yang akan menjadi sistem nilai baginya setelah beranjak dewasa. Jika pengalaman masa kecilnya kurang lengkap terhadap sistem nilai ini maka biasanya saat dewasa ‘bermasalah’.
  3. Tidak mengenal kata ‘sulit’. Karena memang dia tidak tahu. Yang ada hanyalah, ingin memperoleh sesuatu. Jika dia tidak bisa memperoleh, dia akan berusaha terus untuk memperolehnya. Sekarang gagal, ya nanti. Nanti gagal, ya besok. Besok gagal, ya lusa. Dan seterusnya. Orang-orang di sekitarnyalah yang menyugesti dia untuk menganggapnya sulit. Padahal, sebenarnya bagi dia ‘mudah’ dan ‘sulit’ itu sama saja.
  4. Melihat dan meniru apa yang ada di sekitarnya. Sejak kecil anak-anak tidak tahu apa-apa. Dia menjadi tahu segala sesuatu karena melihat dan meniru yang ada di sekitarnya. Mulai dari cara tertawa, cara menangis, cara makam, cara mandi, tidur, bekerja, berpakaian, bergaul, berbahasa, sampai beragama. Karena itu, kita bisa mengenal asal usul suatu suku bangsa dari cara dia menyikapi dan melakukan sesuatu. Suku Jawa, suku Madura, Batak, Sunda, atau Cina, Arab, Eropa, Amerika, dan seterusnya, mereka memiliki kekhasan yang sama karena belajar dari lingkungan yang sama sejak kecil. Bagi orang Indonesia, bahasa Inggris dan Arab adalah sulit misalnya, tetapi bagi anak-anak yang terlahir di Inggris dan Arab tidak ada kata sulit. Demikian pula sebaliknya.

Maka, kalau kita meniru proses pembelajaran pada seorang anak, kita akan memperoleh analoginya untuk proses pembelajaran dan pendidikan agama bagi umat Islam. Bahwa cara belajar yang paling efektif itu adalah:

1. Dimulai dari keingintahuan yang besar. Kalau sang pembelajar sendiri sudah tidak ingin tahu tentang hal tersebut, maka proses pembelajaran dengan metode apa pun tidak akan efektif. Untuk menjadi efektif, kita harus membangkitkan dulu rasa keingintahuan mereka. Ini bagi saya syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pembelajar. Bagaimana caranya membangkitkan keingin tahuan itu? Tentu saja sangat beragam tergantung situasi dan kondisi yang menyertainya. Tetapi yang paling efektif, menurut saya, adalah harus melibatkan kepentingan sang pembelajar sendiri. Kalau dia saja sudah menganggap tidak berkepentingan dengan topik yang sedang dibicarakan, tentu saja dia tidak akan tertarik. Dan kalau sudah tidak tertarik, tentu tidak efektif.

Karena itu, untuk bisa mengenal Allah misalnya, kita harus mengenal diri sendiri. Supaya apa? Supaya kita tahu bahwa diri kita memiliki berbagai keterbatasan. Kalau sudah tahu dirinya serba terbatas, maka ia akan merasa membutuhkan ’sesuatu’ di luar dirinya yang bisa membuat dia memperoleh kepentingannya. Awalnya mungkin dia meminta tolong kepada sesama. Tetapi setelah dia tahu bahwa sesamanya juga memiliki serba keterbatasan, dia akan mencari yang lebih tinggi lagi. ’Sesuatu’ yang memiliki kriteria ’serba hebat’ dalam segala hal. Sehingga ketika dia memperoleh masalah dia bisa curhat dan minta tolong kepada-Nya. Menjadi tempat bergantung dan berlindung. Dari sinilah kemudian proses bertuhan itu bergulir secara alamiah. Tentu saja, melewati tingkatan-tingkatan yang akan menggiringnya sampai ke pertemuan dengan Sang Penguasa alam semesta secara hakiki.

2. Jangan merasa takut dan malu dalam beragama. Perasaan takut dan malu ini seringkali dimunculkan oleh pihak-pihak diluar diri kita. Misalnya oleh guru atau orang tua yang doktrinal. Misalnya, ditanamkan kepadanya, kalau dia belajar sendiri pasti akan gagal. Akan tersesat. Ditemani setan, dan sebagainya. Kenapa tidak dikatakan sebaliknya saja. Kalau dia rajin belajar sendiri dia akan sukses, punya wawasan yang luas yang mengantarkannya pada kesuksesan, dan ditemani oleh Allah Sang Maha Berilmu. Yang demikian tentu sangat positip buat sang pembelajar.

Kalau belum apa-apa sudah takut dan malu, maka proses pembelajarannya akan terhenti. Allah pun di dalam al Qur’an selalu memotivasi kita untuk bangkit dengan semangat yang kuat. Misalnya, dikatakan-Nya bahwa Dia tidak membebankan apa-apa yang lebih dari kekuatan kita. Dia juga mengajarkan, bahwa Dia mengampuni dosa-dosa yang dilakukan karena ketidaksengajaan. Dan sebagainya.

QS. Al Baqarah (2): 286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari) yang dikerjakannya...

QS. Al Baqarah (2): 225

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Maka bebaskanlah perasaan dan pikiran kita dalam proses belajar. Mirip anak kecil yang pingin tahu segala. Yang penting niatnya diluruskan dulu. Karena, kata Nabi, hasil usaha kita itu akan berbanding lurus dengan niat yang kita tanamkan sejak awal. Kalau niatnya sudah buruk, hasilnya pasti buruk. Tetapi, kalau niatnya ingin menjadi lebih baik, Insya Allah hasilnya akan lebih baik ke masa depan. Yakinlah, jangan ragu sedikitpun.

QS. Faathir (35): 43

...Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri...

Sebagian besar kegagalan sebenarnya disebabkan oleh faktor internal daripada eksternal. Ada yang disebabkan oleh keragu-raguan dan ketidakyakinan. Ada yang disebabkan oleh kurang kerasnya usaha. Ada yang disebabkan oleh ketidak konsistenan dalam mencapainya.

Perbedaan antara orang sukses dan tidak sukses itu sebenarnya hanya satu saja. Yakni, orang yang tidak sukses: ketika gagal dia tidak bisa bangkit lagi. Sedangkan orang yang sukses: ketika gagal, dia bangkit lagi. Gagal, bangkit lagi. Gagal bangkit lagi, dan seterusnya. Sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika pun dia tidak memperoleh persis seperti apa yang dia harapkan, dia tetap berpuas diri menerima apa yang telah dicapai dengan usaha kerasnya itu. Dan, dia bisa mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut untuk upaya berikutnya. Pada hakekatnya, dia tetap sukses memperoleh manfaat dari seluruh upaya yang telah dia lakukan.

3. Perasaan ’sulit’ akan sesuatu sebenarnya ditanamkan dari luar diri kita. Misalnya, ada yang mengatakan: memahami al Qur’an itu sulit lho..! Syaratnya banyak, ada belasan. Harus ini dulu, harus itu dulu, dan seterusnya, barulah boleh mempelajari al Qur’an. Ada pula yang mengatakan shalat khusyuk itu juga sulit lho..! Harus begini, harus begitu, dan seterusnya baru bisa khusyuk. Dengan cara begini, sang pembelajar sudah memperoleh ’beban’ dulu. Dan akhirnya, benar-benar menemui kesulitan. Padahal itu adalah sugesti yang telanjur tertanam di alam bawah sadarnya.

Kenapa tidak dikatakan saja bahwa belajar agama ini mudah. Persis seperti yang diajarkan Allah. Bahwa al Qur’an ini mudah untuk dipelajari, maka pelajarilah. Bahwa beragama ini mudah, dan Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, bukan hendak menyulitkannya. Dan seterusnya.

QS. Al Qamar (54): 17

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

QS. Al Baqarah (2): 185

... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...

Sehingga Allah memotivasi kita dengan firmannya, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Dalam istilah lain, sebenarnyalah ’kesulitan’ itu diciptakan satu paket dengan ’kemudahan’. ’Masalah’ diciptakan satu paket dengan ’solusi’. Penyakit diciptakan satu paket dengan obatnya. Dan seterusnya. Tinggal bagaimana kita bisa menemukan pasangan paket tersebut. Agama adalah sesuatu yang mudah dan menyenangkan, serta memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

QS. Alam Nasyrah (94): 5-6

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

4. Proses pembelajaran tidak terlepas dari melihat contoh dan menirunya. Itulah teknik yang sangat efektif. Belajar bahasa misalnya, lihat dan amati saja orang-orang yang menggunakan bahasa itu dalam kesehariannya, dan kemudian tirulah. Maka Anda akan bisa berbicara seperti pengguna aslinya. Demikian pula belajar ilmu-ilmu lainnya. Amati, pahami, tirukan, biasakan, dan Anda pun menjadi BISA. Tentu saja ada yang sekedar bisa, tapi ada juga yang ahli, bergantung pada banyak hal yang menyertai proses pembelajarannya.

Proses beragama juga demikian. Mendidik anak, keluarga, dan umat harus dengan keteladanan. Tidak bisa hanya dengan omongan. Yang demikian dikritik keras oleh Allah di dalam al Qur’an. ’Jangan hanya ngomong, sesuatu yang tidak kita kerjakan’. Karena yang demikian ini tidak memberikan pendidikan secara efektif. Dan sebaliknya mendidik umat menjadi orang-orang yang munafik.

QS. Ash Shaff (61): 3

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Maka, tanamkanlah proses beragama itu lewat keteladanan. Cara shalat kita akan ditiru anak-anak kita. Cara berpuasa kita juga ditiru mereka. Cara berdoa, cara bersedekah, cara bersikap terhadap orang lain, cara bebicara, cara berpikir, cara menganalisa masalah, cara memutuskan persoalan, cara membuat perencanaan kemasa depan, sampai pada cara kita ’besikap’ tehadap Tuhan dengan segala dinamika ujian yang diberikan kepada kita, atau pun mensyukurinya. Kuncinya adalah: keteladanan, keteladanan dan keteladanan...!

QS. Mumtahanah (60): 4

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia...

QS. An Nahl (16): 120

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

QS. Al Ahzab (33): 21

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...

Tentu saja yang dimaksud berteladan tidak harus sama persis secara fisikal. Melainkan ’sejiwa’ secara substantif. Karena, sepersis apa pun kita meniru orang lain, tidak akan pernah menjadi orang lain itu. Kita tetap akan menjadi diri kita sendiri. Cuma ’ketularan’ polanya saja.

Maka, bagaimanakah kesimpulan proses pembelajaran yang efektif bagi umat Islam dalam beragama? Menurut saya sebagai berikut:

1. Jika yang kita didik adalah ANAK-ANAK, maka sebenarnya itu lebih mudah. Berikan saja keteladanan agar dia meniru apa saja yang sedang kita ajarkan. Kalau kita mau dia menjadi anak yang ahli ibadah, ajaklah dia bersama-sama untuk beribadah secara istiqomah. Kalau kita mau anak kita menjadi orang yang santun dan berakhlak mulia, maka contohilah dia dalam bertutur kata dan bergaul dengan siapa saja dengan akhlak yang mulia. Jika kita ingin dia menjadi dermawan, maka ajaklah dia sering-sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kepedulian kepada kaum dhu’afa. Kalau kita ingin dia menjadi seorang pemikir hebat, maka ajaklah dia untuk berdiskusi setiap saat tentang segala macam permasalahan sehingga dia menjadi terbiasa menganalisa, menyimpulkan, memutuskan, dan mengekspresikan. Dan seterusnya.

Dalam konteks ini, orang tua dan guru harus menjadi pemicu, pemancing, fasilitator dan TELADAN. Karena sang anak tidak akan meniru apa yang diomongkan, kalau ternyata dia melihat kontradiksi antara omongan dan perbuatan guru atau orang tuanya. Atau, setidak-tidaknya dia akan meniru cara melakukan ’kontradiksi’ itu. Misalnya, dia akan menjadi pembohong. Di mulut mengatakan A, di hati B, di perbuatan C.

Sebagai seorang panutan, tentu guru atau orang tua harus tampil seutuhnya. Kepandaiannya akan ditiru. Cara menyampaikan gagasan akan ditiru. Cara menjawab juga ditiru. Cara menghindar dan menyelamatkan diri juga ditiru. Termasuk cara marah atau sabarnya ketika dikritik juga akan ditiru. Bahkan sampai kualitas keikhlasan yang terpancar dari sikapnya pun akan ditiru.

Jangan segan untuk menunjukkan ketidaktahuan di hadapan anak-anak kita. Justru, itu harus dijadikan sebagai momentum untuk mengajarkan kejujuran, sekaligus motivasi untuk pantang menyerah dalam mencari jawaban atas ketidaktahuan tersebut. Keteladanan untuk terus belajar, dan tidak malu dengan ketidak tahuan, asalkan terus berusaha mencari solusinya. Karena sesungguhnya sikap tidak bisa dibentuk dengan omongan, melainkan dengan keteladanan. Dan kemudian dibiasakan.

2. Jika yang kita hadapi adalah orang dewasa, yang sudah PUNYA sistem nilai yang terbentuk sebelumnya. Dan sudah menjalankan keyakinannya. Ini lebih sulit. Karena mereka sudah memiliki barrier alias dinding penghalang di benaknya, dalam bentuk yang beragam. Sangat bergantung pada masa lalunya. Apakah dia orang yang terbuka terhadap segala hal yang baru, ataukah dia orang yang tertutup dan ’keukeuh’ dengan pendapat lamanya. Yang paling sulit, adalah mereka yang sebelumnya sudah masuk dalam lingkaran doktrinal.

Ada beberapa teknik untuk mengajak mereka belajar agama. Tetapi pada dasarnya semuanya sama, yakni: melibatkan sang pembelajar untuk mengalami dan menjiwai sendiri apa yang sedang dipelajari. Kalau tidak, hasilnya dijamin tidak akan efektif. Biasanya akan muncul sikap acuh tak acuh, merasa tidak butuh, menganggap remeh, tidak berkepentingan, bahkan buang-buang waktu saja.

Yang ’paling mudah’, dalam kelompok ini, adalah jika mereka bertanya duluan. Yang demikian ini sudah terpenuhi syarat utamanya, yakni dia ’ingin tahu’ dan merasa ’membutuhkan’. Kecuali, kalau pertanyaannya hanya untuk ngetes.. :( Pada kelompok pertama ini, halangan psikologisnya relatif lebih rendah. Kita tinggal memberikan jawaban yang logis dan bisa diterima oleh akal sehatnya saja, sambil tentu saja tetap menunjukkan keteladanan. Bahwa kita juga melakukan apa yang menjadi jawaban kita itu.

Yang ’kurang mudah’ adalah mereka yang tidak bertanya tetapi memiliki pemikiran yang terbuka. Keingin-tahuannya terhadap masalah tersebut agak kurang, sehingga kita harus pandai-pandai ’menarik perhatiannya’. Supaya dia menganggap topik pembicaraan kali ini adalah bagian dari kepentingan dan kebutuhannya.

Yang ’agak tidak mudah’, adalah mereka yang membantah dengan konsep yang berseberangan. Sebenarnya mereka sudah tertarik dengan topik tersebut, tetapi berbeda pendapat. Kita harus bisa ’menunjukkan’ titik lemah dari pendapat dia terlebih dahulu, baru kemudian mengajukan konsep kita kepadanya. Jika dia orang yang terbuka, biasanya bisa menerima dengan lapang dada.

Dan yang ’tidak mudah’ adalah mereka yang ’menyerang’ dengan konsep yang berbeda, tetapi sambil menutup hati dan pikirannya untuk menerima apa pun yang berbeda dengan pendapat dia. Yang ini ’sama tidak mudahnya’ dengan mereka yang tidak bertanya, tapi sambil menutup hati dan pikirannya dari pendapat apa pun yang berbeda dengannya. Istilahnya cuek bebek... :(

QS. Al Baqarah (2): 88

Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Sungguh Allah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali diantara mereka yang ( bisa) beriman.

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~