6.4.11

CATATAN BUKAN UNTUK MALAIKAT

Secara bahasa, "ibadah" adalah satu akar kata dengan "'abdun", hamba. Karenanya, beribadah juga bermakna tindakan penghambaan diri, melakukan kebak­tian. Dengan tujian ini jugalah, Allah menciptakan manusia dan Jin. "Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya beribadah kepada-Ku" (Q., 51: 56). Selain memiliki pengertian demikian, ayat ini juga bisa ditaf­sirkan sebagai penegasan bahwa nature (fitrah) manusia adalah beribadah. Hal ini didasarkan pada adanya "perjanjian primordial" antara manusia dengan Tuhan sebelum lahir ke dunia. Isi dari perjanjian itu adalah persaksian kita manusia bahwa Allah menjadi "Pangeran", "Rabb" kita. Tentu saja ini terjadi pada alam ruhani, karenanya tidak menjadi kesadaran lahiriah kita, melainkan mengendap dalam kedirian kita yang paling da­lam.

Menarik untuk dipermasalahkan: kenapa batas penegasan tercipta untuk beribadah hanya jin dan manusia saja? Bukankah selain kedunya masih banyak makhlu-makhluk Allah lainnya? Dalam keimanan kita, selain Dzat Allah, semua yang ada di langit, bumi beserta isinya adalah makhluk; termasuk juga malaikat. Jika dikatakan bahwa nikamat terbesar yang diberikan Allah untuk para makhlunya adalah anugerah kepatuhan untuk menjalankan perintah, malaikatlah penerima terbanyak kenikmatan besar tersebut. Lalu kenapa hanya Jin dan Manusia yang diperintahkan untuk beribadah? Ayat di atas tidak mencantumkan malaikat.

***

Hakekat Malaikat dan Manusia

Keberadaan malaikat yang terdapat di dunia gaib menjadi sebab utama ke-alpa-an kajian teori ilmiah tentang makhluk yang tercipta dari cahaya ini. Kajian-kajian seputar malaikat hanya bisa dirujuk melalui kitab-kitab suci. Kendati demikian, tidak ada keterangan pasti mengenai siapa (apa) sosok malaikat. Sekarang ini yang perlu ditekankan adalah meyakini keberadaannya dengan keyakinan haqqu al-yaqin, seperti halnya meyakini kehidupan setelah mati; bukan keyakinan oportunis: "percaya saja mungkin nanti benar, kalau tidak benar juga toh tidak apa-apa". Model keyakinan kedua ini akan berdampak pasif pada keimanan seorang mukmin.

Menurut riwayat, sejak masa penciptaannya, hingga hari qiyamat, para malaikat hanya melakukan apa yang telah diperintahkan Allah. Mereka yang diperintahkan untuk bertasbih, sepanjang waktu hanya bertasbih yang dilakukan. Demikian juga yang mendapatkan tugas memberi rizqi, mencatat amal, dan sebagainya, sepanjang belum qiyamat, tuga-tugas tersebut yang dikerjakan tanpa pernah ada upaya melanggar. Digambarkan dalam Al-Qur'an bahwa malaikat itu sangat taat pada Tuhan, "mereka mengerjakan segala yang diperintahkan" (Q.,16:50; 66:6).

Dapat dibayangkan para malaikat tidak mempunyai emosi ataupun nafsu, yang pada puncak perkembangannya menjadi apa yang kita sebut sebagai cinta. Berbeda dengan manusia yang dikaruniai emosi. Dalam batasan tertentu, dengan emosi manusia dapat menuju puncak kemuliaan tertinggi, atau sebaliknya terjerembab ke dasar lembah paling hina. Kekuatan berkeinginan akan berjalan lurus dengan emosi tersebut, agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi; membawa manusia lebih dekat kepada sifat ketuhanan.

Kita juga dapat menduga bahwa malaikat tidak memiliki kemauan sendiri, inisiatif bebas: modal dasar untuk melahirkan inofasi. Kesempurnaan "prilaku" malaikat hanya menjadi cerminan kesempurnaan Tuhan. Hal ini menafikan kehormatan untuk tugas kekhalifahan, seperti yang disandang manusia. Khalifah yang sempurna, tentu makhluk yang memiliki kemampuan berinisiatif sendiri, namun kebebasan tindakannya tetap mencerminkan kehendak Sang Kepala (Principal, yakni Tuhan).

Jadi, hakekat malaikat adalah makhluk suci yang hanya berdimensi tunggal, yakni dimensi kesucian itu sendiri, sebagai akibat kebaktiannya yang penuh kepada Tuhan. Sisi lain yang tidak ada pada malaikat, namun dimiliki oleh manusia adalah emosi. Sisi inilah yang membedakan antara hakekat manusia dengan malaikat: emosi, hawa nafsu, hasrat atau keinginan.

Ibarat senjata, emosi dapat menjadi perisai manusia menuju kemuliaan, tetapi juga dapat menjadi "senjata makan tuan". Dalam surah Yusuf ayat 53 dijelaskan, melalui ucapan seorang wanita yang pernah menggoda Yusuf putra Ya'qub, bahwa emosi atau nafsu itu tidak boleh dilepaskan secara bebas, karena akan dengan kuat mendorong pada kejahatan, kecuali jika mendapatkan rahmat dari Tuhan; yang dengan rahmat itu nafsu justru akan mendorong kepada kebaikan atau prestasi keunggulan.

***

Manusia Sebagai Khalifah

Saat Allah menegaskan keinginan-Nya untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, para malaikat menyatakan keraguannya dengan memberikan alasan bahwa manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi; sementara mereka selalu berbakti kepada Tuhan dan tidak pernah melanggar perintah; sebagai konsekuensi hakekat malaikat yang hanya satu sisi(Q., 2:30). Malaikat melihat kekuatan emosi manusia sebagai sumber bencana, namun mereka gagal melihat emosi sebagai sumber tenaga ke arah keluhuran jika dipergunakan secara benar dan baik.

Dalam surat Al-Tîn dikatakan, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik (Q., 95:4). Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan. Dikatakan juga: "man was created upon the image of God": bahwa manusia diciptakan menurut desain Tuhan. Maksudnya, di antara semua makhluk Tuhan yang paling sempurna, karena itu secara hierarkis yang paling bisa mendekati Tuhan, adalah manusia. Tetapi harus diperhatikan ayat lanjutannya, Kemudian Kami jatuhkan dia serendah-rendahnya (Q., 95:5). Maksudnya, sangat mungkin Tuhan mengembali­kan manusia menjadi makhluk yang paling rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang. Kenapa? Karena manusia yang jahat bisa menjadi lebih jahat daripada binatang. Sebagai contoh, macan itu jahat, tapi setelah menerkam dan memakan manusia, dia kembali diam. Tetapi manusia bisa mem­bunuh ratusan, bahkan ribuan orang sekaligus. Maka disebutkan, Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan (Q., 95: 6). Artinya, manusia itu akan tetap menempati kehormatannya sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah kalau beriman dan beramal saleh.

Hakekat dan Makna Ibadah

Hakikat ibadah dalam Islam bukanlah untuk memenuhi kepentingan Allah Swt. Sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan atau kebesaran-Nya kalau saja seluruh manusia di muka bumi ini tidak menyembah kepada-Nya. Namun, perlu diingat bahwa hakikat perintah ibadah dalam Islam adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan untuk memberikan pelayanan kepada Allah Swt. karena Dia sama sekali tidak membutuhkan pelayanan makhluk. Kemudian, terciptanya manusia dengan dua sisi sekaligus; kebaikan dan keburukan, menjadikan peranan akal begitu dominan.

Tidak salah jika dikatakan bahwa keunggulan manusia dengan makhluk lainnya adalah penganugrahan akal fikiran. Pemberian Allah yang hanya dikhususkan bagi anak Adam, sebagai modal utama menjadi khalifah Allah di muka bumi: satu hal yang pernah diragukan oleh para Malaikat, namun ditampik tegas oleh Allah. (QS. 2:30)

Hanya dengan akal, tugas kekhalifahan manusia dapat dijalankan. Dengannya pula, bisa dibedakan antara kebaikan dan keburukan. Penghambaan kepada Allah swt, dikatagorikan sebagai ibadah setelah melalui tahapan fungsi akal. Kepasrahan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan Allah (beriman, berislam, dan bertaqwa), bernilai ibadah setelah kita berhasil menaklukkan sisi kejahatan.

Inilah yang penulis maksudkan sebagai ibadah aktif. Kewajiban melaksanakan sholat, misalnya, jika mendengarkan sisi kejahatan, bisa saja kita tidak mengerjakannya. Toh ada kecendrungan ke sana. Berbeda dengan malaikat, mereka pasti mengerjakan perintah Allah, karena memang tidak mempunyai kecendrungan untuk meninggalkan perintah. Jadi ibadah para malaikat adalah iabadah yang pasif; tidak ada ijtihad untuk "berperang" melawan hawa nafsu.

Dengan pemahaman ini, menjadi jelas kenapa malaikat tidak ditegaskan dalam penciptaannya, untuk beribadah; makhluk-makhluk lain, termasuk hewan juga tidak disuruh beribadah. Cuma kita manusia dan para jin yang diperintah untuk itu. Maka, penulis menyimpulkan: bahwa ibadah adalah upaya untuk menundukkan sisi kejahatan di bawah sisi kebaikan. Hanya makhluk Allah yang berpeluang melakukan kejahatan dan "dipersenjatai" akal lah yang bisa beribadah. Selebihnya, wallahu a'lam bi alshawab.

5.4.11

SEPUTAR KHUTBAH JUM'AT

Contoh Pembuka Khutbah Jum’at I

1. إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن سيـدنا محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه والتابعين وتابعي التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد: فيا أيها الناس، أتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا و أنتم تتقون..........

2. الحمد لله جعل السعادة للسالكين طريق أهل الهدى والاستقامة، ونوّر بأهل الحق بصيرته وجعل القرآن العظيم أمامه، وقضى بالذلة والهوان على من مال عن طريق الرشد إلى كل مذلة وملامه. لا إله إلا هو سبحانه لا يُصلح عمل المفسدين. أحمده وأ شكره على التوفيق للإيمان والإسلام، وأستغفره و أشهد أن لا إله إلا الله ذوالعظمة والجلال والكمال والدوام، وأشهد أن محمدا عبده ورسول الله المخصوص بأكمل قرب و أرفع مقام. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه إلى يوم الدين. أما بعد، فيا عباد الله... أوصيكم ونفسي أولا بتقو الله وطاعته، فقد فاز المتقون وخاب الطاغون..

3. الحمد لله الذي ضاعف لمن أنفق في سبيله الأجور. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله شهادة تُنْجِي قَائِلَهَا من عذاب يوم النشور. اللهم صل وسلم و بارك علي سيدنا محمد الذي أرسل للعالمين رحمة وعلي آله و صحبه الذين جاهدوا في الله حق جهاده وكان هواهم تبعا لهداه و سَلّم تسليما كثيرا. اما بعد, فيا عباد الله اتقوا الله في السّرّ و العلانية ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

4. الحمد لله الذي أعزّ مَنْ أطاعه وأذلّ من عصاه، أكرمَ من شاء بإمتثال أوامره والبُعْدِ عمَّا عنه نهاه. أحمده سبحانه وأشكره على ما أَوْلاَهُ. أشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له، له العزة والكبرياء، و أشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله، أفضل الأنبياء وأبعد الخلق عن الكبرياء والرياء. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين وتابعى التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد: فاتقوا الله أيا عباد الله، اتقوه واستقيموا إليه واستغفروه، واعلموا أن العبادة والعبدية له، لا تكمُل إلا بإمتثال طاعته فى أمره ونهيه، ولا يتم ذلك إلا بالذل والخضوع له وحده والقيام بحقه الواجب له.


5. الحمد لله رب العالمين... أشهد أن لا إله .... اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله... فيا أيها الناس اتقو الله تعالى حق تقاته، فقد فاز المتقون وخاب العاصون... واعلموا أن التقوى هي الوقاية من عذاب النار، وانتهوا من هذه الغفلات و الاغترار، واحذروا المعاصي فإنها موجبات للهلاك والخسار. قال الله تعالى: "يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون" وقال عليه الصلاة والسلام: "اتقوا الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن"

6. الحمد لله الذي أعزّ مَنْ أطاعه وأذلّ من عصاه، أكرمَ من شاء بإمتثال أوامره والبُعْدِ عمَّا عنه نهاه. أحمده سبحانه وأشكره على ما أَوْلاَهُ. أشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له، له العزة والكبرياء، و أشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله، أفضل الأنبياء وأبعد الخلق عن الكبرياء والرياء. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين وتابعى التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد: فاتقوا الله أيا عباد الله، اتقوه واستقيموا إليه واستغفروه، واعلموا أن العبادة والعبدية له، لا تكمُل إلا بإمتثال طاعته فى أمره ونهيه، ولا يتم ذلك إلا بالذل والخضوع له وحده والقيام بحقه الواجب له.




Contoh Penutup Khutbah Jum’at I

1. أَقٌوْلُ ماَ تَسْمَعُوْنَ وَ أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِجَمْيعِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
2. أَقٌوْلُ ماَ تَسْمَعُوْنَ وَ أَسْتَغْفِرُ الله العظيم الجليل لِي وَلَكُمْ وَلِجَمْيعِ الْمُؤمنين فاستغفروه وتوبوا إليه إنه هو التواب الرحيم
3. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم و نفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو البر الرؤوف الرحيم. وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين
4. أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم وادعوه يستجب لكم
5. نسأل الله أن يتوب علينا توبة نصوحا وأن يجعلنا من التائبين المطهرين إنه عليم قدير وصلى الله على سيدنا محمد وادعو ربكم يستجب لكم
6. نسأل الله عز وجل أن يجعلنا ممن خشعت قلوبهم وتذكروا آخرتهم اللهم آمين. اذكروا الله تعالى واستغفروه يستجب لكم

Berikut Ketentuan dalam Khutbah Jum’at
1. Rukun-rukun:
- Memuji Allah
- Syahadatain
- Bershalawat pd Nabi SAW
- Berwasiat taqwa
- Membaca Ayat Aq-Qur’an
- Mendo’akan untuk umat Islam


2. Syarat-syarat :
- Menggunakan bahasa Arab
(Mugni al-Muhtah: minimal untuk rukun-rukun tersebut di atas)
- Pada tergelincirnya matahari
- Berdiri saat khutbah (jika mampu)
- Duduk di antara dua khutbah
- Menyaringkan suara
- Tidak ada pemisah yang panjang antar rukun, dan antara khutbah dengan shalat
- Suci dari hadas kecil dan besar
- Menutup aurat
- Mendahulukan khutbah sebelum shalat
3. Sunnah-sunnah khutbah:
- Berada di atas yang lebih tinggi dari jama’ah
- Memberi Salam
- Menghadap jama’ah
- Menyampaikan khutbah dengan fasih dan singkat serta bisa difahami orang lain (termasuk menggunakan teori retorika yang baik dan benar)
- Tidak menimbulkan keanehan dalam pandangan jama’ah (contohnya, khatib menoleh ke kiri dan ke kanan saat berkhutbah)
- Memegang tongkat atau sejenisnya
- Ukuran duduk di antara dua khutbah seperti membaca al-ikhlas

2.4.11

MEMBEBASKAN DIRI DARI TUHAN PALSU

Ketika Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan, ada sebuah suku di Gurun Gobi yang merasa kehilangan Tuhan. Sebab selama ini mereka menyembah bulan, yang kemudian diinjak oleh Neil Amstrong. Dalam sosiologi agama dikenal rumusan bahwa suatu objek disebut Tuhan kalau menurut mereka yang melihatnya mengandung unsur-unsur misteri, aneh, dan menimbulkan pertanyaan terus-menerus. Ketika orang melihat gejala alam atau binatang yang mengandung unsur-unsur tersebut, maka akan disembah. Di zaman Mesir kuno, ada orang atau suku yang menyembah buaya. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang menyembah buaya, karena binatang ini tidak terkalahkan. Saudara-saudara kita di Irian Jaya ada juga yang masih menyembah buaya. Maka ketika ada tentara dari Jakarta yang tertarik dengan kulit buaya dan menembaknya mati, maka Tuhannya gugur, sebab aspek misteriumnya tidak ada lagi.


Bahaya sekali bagi orang yang merasa kehilangan Tuhan akibat aspek misteriumnya gugur, sebab bersamaan dengan itu ia akan kehilangan makna hidup. Tidak heran kalau suku-suku terasing yang mengenal dunia luar kemudian berubah menjadi kacau dan lari ke minuman keras; itu juga yang menjadi ciri-ciri suku Aborigin di Australia. Mereka mengalami dislokasi dan di­sorientasi. Budaya yang selama ini memberikan makna hidup dihancurkan oleh ilmu pengetahuan.


Oleh karena itu penting sekali memahami kredo Islam mengenai, “lâ ilâha illallâh” (tiada tuhan selain Allah). Asumsinya, dari sudut Islam, manusia itu bukan tidak percaya kepada Tuhan, tetapi percaya kepada kelewat banyak Tuhan, sehingga untuk kembali kepada Tuhan yang sebenarnya, proses pertama yang diperlukan ialah mebebaskan diri dari kepercayaan yang palsu melalui “lâ ilâha”, artinya membunuh semua tuhan yang ada. Jadi pernyataan Nietzsche “The God is Death” adalah analog dengan proses ini. Mengapa Nietzsche sampai mengatakan Tuhan telah mati? karena dia tidak bisa menerima konsep ketuhanan seperti yang dia kenal.


Dalam buku The Key of Hyram ada penjelasan seperti ini: Kalau bukti-bukti ilmiah, antropologi, arkeologi, dan sebagainya, sampai pada kesimpulan bahwa kalau Budha Gautama itu tidak ada atau hanya mitos, maka agama Budha tidak akan hancur; hal ini karena ajarannya tidak tergantung kepada pribadi Budha Gautama itu sendiri; kalau Musa itu ternyata hanya dongeng, maka agama Yahudi juga tidak akan hancur; begitu juga kalau seandainya Muhammad itu ternyata hanya dongeng, agama Islam tidak akan hancur sebab ajaran Islam tidak tergantung kepada pribadi Muhammad; tetapi kalau ternyata Yesus itu dongeng, maka seluruh agama Kristen akan hancur, karena semuanya terpusat kepada Yesus (konsep penebusan dosa). Tidak usah masalah apakah Yesus itu ada atau tidak, bahkan kalau Yesus itu ternyata tidak mati di tiang kayu salib saja, maka seluruh bangunan agama Kristen itu hancur. Itulah sebabnya kenapa di Barat pertentangan ilmu pengetahuan dan agama menjadi sengit. Dan ketika tidak bisa didamaikan, keduanya dipisahkan dan menjadi apa yang disebut sekularisme (pemisahan antara kebenaran ilmiah dan kebenaran dogmatik yang disucikan).


Kalau orang Islam konsekuen dengan syahadatnya sendiri, lâ ilâha illallâh, maka jelas tidak akan terjadi hal-hal semacam itu. Misalnya orang Makkah dan orang Madinah dalam memperlakukan Hajar Aswad. Mereka melihatnya tidak lebih sebagai benda. Padahal sesuci-suci objek di muka bumi ini adalah Hajar Aswad. Sikap yang paling tepat terhadap Hajar Aswad barangkali seperti dilakukan oleh Umar ibn Khaththab. Ketika harus mencium Hajar Aswad dalam suatu tawaf, dia mengatakan, “Kamu hanya batu, kalau saya tidak pernah melihat Muhammad mencium kamu, saya tidak mau mencium kamu!” Baru setelah itu dia mencium Hajar Aswad. Artinya, memang tidak ada yang suci kecuali Allah, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran jika kemudian ilmu pengetahuan semakin bertendensi mengungkap sisi-sisi gelap agama. Justru kelak ilmu pengetahuan itu akan membantu memperteguh tauhid.

24.3.11

HAKEKAT KERUGIAN BAGI HAMABA

Siapa dan apapun usaha kita, pastinya ingin hasil. Hanya orang yang kurang waras saja yang mau merugi. Usaha jual beli, jelas laba yang dicari. Bercocok tanam, pastilah keuntungan hasil panen yang diharapkan. Nelayan, selalu berharap agar tangkapannya menguntungkan. Usaha bisnis, apa lagi. Dengan modal usaha yang sekecil-kecilnya berharap untung yang sebesar-besarnya.

Secara teologi, tentunya bukan hanya usaha material yang ada kompensasi untung-rugi. Usaha non-material pun, ujung-ujungnya berharap mendapat keuntungan. Amal ibadah hamba kepada Tuhannya adalah contoh usaha non-material yang dimaksud. Seluruh ibadah yang dikerjakan tentu berujung pada harapan mendapat ganjaran.

Allah sendiri yang menegaskan dalam al-Qur’an, bahwa semua amal perbuatan hamba ada balasannya: untung, atau sebaliknya, rugi. Kemungkaran mendapat balasan dosa; sementara kebaikan akan diganjar pahala. Samapai di sini kompensasi untung-rugi bagi amal perbuatan manusia mudah difaham, karena memang proporsional. Keniscayaan merugi akan nampak bagi hamba yang berbuat kebajikan tapi tak mendapatkan ganjaran pahala. Ibarat pedagang, sudah mengeluarkan modal usaha, namun tak mendapatkan hasil.

Seluruh amal kebajikan orang tersebut akan sia-sia belaka. Sedikit-demi sedikit, ganjarannya terkikis lalu habis kalau tidak segera disadari untuk kemudian dibenahi. Siapakah orang yang telah berbuat amal kebajikan dan terhitung sia-sia, alias merugi seperti dimaksud?

Untuk mengantisipasi agar tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi dalam beramal, Rasulullah mengingatkan umatnya pada dua hal: menghindari sifat iri dengki; dan tidak segera minta maaf atas kesalahan yang kita perbuat kepada sesama. Akibat menyepelekan dua hal tersebut, semua kebajikan yang kita perbuat, tidak mendapatkan ganjaran setimbal, dan sebaliknya, merugi.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.

Kata Imam Gazali, dengki adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Sifat dengki bisa merasup hati orang yang merasa telah kalah. Kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Pastinya, yang didengki adalah pihak yang dianggap menang. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Hadits di atas menegaskan kepada kita bahwa sifat dengki itu merugikan. Kerugian pada dasarnya bukan untuk orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, di antara makna ‘memakan kebaikan’, seperti dalam hadits di atas, dijelaskan, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki; dan bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan. Sementara si pendengki akan bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)

Selain karena sifat iri dengki, enggan meminta maaf atas kesalahan kepada sesama juga menyebabkan terkikisnya ganjaran beramal ibadah seseorang. Tidak hanya itu, keengganan meminta kehalalan atas kedoliman yang telah diperbuat, hakekatnya justru menguntungkan pihak yang didolimi: akan mendapatkan ganjaran kebajikan dari ibadah orang yang telah mendoliminya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلــى الله عليه وسلم:
"
من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيئ فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم، إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته و إن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فَحُمِلَ عَلَيْهِ" (رواه البخاري)


“Barang siapa dianatara kalian yang mempunyai kesalahan kepada seseorang, apakah menyangkut kehormatannya atau apa saja, hendaklah dimintakan halal sekarang juga sebelum uang dinar dan dirham tidak lagi ada gunanya; jika (tidak,) bila dia mempunyai amal saleh, nanti akan diambil dari amalnya itu seukur kesalahannya dan bila tidak memiliki kebaikan, akan diambil dari dosa-dosa orang yang disalahinya dan dibebankan kepadanya”

Jadi jelas sudah, hakekat orang yang merugi adalah mereka yang tidak mampu melatih hatinya membersihkan sifat iri dengki dan membesarkan hatinya untuk berani meminta maaf kepada siapa saja yang pernah didoliminya. Jika dua hal ini terus dibiarkan, bagaikan orang yang mengisi tong air agar penuh, namun kebocoran yang ada di dasar tong tak segera ditambal. Jangan mimpi airnya bisa penuh ke atas. Inilah realita keniscayaan merugi seorang hamba yang sergeb beribadah, tapi tak cukup pandai menata hati. Wallahu a’lam bi al shawab…