6.8.13

Pengamalan Nilai Ramadan Pasca-Ramaadan



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر ..
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر كبيرا .. والحمد لله كثيرا .. وسبحان الله بكرة وأصيلاً .
الله أكبر ماَ أَشْرَقَتْ وُجُوْهُ الصَّائِمِيْنَ بَشَراً .. الله أكبر ماَ تَعاَلَتِ اْلأَصْواَتُ تَكْبِيْراً وَذِكْراً ...
الله أكبر ماَ تَوَالَتِ اْلأَعْياَدُ عُمْراً وَدَهْراً .. لك الْمَحاَمِدُ ربَّنا سِراً وَجَهْراً .. لَكَ الْمَحاَمِدُ رَبَّنا دَوْماً وَكَرَّا .. لَكَ الْمَحاَمِدُ ربَّنا شِعْراً وَنَثْراً.. لك الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ كَفَرَ كَثِيْرٌ مِنَ الناَّسِ وَأَسْلَمْناَ، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ ضَلَّ كَثِيْرٌ مِنَ المسلمين وَابْـتَدَعُوْا وَلِلسُّـنَّةِ أَقَمْناَ، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ فَزَعَ النَّاسُ وَأَمَنْـتَنا، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ جاَعَ كَثِيْرٌ مِنَ الناَّسِ وَأَطْعَمْـتَناَ، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ بَيْنَ يَدَيْكَ أَقَمْـتَناَ، وَلَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ لِشَهْرِ الصِّياَمِ كِلِّهِ صاَئِمِيْنَ لَكَ أَشْهَدْتَناَ .. لَكَ الْحَمْدُ أَحَقَّ مَحْمُوْدٍ مَحْبُوْبٍ وَأَعْظَمَ مَرْغُوْبٍ مَطْلُوْبٍ . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن نبينا وحبيبنا وصفينا محمدَ بْنِ عَبْدِ الله ، صاَحِبَ الْحَوْضِ الْمَوْرُوْد ، وَاللِّواَءِ الْمَعْقُوْد، وَالصِّراَطِ الْمَمْدُوْد، يا ربنا ويا مولانا بلغه صلاتنا وسلامنا في هذه الساعة، يا ربنا لا تحرمنا رؤياه في الجنة، اللهم صل وسلم وبارك وأنعم عليه وعلى آله الأطهار وصحبه الأخيار وأتباعه الأبرار .. أما بعد: فَياَ عِباَدَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِياَيَ نَفْسِي بِتَقْوَى الله، وَاصْبِرُوا وَصاَبِرُواْ وَراَبِطُوْا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Hadirin wal hadirat, jama’ah solat Id yang berbahagia….
     Di pagi hari yang mulia, khidmat, dan  penuh barakah ini, mari bersam-sama kita perbanyak rasa syukur ke hadirat Allah SWT, seraya terus meningkatkan kualitas ketaqwaan: bermujahadah dalam melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjahui semua larangan-Nya. Pada kesempatan ini juga, bersama-sama kita agungkan asma Allah, dengan memperbanyak bertakbir, tahmid, tahlil dan tasbih, sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita; menenggelamkan diri dalam suasana kemenangan, setelah sebulan lamanya kita laksanakan ibadah puasa, sebagai manifestasi ketaqwaan. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang dikaruniai kefitrahan, dan mampu meraih derajat muttaqin pasca-tempaan selama Ramadan. Amin ya Rabbal alamin.

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Fitri, Rahimakumullah..
     Baru saja kita telah menunaikan shalat Id secara berjamaah. Selain sebagai pertanda kesyukuran atas nikmat-nikmat Allah yang senantiasa kita rasakan, ini juga menjadi ungkapan rasa suka cita bahwa kita sudah menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya. Ya, satu kebahagiaan bahwa kita telah menjalankan pendidikan tahunan yang muaranya bertujuan agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana ditegaska dalam Al-Qur’an tentang diwajibkannya atas kita puasa Ramadan: (لعلكم تتقون). Itulah tujuan inti puasa.
      Sebagai muslim, seyogyanya kita menkaji dan mempelajari; atau jika perlu, kita pertanyakan ulang: apa kaitannya antara puasa dengan ketaqwaan itu sendiri?! Pada titik ini, kita dituntut cerdas memahami permasalahan; kita berkewajiban memahami penegasan Al-Qur’an tentang puasa dan ketaqwaan.

Allahu Akbar 3x walillahilhamd
         Sebagai ilustrasi, sebagaimana kita fahami bahwa di antara semua ibadah, yang paling bersifat rahasia adalah puasa, dalam arti bahwa yang tahu kita berpuasa atau tidak hanyalah kita dan Allah semata, orang lain tidak. Saat kita lapar atau haus, tanpa sepengetahuan manusia, bisa saja kita makan dan minum. Namun kita tetap menahan diri untuk tidak melakukannya. Kenapa? Itu sebetulnya merupakan latihan bersikap jujur kepada Allah swt dan juga kepada diri sendiri.
         Sementara itu, dalam ibadah selain puasa, kita dianjurkan menampakkannya, alias terang-terangan. Kewajiban shalat, umpamanya, kita disunnatkan berjamaah. Kita tahu, sholat berjamaah lebih afdol dari pada sholat sendirian. Ibadah Haji, apa lagi. Tidak mungkin kita melaksanakannya sendirian. Zakat lebih menarik lagi, karena dalam Al-Quran ada indikasi bahwa Tuhan tidak peduli, apakah orang yang membayar zakat itu ikhlas atau tidak. Yang penting dari zakat adalah orang miskin tertolong, karena tujuan zakat adalah menolong orang miskin. Ketiga jenis ibadah di atas sangat nampak nilai sosialnya.   
Sekali lagi, di antara ibadah-ibadah, yang paling bersifat pribadi adalah puasa. Puasa merupakan latihan menghayati kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari; Allah selalui beserta kita, di mana pun berada. Inilah inti dari takwa: kesadaran bahwa dalam hidup ini kita selalu mendapat pengawasan dari Allah Swt. yang gaib. Ya, Allah merupakan Dzat yang Ghaib.
Dari sini kita faham, ternyata moralitas yang sejati me­merlukan dimensi kegaiban, yaitu bagaimana orang tetap berbuat baik dan menghindar dari kejahatan meskipun tidak ada yang tahu, karena Allah tahu. Hal ini menjadi  dasar kehidupan yang benar; yaitu taqwa pada Allah Swt., dan takwa sifatnya pribadi: tidak ada yang tahu bahwa kita bertakwa kepada Allah atau tidak, kecuali kita sendiri dan Allah Swt., bahkan mungkin kita sendiri juga tidak tahu. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (Q., 1: 6).

Kaum muslimin sekalian yang berbahagia
         Pelajaran serta latihan bahwa Allah selalu mengawasi tingkah laku kita, sejatinya tidak berhenti saat puasa saja. Pelajaran ini juga berlaku dalam kehidupan kita setelah Ramadan. Karena pada hakekatnya, di luar bulan Ramadan pun, saat kita melanggar aturan, Allah tahu; saat kita berbuat curang, berlaku dolim, melakukan maksiat, Allah juga tahu.  Allah adalah dzat yang maha mengetahui, bahkan sesuatu yang terbersit dalam hati kita, Dia tahu dengan pasti.
     Jika saat Ramadan kita terlatih untuk tidak makan dan minum di siang hari, kita terbiasa meningkatkan amal ibadah, terdidik menahan diri untuk meluapkan hawa nafsu, maka pelajaran serta latihan ini harus kita fahami berlaku dalam waktu-waktu selama hidup kita; jadikan pelajaran serta latihan selama Ramadan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam sisa waktu umur kita.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah
        Selain untuk tujuan taqwa, ibadah puasa Ramadan juga menjadi media agar kita bisa kembali pada kefitrahan, alias kesucian diri. Doa kita setelah Ramaadan: (جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين ): "semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bisa kembali pada kefitrahannya, dan oraang-orang yang beruntung".
        Kenapa dikatakan "kembali" pada kesucian? Kenapa bukan "menjadi suci"? Karena pada hakekatnya semua manusia, termasuk kita, seperti dijelaskan Rasul, adalah terlahir dalam keadaan suci. Tidak perduli siapa pun orang tua si bayi. Mau anaknya presiden, anak kiai, anak pengusaha, bahkan anak maling, pembunuh, atau penjahat kelas kakap sekali pun, dalam pandangan Islam, bayi yang terlahir tetap dalam kefitrahan, atau kesucian.
         Sabda beliau: (كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو يمجسانه  أو ينصرانه ), setiap bayi terlahir dalam keadaan suci, lantas kemudian, orang tuanyalah yang berperan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Majusi, atau Nasrani.
         Dari sini bisa dimengerti, bahwa kita ini semuanya suci tanpa dosa saat pertama terlahir. Hanya saja, nah ini yang kemudian menodai kesucian diri adalah kelemahan kita mengendalikan diri untuk bisa tetap suci. Sekali lagi, kita lemah dalam mengendalikan diri untuk tidak melanggar aturan Allah. Berlatih mengendalikan diri inilah yang juga menjadi tujuan nilai yang hendak dicapai dalam ibadah Puasa Ramadan.

Ayal faaiziina wal faaizaat...
   Disebutkan sebelumnya, salah satu kelemahan terbesar kita sebagai manusia adalah ketidakmampuan menahan diri. Hal ini tergambar dalam kisah kakek kita Adam as, bersama istrinya Hawa, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah, ayat 35. Allah berfirman:
وَقُلْنَا ياَئاَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ.
Artinya:
 “Hai Adam! Tinggal­lah kamu dan istrimu dalam Taman (surga), dan makanlah makanan dari sana apa yang kamu sukai. Tetapi jangan dekati pohon ini supaya kamu tidak menjadi orang yang zhalim
Saat pertama diciptakan, kakek kita Adam dan Hawa ditempatkan di Surga. Allah menyediakan bagi keduanya makan dan minuman, juga apa saja yang dibutuhkan telah tersedia. Allah hanya memberikan satu larangan, yakni tidak memakan satu jenis buah yang oleh banyak mufassir dinamai buah Khaldi.
Pelarangan tersebut juga merupakan satu MoU atau perjanjian antara Adam dan Allah. Ditegaskan:
وَلَقَدْ عَهِدْنَآ إِلَى ءَادَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا 
" Dan Kami telah menjanji­kan sebelum itu kepada Adam, tetapi dia lupa, dan Kami tidak mene­mukan padanya keteguhan hati" (Taha: 115)
   Ya, karena ketidakmampuan Adam menahan diri, lebih mendengarkan suara nafsu ketimbang suara hati kecil, beliaupun tergoda bujukan Iblis. Akibatnya, Allah turunkan Adam bersama istrinya dari derajat ketinggian di surga, ke derajat yng rendah, yakni bumi.              
Dikatakan: (قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا... الأية), "Allah berfirman: turunlah kalian berdua dari surga... (Taha: 123)

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah...
       Dalam kenyataannya, memang sumber terjerumusnya manusia kedalam  lembah kesesatan, turunnya derajat manusia di mata Allah, bahkan juga di mata kita sesama manusia adalah ketidakmampuannya menahan diri, karena keserakahan serta ketamakannya dalam urusan duniawi. Mereka tidak kuasa menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran; mereka labil juga rentan melanggar batatsan-batasan norma yang telah disepakati bersama, baik norma agama, ataupun norma-norma umum  lainnya. Inilah kelemahan terbesar kita.
Hal yang mungkin kita renungi bersama adalah, jika kakek kita Adam yang hanya punya satu larangan saja masih tidak kuasa menahan diri, masih bisa tergoda syaitan, sekali lagi hanya satu pelanggaran! Lantas, bagaimana kita yang terdapat banyak sekali garis batasan yang tidak boleh dilewati?! Larangan bagi kita dalam kegidupan ini sangat kompleks. Dari sinilah kita dianggap perlu terus dilatih oleh Allah dengan ibadah puasa, agar kita bisa kembali lagi pada kefitrahan kita, suci tanpa noda seperti saat dulu kita terlahir di dunia ini.
Maka, untuk nilai-nilai puasa Ramadan inilah, saya mengajak diri sendiri dan segenap hadirin agar bisa dan iklash meneruskan amalan mulia saat Ramadan kemarin, sampai ajal menjemput kita. Semoga Allah memberikan taufiq serta hidayah-Nya untuk harapan dan tekat kita ini. Amien...    
           
     Kemudia, setelah Kewajiban puasa Ramadan dijalankan dengan baik, Al-Quran lantas menganjurkan setiap orang yang beriman untuk bertakbir atau mengagungkan asmâ’ Allah Swt., Dalam surah al-Baqarah ayat 185 dijelaskan:
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ"
  …Allah menghendaki yang mudah bagimu dan tidak ingin mempersulit kamu. (Ia menghendaki kamu) mencukupkan jumlah bilangan, serta mengagungkan Allah yang telah memberi petunjuk kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Q., 2: 185).
Dengan anjuran bertakbir tersebut, sepertinya seorang muslim yang telah menjalankan ibadah puasa diasumsikan berada dalam kemenangan atau kesucian, sehingga yang ada hanya Tuhan dan yang lain dianggap tidak berarti apa-apa. Allâhu Akbar 3x, Allah Maha Besar.
Allahu Akbar: tidak menilai orang besar karena baju barunya!
Allahu Akbar: tidak melihat orang besar karena hartanya!
Allahu Akbar: tidak menganggap orang besar karena jabatan dan kedudukannya!
Allahu Akbar: tidak menilai segala sesuatu selain Allah, besar!
Allahu Akbar, tidak pernah menganggap diri sendiri, besar! Senyatanya kita rendah di sisi Allah, kita hina di hadapan Allah, karena banyaknya dosa, dosa, dan dosa yang kita perbuat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd
          Itulah makna filosofi kalimat takbir: menyatakan dengan sebanar-benarnya kebesaran Allah, tidak sekedar terucap melalui lisan, tapi diyakini dengan hati yang paling dalam, dan diperaktekkan dalam amalan sehari-hari. Keyakinan semacam ini tidak akan pernah terwujud, tanpa sebelumnya meyakini keberadaan Allah; meyakini haqqul yakin bahwa Allah meha mengetahui tentang apa saja yang akan, sedang dan telah kita lakukan. Itulah beberapa pelajaran inti dalam ibadah bulan Ramadan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa kembali pada fitrahan diri, dan terlatih mengendalikan diri setelah kepergian bulan Ramadhan tahun ini; tetap menempati kehormatan sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah akibat tak kuasa menahan godaan yang selalu mengintai. Akhirnya, minal âidzîn wal fâizîn, selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1434 Hijriyah.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين المقبولين، وبارك لنا فى القرآن العظيم. ونفعنا بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، إنه هو البر الرؤوف الرحيم،
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: "قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى"
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين
Zul FS,














18.4.13

Menjadikan Rasul Sebagai Uswah Hasanah Kehidupan





الحمد لله الذي تقدست عن الأشباه ذاته...
أشهد أن لا إله إلا الله ذوالعظمة والجلال والكمال والدوام، وأشهد أن محمدا عبده ورسول الله المخصوص بأكمل قرب و أرفع مقام.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا عباد الله... أوصيكم ونفسي أولا بتقو الله وطاعته، فقد فاز المتقون وخاب الطاغون..
Kaum muslimin sekalian, rahimakumullah.
 Nasehat TAQWA....

Hadirin sidang shalat Jum’at yang berbahagia
Mungkin sudah menjdi ciri khas serta watak alami manusia untuk meniru atau mengikuti segala hal yang dianggap baik dan bisa mendatangkan manfaat, setidaknya bagi diri sendiri. Realita ini berlaku dalam semua aspek kehidupan.
Dalam hal pendidikan, umpamanya, ketika melihat seseorang berprestasi di bidang akademis, kita cenderung ingin tahu apa, bagaimana dan dimana orang tersebut mengenyam pendidikan. Jika tidak bisa melakoninya untuk diri sendiri, setidaknya bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk pendidikan anak-anak kita. Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan bersosial. Saat melihat kedudukan seseorang tinggi dan terhormat di mata masyarakat, tidak perlu dipungkiri, kita pun sebenarnya ingin seperti itu.
Dalam hal ekonomi, apalagi. Disadari atau tidak, masyrakat kita saat ini cenderung menerapkan faham pragmatisme dalam melakoni bidang ekonomi dan usaha kerja. Usaha atau pekerjaan yang dianggap menguntungkan, berbondong-bondong diikuti khalayak ramai. Urusan kecakapan serta keahlian pribadi bukan lagi menjadi pertimbangan utama. Yang penting bisa dan berkesempatan melakoni. Hal-hal lainnya urusan belakang.  

Jama’ah sholat Jum’at yang berbahagia….
            Jika lantas ditanya, bolehkah melakukan hal-hal sebagaimana tersebut? Bolehkan kita meniru kehidupan seseorang untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Tentu, hal tersebut bukan dan tidak ada yang berhak melarang. Bisa jadi, mereka-meraka yang kita tiru, serta menjadi panutan hidup adalah sosok-sosok yang juga meniru orang-orang sebelum mereka. Tidak menutup kemungkinan, kalau keberhasilan serta kesusksesan orang-orang yang kita teladani, terispirasi dari keberhasilan dan kesusksesan orang-orang sebelum mereka. Begitulah roda kehidupan ini berputar.
             Selama tidak bertentangan dengan norma serta aturan yang berlaku, baik aturan agama, juga norma pada umumnya, upaya  (dalam tanda kutip) "ikut-ikutan", atau yang biasa kita sebut dengan istilah "tauladan", merupakan satu hal yang sangat positif, bahkan dianjurkan bagi kita. Pada titik ini lah sebenarnya kita telah menerapkan satu adigium yang tidak asing lagi bagi kita, yakni "Tauladan yang baik". Dalam bahasa agama, istilah ini kita kenal dengan "uswatun hasanah".

Kaum muslimin yang dirahmati Allah..............
            Al-Qur'an sebagai kitab yang menjadi pegangan serta ajaran umat Islam juga mensinyalir anjuran untuk menjadikan orang-orang sebelum kita sebagai teladan. Nabi Ibrahim as dan para pengikutnya, serta Nabi besar Muhammad SAW, secara eksplisit termaktub sebagai sosok-sosok yang pantas dijadikan suri tauladan. Dalam Al-Qur'an, surat Al-Mumtahanah ayat 4, ditegaskan:
(قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ.. الآية), di surat yang sama, pada ayat ke-6 juga ditegaskan:
(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ)       
Mengenai keteladan baginda nabi Muhammad, Allah juga tegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab, ayat: 21:
(لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا), yang artinya: Sungguh telah ada bagi kamu sekalian, pada diri Rasulullah, satu suri tauladan; yakni bagi mereka yang berharap keridaan Allah, dan kedamaian di Hari Akhir, serta (panduan) bagi mereka (sebagai cara) cara mengingat (kebesaran) Allah. Wallahu a'lam bissawab..
  
Kaum muslimin rahimakumullah…
            Menarik untuk kita cermati, bagaimana bisa Nabi Ibrahim serta nabi Muhammad dijadikan standar pedoman suri tauladan bagi kita. Pada kesempatan singkat ini, ada baiknya sedikit kita refleksikan sejarah kehidupan Rasulullah. Banyak riwayat yang menjelaskan keteladanan beliau bagi kita. Apapun kedudukan kita dalam hidup ini, sosok Rasulullah bisa kita tiru. Sejak usia dini, hingga masa menjelang ajal, beliau bisa kita jadikan panutan.
            Kita yang masih muda, bisa meniru kegigihan serta perjuangan hidup nabi yang pantang menyerah pada keadaan. Sehebat apapun penderitaan hidup beliau. Seorang suami yang beristri satu, rasul bisa dijadikan tauladan keharmonisan rumah tangga. Atau yang berpoligami pun, teladan rasul patut ditiru dalam hal keadilan.
            Seorang bapak, bisa melihat kehidupan Nabi ketika memiliki anak dan ketika kematian anak-anaknya. Atau anda yang menjadi kakek, bisa juga menghayati pedoman hidup Rasulullah menyayangi dua cucunya, Hasan dan Husain. Bagi para penguasa, atau pemerintah, bahkan presiden sekali pun, tetap bisa menjadikan beliau sebagai panduan menjalankan amanah ummat.
Baginda saw telah meninggalkan warisan agung berupa tauladan kehidupan bagi kita ummatnya. Beliau telah melalui semua pengalaman-pengalaman hidup ini. Beliaulah nabi Muhammad saw yang telah diberi keistimewaan dengan semua ini, sebagai tugas dari Allah untuk membawa agama agung yang mempunyai ciri-ciri umum, kekal dan lengkap.

Ikhwanil muslimin as’ada kumullah....
Akhirnya, marilah kita berharap agar hati serta pikiran kita semakin dibukakan untuk bisa dan secara ikhlas menjadikan beliau sebagai tauladan dalam kehidupan kita sehari-hari, kapan, dimana dan siapa pun kita. Semoga kita bisa menjadi umat baginda Rasul yang kelak mendapat syafaatnya. Amin ya Rabbal alamin...

ومن يعمل مثقال ذرة خيرا يره # ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره (الآية)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم و نفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو البر الرؤوف الرحيم. وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.












5.12.12

النظرية التقديرية في كتاب سيبويه


لا ننكر أن النحو من العلوم الأساسية في تعليم اللغة العربية، وخاصة للدارسين غير الناطقين بها، فلا يمكن أن يستيطر أحد في اللغة العربية بدون سيطرته في النحو. والمزيد من ذلك، أن للعربية والنحو ربطا كارتباط ناحيتي النقود لا ينفصل بعضها بعضا. ففي النظر العام، إنهما وحدة؛ يعني أن في تعليم اللغة العربية تعليم النحو، وهكذا ينعكس الحال، أي لو نتعلم النحو نتعلم في نفس الوقت اللغة العربية.

يدل ذلك أن النحو من خصائص اللغة العربية في موقعها بين اللغات الأجنبية الأخرى لدينا الناطقين بغيرها. فهناك جريمر (Grammar) في اللغة الإنجليزية، أو نوريوخو شيكين (Noryooku Sikeu) في اللغة اليابانية، وفي اللغة العربية النحو، وهلم ارتباط أي اللغات بقواعدها اللغوية.

ومن ثم أننا نجد كثيرا من الدارسين يرون أن النحو كشيئ مخيف لدي المبتدئين؛ هؤلاء ينظرون أن النحو لا يزيد من العلم لمعرفة صواب شكل الجملة وخطاءه فحسب؛ لمعرفة أن الفاعل لا بد أن يرفع والمفعول ينصب، وهلم جرى. 

وهذا كله مما يسبب وجود فرقة التي تعارض ما ثبت في النحو، حيث يفنون لزوم تعلم القواعد اللغوية في تعلم اللغة المدروسة، وليس من الضروري عندهم أن يتكلف متعلِّم أي اللغة بتعلم قواعدها اللغوية. فلا يحتاج كفاءة النحو لكفاءة اللغة العربية، وهذا ما يذهب –للأسف- بعض العلماء العرب، نذكر واحدا منهم زكريا أوزون، كان يتردد في نقد النحو العربي وينتباه الخوف أحيانا في ربط النحاة النحو بالقرآن الكريم، فجعلوه –عند زكريا- كالقرآن لا يحق لأحد نقده أو معارضته. وكان بذلك يؤسف بكثرة من يقرأ النص العربي مراعيا قواعد النحو أولا ثم المعنى، فهو مهتم بأن يرفع وينصب ويجزم قبل أن يفهم، وهناك من يعود ليقرأ النص قراءة صامتة بعد قراءته الجهرية ليستوعب المعنى تماما، أي أن الشكل أساس القراءة الصحيحة ثم يأتي بعد ذلك المضمون الذي كثيرا ما نطوعه غصبا عنه ليخضع لقواعد النحو (الشكل) [1]

يتضح لنا مما راءاه زكريا أن النحو بطبيعته يكون مخيفا عليه لمتعلمي اللغة العربية المبتدئين، ولا نريد أن نضيع الوقت هنا بعرض سبب خيفتهم كالناطقين بغير العربية إلى مادة النحو، إذ الأمر نفسه يقع للناطقين بها.

ومن ثم، لم يزل الباحث ينظر أهمية النحو في العربية فضلا عن أهمية القواعد اللغوية الأخرى في تعليم اللغات المدروسة سوى العربية. وهذا ما يراه كثير من العلماء العرب الذين لهم العناية بالإعراب، وكان حسهم به دقيقا يقظا، يعدّونه عنوان الثقافة التامة، والأدب الرفيع، والخلق المهذب. كتب إبراهيم مصطفى على أنهم قالوا: اللحن هجنة على الشريف. وكان الرجل منهم إذا تكلم فلحن سقط من أعينهم. وكان خالد بن صفوان يحسن الكلام ويلحن في الإعراب، فقال له مرة بلال بن أبي بردة: "تحدثنى حديث الخلفاء وتلحن لحن السقاءات". [2]

نعم، إن غاية النحو ليست لمعرفة الصواب والخطاء في ضبط أواخر الكلم فحسب، وإن كان المتتبع لتحديد غاية النحو يلحظ أن النحاة المتأخرين هم الذين يجعلون غاية النحو هي تمييز صحيح الكلام من فاسده. ولعل الانحراف بغاية النحو إلى هذه الزاوية الضيقة يرجع سببه –مع ما يرجع إليه من أسباب أخرى- إلى تخلي أبناء العربية لظروف ودواع مختلفة عن مستوى اللغة الفصيح، واصطناع العاميات بديلا عنه، بحيث لم تعد العربية الفصيحة سليقة للمتكلم بها؛ ودرجت على ذلك العادة، وألفت هذه الغاية منه حتى أصبحت هي الغاية الوحيدة الواضحة، وصار ينكر على النحو أن "يتطاول" إلى غاية سواها.

ولعل تحديد غاية النحو من قبل المتأخرين على هذا النحو قد اعتمد أيضا على ما رُوي من أخبار وروايات مختلفة لابست فترة نشأة النحو الأولى، وإن كثيرا منها ليدور حول تفشى اللحن وشياع الخطاء في ظاهرة الإعراب على وجه التخصيص، وفي بعض آيات القرآن الكريم على وجه أخص. وقد اعتبرت هذه الروايات وما تدل على أسباب داعية إلى نشأة النحو العربي.

ولا ينكر الباحث أن يكون ما تدل عليه هذه الروايات وأمثالها من بين الأسباب التى دعت إلى نشأة النحو العربي. بل قد تكون المحافظة على النص القرآني من أن يتطرق إلى لغته العليا لحن أو فساد من أهم الأسباب الداعية إلى ذلك، ولكن هناك غاية أخرى لا تقل عن هذه الأهمية وإثارة ودفعا للبحث، هذه الغاية هي الرغبة القوية في معرفة أسرار التركيب القرآني، وهي بعد ذلك الرغبة الإنسانية في تعرف أهم المظاهر الإنسانية بإطلاق: اللغة. وتمييز التراكيب بعضها من البعض الآخر، ومعرفة خصائصها، واكتناه أسرارها، وقد كان من حسن حظ العربية في فترة فتوتها الناضجة أن ينزل بها القرآن الكريم، وأن يجد فيه العرب نموذجا عاليا من البيان للغة، وأن يكون هذا القرآن العظيم معجزا، وأن يحاولوا ما وسعتهم المحاولة أن يتعرفوا أسرار إعجازه فضلا عن أن يضبظوا نصه ويضعوا القواعد التي تعين على ذلك.[3]

فاتضح لنا بوسعة النحو الذي يكون فرعا من فروع اللغة العربية. ولا يمكن بذلك أن يبحث النحو كله. فينحصر البحث إلى نقطة من النقاط العديدة لقسم من أقسام مبحث النحو الواسع، وتلك النقطة هي التقديرية في اللغة العربية.

إنه من أهم ما يميز العربية أن عناصر الجملة فيها أحيانا تذكر جميعا وأحيانا يحذف بعضها بعضا اعتمادا على دلالة السياق. ومما هيأ لذلك وساعد عليه أن العربية بدأت لغة شعرية، ومعروف أن الشاعر يقيد بأنغام معيَّنة في كل بيت، وقد يسوقه هذا التقيد إلى الحذف في البيت أو في الجملة هنا أو هناك. مما عرض عناصر الجملة جميعا للحذف، فتارة يحذف المبتدأ، وتارة يحذف الخبر، وقد يحذف الفاعل أو الفعل أو المفعول. وقد يحذف حرف الجر أو التنوين أو أداة التعريف، وقد يحذف جواب القسم أو جواب الشرط.[4] ويقال ما يحذف بالإضمار، ومثاله في كتاب سيبويه كثير.

فما يحذف أو يضمر من الكلمة أو الجملة، يمكن تعبيرها على سبيل التقدير. حيث يقول النحاة: "تقديره" أو "تقديرها".  وسيأتي بحثه منفصلا فيما بعد.  

ولتركيز هذا البحث، يحاول الباحث أن يراجع بحثه إلى كتاب سيبويه، لعدة علل يمكن تعبيرها في خيار هذا الكتاب. من تلك العلل الرئيسية كون الكتاب مرجعا مهما للنحاة بعد سيبويه إلى يومنا الآن. وإن أكثر الباحثين في النحو العربي دائما يجدون أنفسهم مدفوعين إلى النظر والتفتيش في كتاب سيبويه بوصفه أول أثر نحوي باق يمثل جهود المرحلة الأولى، بل يمثل نضج الفهم النحو الراشد الذي يعني بتمييز التراكيب وكشف خصائصها وتواؤمها مع ملابستها.

واختار الباحث كتاب سيبويه لمعالجة هذه الدراسة لما كان أول كتاب معروف لدينا في النحو، ولأنه أخذ، كما يبدو في الكتاب، بآراء من سبقه من النحويين وخاصة الخليل بن أحمد الفراهيدي، ولأنه يعرض مجرد شذرات، بل يحاول أن يبني نظرية نحوية جعل في أسسها العامل والتقدير.

 فسيبويه –كما يقول الشاطبي_ "وإن تكلم في النحو، فقد نبّه في كلامه على مقاصد العرب، وأنحاء تصرفاتها في ألفاظها ومعانيها، ولم يقتصر فيه على بيان أن الفاعل مرفوع والمفعول منصوب ونحو ذلك، بل هو يبين في كل باب ما يليق به حتى إنه احتوى على علمى المعاني والبيان ووجوه تصرفات الألفاظ والمعاني.[5]

وإن كتاب سيبويه مجهود علمي يدل على دقته في الإلمام  بالقواعد النحوية، فهو صورة لجهوده وجهود من سبقه من العلماء، إلا أن شخصيته فيه واضحة قوية، وقد ظهرت هذه الشخصية في ترتيب الكتاب وتبويبه، وحسن تعليل القواعد، وجودة الترجيح عند الإختلاف، واستخراج الفروع من القياس الذي زخر به الكتاب، وفي الحرص على الشواهد الوثيقة.[6]

علاوة على ذلك، إنه لمما يهم  تعبيره هنا أن النطرية التقديرية ثمرة من ثمرات جهد العلماء العرب القدماء، أقدم مما حصله اللغويون الأوربا –مثلا- في اللغة الإنجليزية. وبهذا يمكن الإنكار ادعائهم عن النظرية الحذفية، إذ أن في الواقع كانت من مبحث العلماء العرب القدماء، أولهم سيبويه. هذا كله مما يدعو الباحث أن يختار كتاب سيبويه مرجعا لبحثه.

 وبعد، إن هذا البحث –بالحقيقة- يرجى أن يكون مصدرا لتنمية تعليم مادة النحو وتوظيفها في إندونيسيا عاما، وخاصة في الجامعة نهضة العلماء رادين رحمة التي يكون الباحث مدرس اللغة العربية فيها. فترتبت الكلمات لموضوع هذا البحث:
النظرية التقديرية في كتاب سيبويه وتوظيفها في تعليم مادة النحو
بالتطبيق على الجامعة نهضة العلماء رادين رحمة مالانج.


[1]  زكريا أوزون، 2002: جناية سيبويه الرفض التام لما في النحو من أوهام، ص: 13، ط.1، رياض الرئيس للكتب والنشر، لبنان
[2]  أنظر في كتابه: إحياء النحو، ط. الثانية، ص: 9، دار الكتاب الإسلامي، القاهرة، 1992
[3]  محمد حماسة عبد اللطيف، النحو والدلالة مدخل لدراسة المعنى النحوي الدلالي، ط. الأولى، ص: 25-26، دار الشرف، القاهرة، 2000
[4]  شوقي الضيف، تجديد النحو، ط. الثانية، ص: 235، دار المعارف، القاهرة، دون السنة
[5]  محمد حماسة عبد اللطيف، نفس الكتاب، ص: 26
[6]  فخر صالح سليمان قدارة، مسائل الخلافية بين الخليل وسيبويه، ص: 33، دار العمل للنشر والتوزيع، الأردن، 1990