29.8.11

MENJADIKAN RAMADAN SEPANJANG TAHUN

Seorang pejabat –umpamanya– untuk melanggengkan kedudukannya, dia membutuhkan “introspeksi”; aparat, juga demikian; politikus, apalagi. Bahkan penjahat pun tidak ketinggalan berintrospeksi diri dalam menjalankan “tugas” kejahatannya. Pada titik ini, upaya introspeksi bermuara pada kesusksesan tugas atau kapasitas pekerjaan seseorang. Dalam kata lain, introspeksi bermakna strategi.

Seperti rutinitas lainnya, kegiatan ibadah Ramadan sudah memasuki masa-masa akhir. Jika tidak hari ini, pastinya besok adalah hari terakhir Ramadan. Ketidakpastian akhir Ramadan sudah lumrah di kalangan umat Islam. Karenanya tidak bisa dipastikan kapan berakhir. Kalau tidak pada tanggal 29 Ramadan, ya, tanggal 30-nya. Yang pasti, bulan yang diagungkan oleh umat Islam ini akan segera berlalu. Apresiasi berakhirnya Romadan juga macam-macam. Ada yang sedih karena akan berpisah dengan bulan penuh barakah ini, tapi ada juga sebaliknya: senang dengan berakhirnya kewajiban puasa Ramadan. Kedua golongan tersebut tentunya mempunyai alasan masing-masing dalam menyikapi berakhirnya Ramadan.

Tulisan ini tidak akan membicarakan alasan kelompok muslim yang senang dengan berakhirnya bulan Ramadan. Selain karena banyaknya faktor yang bisa diungkapkan sebagai alasan, dan karenanya rawan melahirkan wacana subjektif, senang dengan berlalunya Ramadan justru terkesan melemahkan spirit ibadah yang sejatinya makin ditingkatkan pada penghujung bulan Ramadan. Pemahamana terbaliknya, orang yang senang dengan berakhirnya Ramadan, itu artinya dia tidak senang dengan keberadaaan bulan penuh barakah ini. Lantas, bagaimana mungkin seorang muslim bisa merasakan barakah Ramadan, jika keberadaannya saja tidak diharapkan. Na’udzubillahi min dzalika.

Waba’du, bagi kelompok muslim yang bersedih karena akan ditinggal Ramadan sebagai bulan penuh barakah, maka sejatinya mereka juga faham hakekat Ramadan sebagai syahrun al-tarbiyyah, bulan pendidikan. Di bulan ini, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa yang bermuara pada satu sikap mulia, yakni ketaqwaan. (QS. 2:183). Kaitannya dengan tujuan kependidikan, ada satu hadis yang sangat masyhur, “Man syãma Ramadãna imãnan wahtisãban gufira lahu mã taqaddama min danbihi: barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena keimanan dan berintrospeksi diri, niscaya diampuni dosa-dosanya yang lampau”.

Mencermati hadis tersebut, akan didapat kandungan pendidikan bagi kita yang bisa memahami tujuan diwajibkannya puasa Ramadan. Ada dua kata kunci dalam hadis di atas yang menarik diketengahkan, yakni: keimanan dan introspeksi diri. Sebagai penggiat kebahasaan, penulis tertarik mempertanyakan: kenapa sikap iman didadhulukan sebelum upaya introspeksi?

Jika ditinjau dari kajian linguistik, konteks hadis sangat komunikatif. Akan berbeda makna jika saja kata “introspeksi” didahulukan sebelum kata “iman”. Dari sini juga bisa terurai muatan pendidikan yang bisa difaham oleh kita umat Islam. Kandungan hadis mengisyaratkan agar keimanan dijadikan pedoman dasar untuk berintrospeksi diri dalam setiap lini kehidupan; di bidang apapun kita berkiprah dalam kehidupan, maka keimanan menjadi landasan mengintrospeksi diri.

Setiap orang tentu melihat pentingnya upaya introspeksi diri. Landasannya macam-macam. Seorang pejabat –umpamanya– untuk melanggengkan kedudukannya, dia membutuhkan “introspeksi”; aparat, juga demikian; politikus, apalagi. Bahkan penjahat pun tidak ketinggalan berintrospeksi diri dalam menjalankan “tugas” kejahatannya. Pada titik ini, upaya introspeksi bermuara pada kesusksesan tugas atau kapasitas pekerjaan seseorang. Dalam kata lain, introspeksi bermakna strategi.

Dari sini jelas, apa yang perlu dilatih umat Islam selama Ramadan: menjadikan keimanan sebagai landasan introspeksi atau strategi dalam menjalankan kehidupan pada sebelas bulan lainnya. Maka tidak heran jika keimana sebagai landasan introspeksi diri, segala dosa-dosa diri akan terampuni. Ini menjadi satu kewajaran. Tanpa itu, tidak cukup alasan dosa kita bisa terampuni. Terlepas dari sifat Rahman dan Rahim Allah, seyogyanya kita berfikir: bagaimana Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, jika upaya introspeksi tidak berlandaskan keimanan.

Lantas, kenapa harus keimana yang menjadi landasan introspeksi? Ilustrasi sebagai jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah memaknai keimanan sebagai sikap inti dalam peribadatan, sebagai naluri utama kita. Hal ini disebabkan, secara alami, sejak lahir kita sudah membawa perjanjian primordial untuk hanya menyembah kepada Tuhan. Jika naluri ini tidak tersalurkan dengan benar, dampaknya bisa mengarah “sembarangan”, sehingga yang dihadapi manusia bukan persoalan tidak menyembah Tuhan tetapi terlalu banyak yang disembah. Inilah relevansinya kenapa kredo Islam dimulai dengan negasi, lâ ilâha (tiada Tuhan), yaitu untuk membebaskan dari segala macam keper­cayaan, baru dilanjutkan dengan illâllâh (kecuali kepada Allah). Setiap kepercayaan akan memperbudak.

Sebagai ilustrasi, kalau kita percaya kepada cincin yang dapat mendatangkan rejeki, misalnya, secara apriori kita telah kalah dengan cincin tersebut dan dengan sendirinya kita menjadi lebih rendah dari batu. Inilah yang disebut syirik, yaitu menempatkan diri tidak sesuai dengan rencana Tuhan sebagai makhluk tertinggi. Dari sini, dapat dimengerti kenapa syirik disebut dalam Al-Quran sebagai dosa yang paling besar.

Maka, point penting utama dalam pendidikan puasa Ramadan adalah mempersiapkan diri dan mental untuk hanya menjadikan Allah sebagai landasan dalam beraktifitas. Kita jadikan keridaan Allah sebagai pondasi setiap aktifitas kita sehari-hari. Hanya dengan cara inilah, semua kegiatan kita bisa terhitung sebagai ibadah di sisi Allah SWT. Di sinilah jiwa Ramadan bisa kita terapkan pada sebalas bulan lainnya. Kita bisa berada dalam nuansa Ramadan sepanjang tahun. Wallahu a’lam bi alshawab.

Zul FS

21.8.11

Tuhan Tidak Pamrih

ANTARA DUA BISIKAN: ILAHI DAN SYAITAN

“Aku jauh, Engkau jauh; aku dekat, Engkau dekat…” Kalimat di samping adalah penggalan syair lagu religi ciptaan grup band terkenal Bimbo. Kira-kira tahun 80-an lagu ini booming, dan sampai saat ini pun masih biasa diputar di banyak stasiun Televisi di Indonesia, terutama pada nuansa religiusitas seperti di bulan Ramadan. Bisa jadi, selain enaknya lantunan lagu, syair-syairnya pun sangat menyentuh dan sarat pesan religius. Secara makna, lagu tersebut adalah komunikasi vertikal antara manusia kepada Tuhannya, Allah SWT.


Syair yang termaktub di atas adalah satu dari sekian contoh pesan religi dimaksud. Secara substansi, mungkin kata-kata tersebut bisa dikritik. Setidaknya ia bertentangan dengan sabda Rasul yang menerangkan bahwa Allah sangat dekat dengan manusia, bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Baik manusia mendekat atau menjauh dari Allah, tetap saja posisi-Nya –kalau boleh saya katakana demikian– ya, di situ.

Selain bertentangan dengan isi hadis di atas, kalimat lagu dimaksud seolah menggambarkan bahwa Allah mengharapkan pamrih dari makhluknya: Ia akan dekat jika didekati, dan menjauh bila dijauhi. Bahkan ada dalam sebuah hadis Qudsi yang menyatakan: “Seandainya seluruh manusia, mulai zaman Adam sampai nanti hari Kiyamat, mereka semuanya beriman kepada-Ku, sedikit pun tak akan mempengaruhi kekuasaan-Ku; sebaliknya, jika mereka semuanya kufur, maka sedikitpun tak akan mengurangi kekuasaan-Ku”. Masya Allah. Allahu Akbar…

Intinya, memang Allah tidak seperti apa yang tersurat dalam kalimat lagu tersebut. Ada pesan tersirat dalam lantunan bait lagu Bimbo ini, yang bisa kita fahami dan menepis perselisihan makna antara maksud lagu dengan realita Tuhan sesuai hadis nabi tadi: tiadak ada pertentangan antara keduanya. Setidaknya itu yang bisa penulis hayati saat mencoba merenung sambil beri’tikaf di masjid.

Ternyata, tekad seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah: berusaha sekuat mungkin melawan bisikan nafsu yang cenderung bertentangan dengan tekad mulia tadi, adalah langkah awal yang semakin menjelaskan upaya nyata meraih ridla Allah. Idealnya, seorang muslim sudah mempunyai kewajiban kepada Allah SWT, sejak waktu Subuh tiba. Peperangan sudah dimulai antara bisikan ilahi dan bisyikan syaitan. Kedua bisikan ini sama-sama bisa dirasa oleh manusia. Bisikan Ilahiyah terpancar melalui hati nurani, sedangkan bisikan syaitan mendengung di hawanafsu setiap manusia.

Jika manusia lengah sedikit saja: mendengarkan bisikan syaitan untuk tetap dalam kehangatan selimut, lantas menyepelekan adzan Subuh, saat itulah, meski tak disadar hakekatnya ia mulai menjauhkan diri dari Allah. Lantas, Allah pun akan juga menjauh: secara beruntun, semua urusan ketuhanan tidak menjadi skala prioritas. Shalat Subuh, kesiangan; ngaji Qur’an, jadi malas; shalat Duha, mau berangkat kerja; dan seterusnya, dan sebagainya.

Kenyataan ini juga terjadi dalam realita sehari-hari. Seorang pejabat akan sangat gampang menilip uang negara, karena rentetan maksiat-maksiat kecil yang disepelekannya sejak awal. Mula-mua si pejabat mengingkari nuraninya untuk tidak menganggarkan sesuatu yang tidak penting; bukan satu kebutuhan primer: masih banyak hal yang lebih penting dari apa yang dianggarkannya, namun tetap saja dilakukan. Akibatnya, rasa tanggung jawab menjaga harta rakyat jadi menipis, maka terjadilah korupsi. Begitu seterusnya.

Contoh lain, seorang guru, dituntut mempersiapkan segalanya sebelum masuk ruang kelas. Mulai dari mempersiapkan materi, teori penyampaian, subject improfising, media pembelajaran dan lain sebagainya. Nah, jika sang guru “kalah” dengan syaitan di awal kewajibannya, maka rentetan kewajiban-kewajiban lainnya sebagai pendidik akan dengan mudah terabaikan. Maka jauhnya manusia dengan Allah, merupakan indikasi kekalahannya berperan melawan syaitan. Sebaliknya, indikasi kedekatannya kepada Allah adalah saat ia mampu mengalahkan syaitan pada setiap memulai aktifitasnya. Inilah hikmah yang mungkin bisa diterima dari lantunan kata-kata di atas. Wallahu a’lam bi alshawab.

ZNS

20.8.11

Hikmah Diam Pada Saat yang Tepat

TERLALU BANYAK BICARA, INDIKASI KEBODOHAN

Dikisahkan, ada seorang pria miskin bernama Qadir yang bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan, lalu menjualnya ke pasar. Penghasilan setiap harinya hanya cukup untuk makan sehari, bahkan tak jarang malah kurang. Tetapi, Qadir terkenal sebagai sosok yang jujur, sabar, ikhlas dan pendiam. Demikian masyarakat mengenalnya.

Suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Setelah dikira cukup, Qadir lantas memikul kayu-kayu temuannya dan berangkat menuju pasar. Setibanya di pasar, ternyata orang-orang sangat ramai dan berdesakan. Karena khawatir ujung-ujung kayunya mengenai orang, sepanjang jalan dia berteriak, "Tolong minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Tentu saja, semua orang yang mendengar teriakan itu segera menepi, mempersilahkan Qadir lewat dengan tumpukan kayu bakarnya, kecuali ada seseorang dengan penampilan parlente yang tidak memperdulikan teriakan Qadir. Karena beratnya beban yang dibawa, dan terhalangnya sebagian pengelihatan qadir dengan banyaknya bawaan, jsontak saja kayu bawaan Qadir menyenggol punggung si parlente. Tak pelak, pakain si parlente robek dan sedikit bagian punggungnya terluka.

Menyadiri apa yang menimpanya, si parlente marah: memaki-maki, dengan suara keras, tanpa menggubris permintaan maaf Qadir yang nampak sangat ketakutan. Teganya lagi, si parlente justru membawa perkaranya itu ke pengadilan: tuntutannya jelas, ingin minta ganti-rugi kepada si pembawa kayu bakar tersebut.

Di Pengadilan, si parlente melaporkan peristiwa yang menimpanya, seraya mohon mengadili si pria miskin itu. Sang hakim lalu berkata: "Mungkin ia tidak sengaja."

“Tidak mungkin, ia tidak sengaja, Pak Hakim.” Bantah parlente itu. Maka terjadilah negosiasi antar hakim dan penuntut. Semua upaya damai yang tawarkan hakim selalu dibantah oleh si parlente. Sementara Qadir hanya bisa mendengarkan, tanpa berani bicara sepatah kata pun.

Karena penuntut tetap bersikukuh pada tuntutannya, hakim pun segera mengajukan beberapa pertanyaan kepada terdakwa. Seperti semula, si pria miskin itu tetap saja diam tak bicara satu kata pun.

"Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi." Kata hakim menyimpulkan diamnya terdakwa.

Mendengar perkataan hakim, bangsawan itu pun angkat bicara dengan suara lantang:

"Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya ia berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu! Pokoknya saya tetap minta ganti" lanjut bangsawan itu. Mendengar ketegasan si kaya, hakim pun bertanya:

“Bagaimana dan adakah saksi yang mendengar teriakannya?” Dengan penuh keyakinan si parlente menjawab:

“Hampir semua orang di pasar mendengar terikannya ‘minggir..minggir..ada kayu mau lewat’, begitu teriakannya, pak Hakim!”

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata:

"Kalau Anda mendengar teriakannya, yang meminta semua orang minggir, lantas kenapa Anda sendiri tidak minggir?”

Sambil menunjuk pria pembawa kayu itu, sang hakim melanjutkan pembicaraannya:

“Terdakwa sudah memperingati setiap orang yang ada di jalan, termasuk Anda wahai penuntut. Namun, justru anda lah yang tidak mau menggubris teriakannya. Itu artinya, pria pembawa kayu ini tak bersalah, Anda lah yang dalam hal ini bersalah”

Mendengar keputusan sang hakim, si parlente hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari bahwa ucapannya justru menjadi bumerang baginya. Akhirnya si penuntut gagal mendapatkan ganti rugi, dan terdakwa selamat dari segala tuduhan.


ZNS

18.8.11

BAKAT KECERDASAN MANUSIA

ASAL MAU, SEMUA ORANG BISA CERDAS

Kecerdasan itu tidak statis dan tidak ditentukan sejak lahir. Seperti otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hayat, asalkan terus dibina dan ditingkatkan.” (Laurel Schmidt)

Anda yang sekarang berumur 30-an tahun, umpamanya, akan merasa gerakan tubuh tidak selincah seperti waktu berusia belasan tahun dulu. Jika Anda bertanya tentang kesegaran fisik kepada mereka yang sekarang berumur 60 atau 70-an tahun, tentu mereka akan menjawab kesegeran tubuh sudah jauh menurun. Daya tahan tubuh mereka yang sudah lanjut usia secara berangsur terus melemah. Demikian sunnatullâh, atau hukum alam jasmani: semakin bertambah usia, semakin berkurang kebugaran serta daya tahan tubuh. Lalu, apakah hukum penuaan ini juga berlaku bagi kemampuan daya intelegensi manusia?

Sering kita jumpai orang tua yang pikun, atau pengetahuannya mengusang, atau out of date (ketinggalan zaman). Dari sini lantas disimpulkan bahwa penuaan usia yang menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh juga akan serta-merta melemahkan daya kerja otak manusia. Ada juga asumsi mengemuka bahwa pemuda yang kasat mata nampak gagal dalam menempuh studi, akan terus menjadi bodoh sampai akhir hayatnya. Benarkah anggapan ini?

Belum tentu! Albert Einstein dan Thomas A. Edison bisa menjadi contoh untuk menepis asumsi tersebut. Sebagaimana diketahui, kedua ilmuan terkemuka itu adalah dua sosok yang bisa dibilang sangat tidak berprestasi saat di sekolah. Einstein baru bisa membaca setelah berumur tujuh tahun, sedangkan Edison dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya, karena dianggap terlalu bodoh: tak satu pun ilmu pengetahuan dalam setiap mata pelajaran yang bisa difahami oleh Edison. Kenyataannya kemudian, kedua orang itu mampu memberi sumbangsih sangat cemerlang kepada dunia ilmu pengetahuan. Dan diakui sampai detik ini. Pertanda, kecerdasan tidaklah statis!

Ada contoh lain, yaitu Conrad Ferdinand Meyer. Saat kanak-kanak dan remaja, Meyer sering murung diri dan gelisah. Ketika dewasa, ia gonta-ganti pekerjaan tanpa arah yang jelas. Saat berusia 27 tahun, ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena menderita hipokondria dan delusi merasa semua orang menganggapnya menjijikkan. Setelah berusia 40 tahun, puisi-puisi pertamanya muncul. Sampai akhir hayatnya, selama 27 tahun berikutnya, ia terus menulis. Kini, Meyer masih dikenang sebagai penyair Swiss yang tergolong paling mengagumkan.

Terlihat, meski seseorang pernah gagal dalam menempuh studi di sekolah, meski ia sudah tua renta, ia pasti masih mampu memaksimalkan daya intelejensinya. Jika terus belajar, ia akan cerdas, dan semakin cerdas. Bagaimana ini terjadi?

Terus Belajar

Menurut penelitian, setiap orang sama-sama memiliki sekitar 100 milyar sel otak. Hanya saja, bukan kuantitas sel otak yang menentukan kecerdasan manusia, tapi seberapa banyak koneksi antarsel-sel otaklah yang menentukan intelejensi seseorang. Setiap sel otak mempunyai banyak “kabel” (cabang) tipis, yang sejatinya belum saling bersambung dengan ”kabel-kabel” sel lainnya. Setiap kali otak bekerja, terciptalah koneksi antarkabel yang melibatkan banyak sel otak. Semakin banyak otak digunakan, semakin banyak koneksi tercipta di antara sel-sel otak. Semakin banyak koneksi, akan semakin cerdas.

Dengan jumlah sel otak 100 milyar itu, umur manusia terlalu sedikit untuk bisa memaksimalkan potensi kecerdasan. Kalaupun otak manusia selalu bekerja keras sepanjang hayat, potensi kecerdasan yang digunakan, tak akan lebih dari satu persen dari keseluruhan potensi yang ada. Jadi, kemampuan otak pada dasarnya tak terbatas. Selama kita mau belajar, selama itu pula koneksi antarsel otak terbentuk. Hasilnya, kita bisa lebih cerdas dan semakin cerdas. Pantas, jauh sebelum para ilmuan Barat menyimpulkan tentang kecerdasan manusia, Rasulullah SAW telah memerintahkan umatnya agar terus belajar sepanjang hayat, ”Uthlubul-’ilma minal mahdi ilal-lahdi, tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ajal menjelang”

Selanjutnya, maukah kita mengembangkan potensi otak kita? Apakah kita sudah merasa cukup dengan pengetahuan yang sudah kita miliki? Siapapun kita, guru sekalipun, tetap dituntut untuk terus meningkatkan potensi kecerdasan. Karena hakkatnya, pengetahuan juga tidak statis, tapi ia terus berkembang. Sebab, pengetahuan yang kita miliki saat ini, bisa saja menjadi usang di kemudian hari. Maka, setiap orang mesti memperbaharui pengetahuannya dengan belajar. Hanya dengan terus belajar, pengetahuan bisa semakin meningkat.

Howard Gardner, pakar pendidikan dari Harvard University, dalam Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, menyadarkan kita tentang konsep baru kecerdasan. Konsep ini bernama Multiple Intelligences (MI) atau Kecerdasan Majemuk. Dalam MI, angka IQ bukanlah ukuran yang tepat untuk mengukur kecerdasan otak seseorang. Karena kecerdasan ibarat sekumpulan program kemampuan yang ada di beragam bagian otak, yang semua programnya saling berhubungan.

Kecerdasan tidaklah statis, atau bukan bawaan lahir. Dan ia seperti otot, dapat berkembang sepanjang hidup, asal terus dilatih. Artinya, dalam lingkungan yang kondusif, orang bisa menjadi semakin cerdas. Untk semakin menambah pengetahuan kita seputar kecerdasan, berikut penulis paparkan sembilan macam potensi kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Besar harapan, masing-masing kita bisa mengembangkan bakat kecerdasan yang memang sudah ada.

9 Potensi Kecerdasan Setiap Orang

1. Word Smart, atau Cerdas Bahasa. Yang menunjukkan kepandaian seseorang dalam menulis dan membaca. Orang yang unggul dalam word smart, sangat menikmati kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan kata. Seperti teka-teki silang, bercerita, scrabble, dan menulis.

2. Picture Smart, atau Cerdas Gambar. Yang ditunjukkan dengan kesenangan menggambar, atau berselera bagus dalam fesyen. Pemilik kecerdasan ini, akan lebih baik jika belajar dengan cara membuat gambar atau lewat materi visual. Biasanya, ia juga sangat pintar bermain puzzle, membaca peta, atau menggambarkan rute jalan.

3. Body Smart, atau Cerdas Tubuh. Yaitu kepandaian dalam bidang olah raga fisik. Body smart juga ditunjukkan dalam kemampuan membuat kerajinan tangan (crafting), akting, dan menari.

4. Music Smart, atau Cerdas Musik. Merupakan kecerdasan dalam bidang musik, baik untuk memainkan alat musik, bernyanyi atau mengarang lagu.

5. Logic Smart, atau Cerdas Logika. Kemampuan berhitung dan logika seorang logic smart, sangat bisa diandalkan. Ia tak akan pernah kehabisan ide menghadapi berbagai persoalan.

6. Self Smart, atau Cerdas Diri. Orang yang Self Smart menunjukkan kemampuan dalam memahami diri, pribadi, impian, dan cita-citanya. Mereka biasanya sering dimintai nasihat atau menjadi tempat curhat teman-temannya.

7. People Smart, atau Cerdas Gaul. Orang yang memiliki kecerdasan ini ciri-cirinya memiliki banyak teman, sering tersenyum dan menyapa orang, tak pernah merasa kesulitan untuk bergaul dengan orang atau kelompok baru, aktif di organisasi atau eskul. Ia bisa menjadi orang populer di sekolah, dan dicintai banyak orang. Kecerdasan ini merupakan harta yang tak ternilai.

8. Nature Smart, atau Cerdas Alam. Pemiliknya biasanya sangat senang belajar tentang alam, juga sangat teliti dalam mengenali tanaman, binatang, atau batu-batuan. Orang yang Nature Smart sangat mencintai binatang dan rajin merawat lingkungan.

9. Kecerdasan eksistensial. Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat berminat pada masalah-masalah pokok kehidupan.

ZNS