23.1.09

Dmokrasi: Mau ke Mana?

Demokrasi: Mau ke Mana?
Oleh: Azyumardi Azra

Judul ‘Resonansi’ ini saya ambil dari kertas kerja posisi International Institute for Democracy and Electoral Assistance (International IDEA) dalam pertemuan Annual Board Meeting yang saya ikuti di Stockholm pada 4-5 Desember 2008 lalu. Persisnya bertajuk Democracy: Whither are we Wandering?--Demokrasi: Ke Mana Kita Berkelana? Makalah ini merupakan assessment yang jujur dan berani dari sebuah lembaga internasional yang bergerak dalam pengembangan demokrasi dan bantuan elektoral di berbagai penjuru dunia.
Makalah ini mulai dengan pernyataan: 2009 datang merupakan tahun perayaan demokrasi; 30 tahun setelah mulainya gelombang ketiga demokrasi di Amerika Latin; 20 tahun sesudah runtuhnya Tembok Berlin; 15 tahun setelah berakhirnya rezim apartheid di Afrika Selatan; dan 10 tahun sejak awal reformasi politik Indonesia. Walhasil, sekitar 100 negara telah mengalami transisi ke demokrasi sejak 1970-an--dengan sekitar 40 negara mengalaminya pada 1990-an dan awal 2000-an.
Tetapi, jelas, jumlah semata tidak mencerminkan mulusnya perjalanan demokrasi. Sebaliknya, perjalanan demokrasi memperlihatkan proses-proses yang rumit, bergelombang, bahkan tidak jarang runtuhnya tatanan hukum yang diikuti kekerasan. Dan, di negara-negara Selatan--seperti Indonesia--demokrasi belaka juga tidak serta-merta dapat menghapuskan pengangguran dan kemiskinan. Demokrasi di banyak bagian dunia masih dipandang sebagai cita ideal yang masih harus terbuktikan untuk dapat menjadi sistem politik efektif guna mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat.
Dengan penilaian yang jujur dan terus terang dari sebuah lembaga internasional yang memiliki komitmen dan menjalankan berbagai program untuk penguatan demokrasi, tidaklah berarti negara-negara demokrasi atau yang masih berada dalam transisi dan konsolidasi demokrasi harus segera meninggalkan demokrasi dan beralih kepada sistem-sistem politik lainnya. Memang, demokrasi bukanlah ‘’obat’’ (panasea) bagi semua masalah; demokrasi juga memiliki batas-batasnya. Tetapi, jika dibandingkan sistem-sistem politik lain, semacam otoritarianisme militer (atau sipil) atau teokrasi, demokrasi tetap merupakan pilihan yang lebih baik.
Di Tanah Air, yang juga disebut banyak kalangan internasional sebagai salah satu kisah sukses demokrasi, perjalananan demokrasi juga masih belum sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. Selain biaya demokrasi prosedural yang cenderung kian mahal dan tidak efisien, juga menimbulkan bermacam ekses yang boleh jadi tidak disengaja (unintended consequences). Eksplosi aspirasi demokrasi membuat usaha pemerintah dan swasta untuk melaksanakan program-program yang baik langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, tidak lagi dapat berjalan mulus. Lihat, misalnya, rencana pembangunan jalan tol trans-Jawa; pembebasan lahan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena adanya kalangan masyarakat yang menolak. Dan, tentunya, banyak contoh lain.
Karena itu, pada akhirnya pertumbuhan dan penguatan demokrasi sangat terkait dengan sejumlah faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor yang dapat menghambat penguatan demokrasi itu mestilah diatasi agar demokrasi betul-betul tumbuh dengan baik dan berdaya guna untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Secara internal, seperti terungkap dari penilaian International IDEA, lembaga-lembaga politik belum juga menguat di banyak negara demokrasi, termasuk Indonesia. Sebaliknya, yang terjadi adalah kian fragmentaris lembaga-lembaga politik. Di Tanah Air, parpol bukannya kian terkonsolidasi, tetapi sebaliknya, makin terfragmentasi, seperti terlihat dari jumlah parpol: 48 pada Pemilu 1999, 24 pada Pemilu 2004, dan naik lagi menjadi 38 plus 6 parpol lokal untuk Pemilu 2009.
Pada saat yang sama, terjadi juga peningkatan kemerosotan kepercayaan publik pada institusi-institusi politik, semacam parpol dan lembaga perwakilan rakyat. Publik melihat bahwa banyak dari mereka yang terlibat dalam institusi-institusi semacam itu lebih tertarik pada kepentingan mereka masing-masing daripada kepentingan publik secara keseluruhan.
Sebab itu, salah satu tantangan dalam penguatan demokrasi adalah pemulihan kepercayaan publik pada institusi politik. Dan, ini harus dimulai dari para aktor politik itu sendiri untuk lebih menampilkan sosok yang penuh dengan integritas dan komitmen pada kepentingan publik. Kesempatan masih ada untuk membentuk dan menampilkan sosok seperti itu pada masa-masa kampanye menjelang Pemilu 2009.
Pada saat yang sama, para pemilih umumnya dapat lebih berhati-hati dalam melakukan pilihan nantinya. Para pemilih hendaknya jangan terbuai janji dan kata-kata manis mereka yang memiliki aspirasi untuk terpilih. Sebaiknya, para pemilih berusaha mendapatkan informasi tentang rekam jejak (track record) setiap calon. Sehingga, ketika melakukan pilihan, dapat betul-betul didasari pertimbangan rasional dan logis. Tidak hanya untuk kepentingan pemilu itu sendiri, tapi lebih penting lagi demi penguatan dan pendewasaan demokrasi di bumi tercinta ini.
Sumber: Republika, 18 Desember 2008

22.1.09

Arab Palestin VS Yahudi Israel

Beberapa Catatan dari Israel
Oleh: Lutfi Assaukani
Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.
Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.
Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.
Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.
Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.
Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.
Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya. .Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2 imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.
Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:Engkau ciptakan gulitaAku ciptakan pelitaEngkau ciptakan tanahAku ciptakan gerabahDalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.
Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.
Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: "orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja orag-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.
Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya.
Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.
Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang." Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia.
Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.
Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah). " Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.
Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.
Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.

14.1.09

Demokrasi ya..Islam

ISLAM DAN DEMOKRASI
Oleh: Zulfan Syahansyah*


Saya ada saudara perempuan (mbak) yang saat ini menjadi caleg DPRD di Kabupaten Buleleng. Ada partai politik yang melamarnya. Selain keaktifannya di masyarakat, alasan utama partai tersebut melamar, tentu karena mbakku menjadi ketua Muslimat NU di daerah bagian utara pulau Bali itu. Sebab jabatannya di Badan Otonom (Banom) NU ini juga, beberapa hari lalu ia diundang Muslimah Hizbu Tahrir Indonesia (MHTI) Bali dalam acara seminar bertema: Kiprah Muslimah Dalam Politik Islam

Kepada semua peserta seminar, panitia membagikan sebuah buku gratis berjudul: Khilafah Islamiyah, Menjamin Kesejahteraan Setiap Perempuan. Dari fareabel judul buku, mudah ditebak arah penjelasan pemakalah, berkisar seputar sistem sebuah negara. Dus, acara tersebut menjadi ajang mengampanyekan Khilafah Islamiyah (KI) sebagai asas sebuah negara yang Islami. Selain KI, jelas tidak Islami. Termasuk sistem demokrasi seperti yang saat ini dijalankan di Indonesia.
Parahnya lagi, keluh mbakku, pemakalah dengan tegas menyatakan bahwa demokrasi merupakan sistem negara buatan orang kafir dan hanya layak untuk negara mereka. Tidak untuk kalangan muslim. Pemaparan lebih dipertegas lagi dengan menyertakan ayat-ayat al-Qur’an yang –bagi kelompok pendukung– sesuai dengan masalah dimaksud.
Usai menceritakan semuanya, akhirnya mbakku bertanya: Benarkah demokrasi tidak Islami? Kenapa akhir-akhir ini banyak kita saksikan kelompok penentang demokrasi yang menjadi sistem negara kita, semakin lantang menyuarakan penolakan? Bagaimana nasib integritas bangsa jika hal ini tidak segera ditangani?
Setelah mbakku terdiam, saya mulai bicara: pertma, saya ingin menaggapi keresahan terakhir mbak. Bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa adalah tugas kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tapi seluruh komponen bangsa. Tentunya, segala upaya yang mengarah pada retaknya integritas bangsa, menjadi prioritas yang wajib ditangani oleh pemerintah.
Hanya saja, Indonesia adalah negara demokrasi yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk bersuara. Karenanya, pemerintah tak berhak membungkam para penentang sistem negara yang dijalankan oelh Indobesia. Itulah sebabnya mereka berani bersuara lantang. Intinya, sistem negara yang dibenci justru memberikan mereka keamanan. Bisakah hal serupa didapat dari sistem negara yang mereka dambakan?!
Selanjutnya, tentang demokrasi, saya tegaskan bahwa esensi makna yang terkandung sejalan dengan cakupan diturunkannya Islam ke muka bumi. Gampangnya, kandungan nilai demokrasi termuat dalam ”paketan” Islam. Bahwa esensi makna demokrasi adalah upaya memberantas otoritatif dan kedoliman.
Dalam negara yang demokrasi, tak ada pemimpin yang menjadi ”tuhan”. Seorang Presiden tak lain manusia biasa yang dipilih untuk menjalankan aturan dan kesepahaman yang disepakati bersama. Anak presiden tak ubahnya anak pedagang koran. Hukum di negara demokrasi berlaku sama bagi semua rakyatnya. Tak ada yang kebal. Tak ada satupun yang boleh merasa memiliki otoritas melebihi lainnya. Inilah idealita demokrasi.
Tentang Islam, sekilas bisa kita pahami bagaimana pola kehidupan kaum Arab pra-Islam. Masa itu disebut jahiliya. Kenapa? Karena mereka menerapkan hukum rimba dalam kehidupan sehari-hari waktu itu. Yang kuat, menang. Kehormatan dan kejayaan dapat diraih dengan otoriter. Antara pria dan wanita, jelas lebih kuat pria. Karenya, anak wanita waktu itu menjadi perlambang ”aib” keluarga. Tak heran, sebelum menjadi muslim, Umar bin Khattab tega mengubur hidup-hidup putrinya.
Bagi Arab Jahiliyah, martabat manusia menjadi taqdir saat kelahirannya. Anak keluarga terhormat, otomatis menjadi golongan terhormat juga. Sebaliknya, bayi seorang budak, secara estafeta akan menyandang gelar budak pula. Realita inilah yang saya maksud dengan pola kehidupan sosial yang otoriter dan dlalim. Maka, datanglah Nabi Muhammad membawa Islam untuk membenahi sistem ini.
Membawa ajaran agama yang tak membedakan status sosial.Tak ada dikotomi antara pria dan wanita. Semua manusia dipandang sama di hadapan Allah. Satu yang menjadi penilaian, yaitu taqwa. Tidak kurang dalil-dalil al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Mungkin secara harfiah kita tak mendapatkan arti demokrasi tersurat dalam al-Qur’an. Namun jika ditilik dari idealitanya, siapa yang hendak menafikan bahwa demokrasi dan Islam memang sejalan. Wallahu a’lam bi alshawab.

*Muslim yang demokrat







12.1.09

HAKEKAT 'WAKTU'


KERUGIAN MENYEPELEKAN WAKTU
Oleh: Zulfan Syahansyah
Wujud waktu di dunia ini, bagaikan cermin yang memantulkan “wajah” prilaku kita. Hanya memberikan dua pilihan; kebaikan, atau keburukan. Tidak lebih. Karena, hakekatnya manusia di kehidupan ini, hanya menjadi cerita bagi manusia-manusia setelahnya. Kebaikan dan keburukannya, lambat-laun akan tersingkap dalam tahapan seleksi waktu, alias sejarah. Waktu termasuk modal utama manusia dalam berusaha: apa yang luput dari usaha, masih mungkin untuk diraih di lain waktu, selagi yang luput bukan waktu.

Muqaddimah
Pada hakekatnya, segala sesuatu yang berwujud selalu memiliki konsep ruang dan waktu. Konsep ruang untuk menyatakan kisaran tempat, dan konsep waktu menjadi penegasan masa keberadaan sesuatu. Ini menjadi titik tolak keimanan kita, bahwa selain Allah SWT; segala yang ada di alam semesta adalah makhluq, dan karenanya bersifat hawadits. (saat ini menjadi “ada”, setelah sebelumnya melalui tahapan masa “tidak ada”). Sebagai contoh, dunia: dari bahasa Arab, dunyâ, yang berarti tempat yang terdekat.
Kata ‘dunia’, mencakup dua pengertian; dunyâ dan ûlâ. Pengertian pertama mengandung konsep ruang, sedangkan konsep waktunya ialah ûlâ, seperti dalam firman Allah: “wa lal âkhiratu khayrun laka minal ûlâ”. Jika meruntun sebatas pemahaman simpel, waktu menjadi per­soalan yang sangat abstrak, sehingga terefleksi dalam sebuah hadis yang mungkin agak aneh, “Janganlah kamu menyalahkan waktu, karena waktu itu adalah milik Tuhan.”
Serupa dengan konsep ruang dan waktu, Nur Khalis Madjid menjelaskan: “Dalam bahasa Latin, ada konsep waktu yang disebut saeculum, maka ada istilah secular yang artinya masa kini. Konsep ruangnya adalah mundus, maka ada istilah mondial, yang artinya dunia. Saeculum itu padanannya ‘ûlâ, yaitu waktu yang pertama, lawan dari al-âkhirah. Ungkapan “dunia-akhirat” sebenarnya sedikit tidak simetris, sebab dunia merupakan konsep spasial, sedangkan akhirat merupakan konsep temporal”.
Jadi, kenyataan itu bisa dikenali sebagai konsep ruang (special concept) ataupun konsep waktu (temporal concept), bahasa Arabnya, dunyâ dan ‘ûlâ. Perkataan al-dunyâ yang berarti ‘yang terdekat’ itu sebetulnya betuk feminin dari al-‘adnâ. Al-‘adnâ adalah bentuk maskulinnya. Mengapa gendernya feminin? Ada kecenderungan dalam bahasa Arab bahwa hal-hal yang besar selalu diasosiasikan pada perempuan (muannas): matahari, surga-neraka, langit, dunia, dan lain-lain. Ini gejala bahasa, tetapi penting diperhatikan karena kemungkinan ada motif kultural di dalamnya.
Alasan lain mengapa perkataan al-dunyâ itu mengambil bentuk gender feminin adalah sebagai berikut: al-hayât-u ‘l-dunyâ (hidup yang terdekat) adalah lawan dari al-hayât-u ‘l-‘âkhirah (hidup yang kemudian). Ini konsep spasial atau konsep ruangnya, sedangkan konsep temporalnya adalah al-‘ûlâ. Al-‘ûlâ inilah yang persis merupakan lawan dari al-‘âkhirah. Al-‘ûlâ adalah bentuk feminin dari al-awwal. Maka kalau mau simetris dari segi bahasa, istilahnya bukan dunia-akhirat, tetapi ‘ûlâ-‘âkhirat; keduanya sama-sama konsep tem­poral. Hanya perlu digaris­bawahi bahwa manusia hidup di dunia ini jauh lebih dari segi ruang. Sedangkan waktu yang akan datang, setelah mati, karena tidak tahu ruangnya, kesadarannya lebih tampak pada konsep waktu.
Dalam bahasa Latin, saeculum, yang dari situ diambil perkataan secular, memiliki arti persoalan-persoalan sekarang. Tetapi kalau sudah menjadi paham sekularisme, itu artinya suatu paham yang tidak mengakui adanya hal yang akan datang. Kemudian konsep ruangnya adalah mundus. Jadi alam raya ini disebut saeculum atau mundus. Demikian cendikiawan yang akrab dipanggil Cak Nun ini menjelaskan tentang konsep ruang dan waktu.

Makna Waktu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, waktu adalah: “seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang.” Sedangkan dalam Al-Qur’an, seperti penjelasan M. Quraish Shihab, kata waqt (waktu) ditemukan tiga kali, hanya saja konteks penggunaan dan makna yang terkandung kurang sepadan dengan penjelasan di atas. Kata tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan tentang masa akhir hidup di dunia ini. (baca QS 7: 187; 15: 38, dan 38: 81). Dari sini, dan setelah menelusuri seluruh bentuk kata lain yang berakar pada kata waqt, para pakar akhirnya menyimpulkan bahwa waqt adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk berusaha sebaik mungkin.
Senada dengan pepatah Arab yang berbunyi: ”kod faata ma faata”: yang lalu, telah berlalu. Sebuah penegasan bahwa waktu yang telah lampau, sekali-kali tidak akan pernah datang lagi. Ia hanya akan tersisa sebagai kenangan; menjadi cerita apik, kisah indah, jika dilakoni dengan kebenaran dan keindahan. Sebaliknya, tak jarang masa lalu kelabu menjelma sebagai bayangan yang terus menghantui, memperpanjang deretan memori hitam, karena ia tercatat sebagai hasil tipu daya syaitan, dan menjadi lembaran kelam masa silam.
Demikianlah keberadaan waktu bagi kita di dunia ini, bagaikan cermin yang memantulkan “paras” prilaku kita. Hanya memberikan dua pilihan; kebaikan, atau keburukan. Tidak lebih. Karena, pada dasarnya manusia di kehidupan ini, tak lain hanya menjadi cerita bagi manusia-manusia setelahnya. Kebaikan dan keburukannya, lambat-laun akan tersingkap dalam tahapan seleksi sejarah. Akan selalu segar dalam kenangan, kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudara tirinya, Nabi Musa dan Fir’aun, Nabi Muhammad saw. dan para kaum kafir Quraish perongrong dakwah Islam. Semuanya menjadi kisah yang tak akan pernah usang dimakan waktu.

Waktu dan Kerja Keras
Selanjutnya Quraish shihab menjelaskan, kata lain yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk menunjuk kepada ‘masa’ adalah ‘ashr. Kata ini, walaupun hanya ada satu (pada surat Al-‘Ashr), kaitannya dengan “kerja keras” justru sangat jelas. Apalagi ia digunakan dalam konteks pembicaraan kehidupan duniawi.
Dari makna katanya, ‘ashr berarti memeras atau menekan sekuat tenaga, untuk menghasilkan saripati sesuatu. Maka kata “’ashir” bermakna jus (hasil perasan). Al-Qur’an menamainya ‘ashr, karena manusia dituntut untuk menggunakannya sekuat tenaga, memeras keringat, agar bisa menghasilkan sari kehidupan.
Sepadan dengan pengertian tersebut, ‘ashr adalah masa menjelang terbenamnya matahari; masa seseorang telah selesai memeras tenaganya. Karena, pada hakekatnya, sejak pagi hingga siang hari, adalah saat untuk bekerja dan malam hari untuk istirahat. (QS 27: 86). Jadi, waktu termasuk modal utama manusia dalam berusaha: Apa yang luput dari usaha, masih mungkin untuk diraih esok hari, selama yang luput tersebut bukan waktu.
Sedemikian pentingnya arti waktu dalam kehidupan, hingga Allah SWT, menjadikannya bergandengan dengan kewajiban ibadah utama seorang muslim, yakni shalat lima waktu. Al-Qur’an menjelaskan bahwa shalat merupakan kewajiban “berwaktu” atas kaum beriman (lihat QS, 4:103). Yaitu, diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (shubh), diteruskan ke siang hari (zhuhr), kemudian sore hari (‘ashr), lalu sesaat setelah terbenam matahari (maghrib), dan akhirnya di malam hari (‘isyâ’).
Hikmah di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah dari ingat di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (zhuhr) dan, lebih-lebih lagi, saat kita santai sesudah bekerja (dari ‘ashr sampai ‘isyâ’). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan untuk mencari kebenaran menjadi lemah, dan tak jarang kita malah tergelincir dalam gelimang kesenangan dan kealpaan. Karenanya, menjadi kewajiban saat melaksanakan sholat, mentaati alias disiplin waktu. Dan tentu, agar mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Tuhan (QS 94: 7-8).

Kerugian Menyepelekan Waktu
Salah satu realita perbedaan yang nampak antara Negara miskin, berkembang dan Negara maju adalah cara atau kebiasaan memanaj waktu. Semakin maju sebuah Negara, maka akan semakin berharga wujud waktu. Tak heran, jika mereka bersemboyan: “time is money”, waktu adalah uang. Peluang waktu sama artinya peluang emas untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Maka tolak ukur penghitungan waktu, tidak lagi menggunakan hari, tapi jam, bahkan menit.
Beda halnya dengan kebiasaan kita, yang katanya masih berada dalam tahap Negara berkembang. Efisiensi waktu masih jauh dari target harapan. Realita terlambat, jam karet, waktu molor, masih sangat akrab dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Sebuah kenyataan yang sangat tragis, karena justru dianggap hal wajar oleh bukan saja dari kalangan awam, tapi justru diteladani para elit masyarakat; pemerintah, tokoh agama. Padahal, mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam.
Kebiasaan hidup santai bangsa yang terus mengakar, seakan membingkai bahaya kerugian menyepelekan waktu, sehingga nampak remang-remang dan nyaris tertutupi. Hanya ketegasan Allah SWT. dalam Al-Qur’an surat Al-‘ashr, yang bersumpah dengan wujud waktu, menyatakan:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menjelaskan: “kerugiannya adalah karena tidak menggunakan ‘ashr, dan kerugian tersebut seringkali disadari pada waktu asar (menjelang terbenamnya matahari).” Hanya ada empat kelompok yang terhindar dari kerugian ini: pertama, yang mengenal kebenaran (ậmanủ); kedua, yang mengamalkan kebenaran (‘amilủ al-shalihật); ketiga, yang ajar-mengajar menyangkut kebenaran (tawậshauw bi al-haq); dan keempat, yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran (tawậsauw bi al-sabr).
Ternyata, sekedar mengetahui dan mengamalkan kebenaran saja masih belum cukup untuk menghindari kerugian. Kita masih dituntut untuk saling menjaga, memelihara serta meningkatkan kualitas, kemudian berjuang bersama untuk meraih anugrah-anugrah Allah, dan tentunya, harus sabar.
Sejak kecil, minimal sehabis sekolah, kita terbiasa membaca surat Al-‘Ashr, sebagai do’a perpisahan. Namun kebiasaan tersebut tak lebih menjadi “koor” bersama, tanpa ada upaya menjalankan maksud tersirat. Perlu juga kiranya, prinsip surah ini kita tancapkan dalam hati, setiap akan memulai kegiatan, agar waktu kita tidak terisi dengan aktivitas yang merugikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.