25.9.08

Khutbah 'Idul Fitri 1429 H

Khutbah 'Idul Fitri 1429 H
Oleh: Zulfan Syahansyah
ESENSI KEMENANGAN BERPUASA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ٣× الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
الحمد لله الذي جعل الأعياد بالأفراح والسرور، وضاعف للمطيعين جزيل الأجور.
والحمد لله الذي أتم علينا نعمة الصيام والقيام، الحمد لله الذي أتم علينا نعمة الطاعة والإقبال عليه جل وعلا فى شهر رمضان. قال الله تعالى: "اليومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْناَ"
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العفو الغفور.وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الحبيب الشكور، وصلى الله عليه وسلّم وعلى آله وصحبه الذين يرجون تجارة لَنْ تَبُوْرَ.
أما بعد: فيا عباد الله، أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله، واصبروا وصابروا ورابطوا لعلكم تفلحون.

Hadirin wal hadirat, jama’ah solat id yang berbahagia….
Di pagi hari yang mulia, khidmat, dan penuh barakah ini, mari bersam-sama kita perbanyak rasa syukur ke hadirat Allah SWT, seraya terus meningkatkan kualitas ketaqwaan: bermuajahadah untuk selalu melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjahui segala larangan-Nya. Pada momentum ini juga, kita agungkan asma Allah, dengan memperbanyak bertakbir, tahmid, tahlil dan tasbih, sebagi ungkapan rasa syukur dan suka cita; menenggelamkan diri dalam suasana kemenangan, setelah sebulan lamanya kita laksanakan ibadah puasa, sebagai manifestasi ketaqwaan kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang dikaruniai kefitrahan baik dahir serta batin. Amin ya rabbal alamin.

Hadirin, hadirat sekalian, rahimakumullah…
Bulan Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Ia banyak menyisakan kenangan yang tak mudah untuk dilupakan. Ramadhan telah menjadi salah satu sarana latihan baik jasmaniyah, nafsaniyah, serta ruhaniyah, agar bisa kita menakar kesiapan menjalani kehidupan yang akan datang.
Dan ketahuilah, keniscayaan menjadi orang-orang yang bertaqwa adalah predikat bagi mereka yang lulus seleksi ”ujian” Ramadhan, karena memang tujuan akhirnya adalah ketaqwaan. Sebagaimana Allah tegaskan dalam al-Qur’an:
"يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون"
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia…
Sebelum kita ditinggalkan jauh oleh bulan Ramadhan, dan mumpung suasana kekhidmatan puasa masih bisa kita rasakan, ada baiknya jika pada kesempatan kali ini, kita telaah kembali apa sebenarnya esensi atau hakekat ibadah yang diwajibkan atas seluruh umat Islam di muka bumi ini? Yakni puasa Ramadhan! Puasa, yang di dalam idiom al-Qur’an disebut al-shiyâm, bersinonim arti dengan kata al-imsak: menahan diri. Maka, subsatnsi dari ajaran puasa adalah latihan menahan atau menguasai diri. Untuk memperjelas pembahasan esensi ajaran ”al-shiyâm”, mari kita kaji bersama tiga jenjang pembagian puasa.
Sebagaimana yang kita maklumi bersama, ibadah puasa Ramadhan itu terdiri dari tiga jenjang, yakni rahmah; magfirah; dan itqun minan naar. Serupa meski tak sama dengan pembagian tersebut, kalangan sufi membagi puasa Ramadhan ke dalam tiga jenjang: shiyâm jasmani, nafsani, dan ruhani (fisik, psikologi atau kejiwaan dan ruh).

Ayyuhal mustami’unal kiram....
Pada sepuluh hari pertama puasa, kita dituntut menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru menyangkut makan, minum dan lain-lain yang biasanya dibolehkan pada hari-hari selain Ramadhan. Jika kita mampu menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa sejak waktu imsak hingga saat berbuka, berarti kita sudah berpuasa. Di sinilah shiyâm da¬lam arti menahan diri terwujud melalui tindakan-tindakan lahiriah, itu sebabnya, ia dinamai shiyâm jasmani. Puasa model seperti ini menjadi garapan para ulama fiqih: meliputi persoalan batal atau ti¬daknya ibadah puasa tersebut.
Pada jenjang selanjutnya, shiyâm nafsani (puasa Psikologi atau kejiwaan), yakni menahan diri dari segala hawa nafsu. Dalam kajian ilmu fiqih, mengikuti ha¬wa nafsu memang tidak memba¬tal¬¬kan puasa, misalnya marah-ma¬rah, menggunjing saat berbuasa. Tetapi kandungan nilai spiritualitas puasa, tak akan dapat diraih. Maka tak heran, dalam hal ini, Rasulullah mengingatkan kita dengan sabdanya SAW: “Barang siapa yang tidak bisa me¬ninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan ko¬tor maka Allah tidak punya ke¬pentingan apa-apa meski orang itu me¬ninggalkan makan dan minum” (HR Bukhari). Senada dengan hadis Rasul, khalifah Umar bin Khattab juga menegaskan: “Betapa banyak orang puasa namun tidak men¬dapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”. Maka, untuk bisa tergolong sebagai pelaksana puasa Ramadhan, dengan jenjang kedua ini; maka, bersikap sabar, tawadu’, menjaga kepercayaan, adalah keniscayaan yang mesti ditonjolkan.

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah
Selanjutnya, pada sepuluh hari ketiga, kita harus meningkat pada jenjang shiyâm ruhani. Dalam bagian ini, kita memasuki sesuatu yang susah sekali diterangkan, karena memang masalah ruh, dan tidak ada ilmunya. Kita mengetahuinya hanya dari berita atau yang dalam bahasa Arab disebut anba’, dan pembawanya adalah Nabi. Dari Nabilah kita mengeta¬hui apa yang bisa kita peroleh dari puasa jenjang ketiga ini, karena memang tidak bisa diterangkan, sehingga diungkapkan melalui simbol-simbol, kiasan-kiasan, termasuk masalah Lailatul Qadar yang turun di satu dari sepuluh malam babak akhir puasa.

Hadirin wal hadirat sekalian...
Baik, jasmani, nafsani, serta ruhani, di dalam ibadah puasa, kita dilatih untuk bisa menahan dan mengendalikan ketiga-tiganya, hingga menjadi satu kesatuan yang kita kenal dengan istilah ”menahan atau mengendalikan diri”. Pertanyaan selanjtnya adalah, kenapa upaya pengendalian diri menjadi esensi dari ibadah puasa kita?
Benar, bahwa dari segi inti ajarannya—yakni substansinya—ibadah puasa difungsikan sebagai latihan pengendalian diri agar selamat secara moral dan spiri¬tual. Karena, menahan atau mengendalikan diri, ternyata merupakan masalah mendasar, dan kuno dalam problematik kemanusiaan secara umum, bahkan pada zaman modern sekalipun.
Masalah keti¬dak¬mampuan menahan diri, seba¬gaimana diilustrasikan Al-Quran, juga menjadi titik awal terjadinya drama kosmis atau kejatuhan manusia dari surga ke bumi ini. Dalam idiom Al-Quran disebut drama al-hubût atau doctrine of fall. Nabi Adam dan Hawa, sebagai simbol nenek moyang manusia, menjadi contoh ketidakmampuan menahan dan mengendalikan diri dari godaan setan sehingga tergelincir ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt, dan akhirnya diturunkan ke bumi.

Hadirin sekalian.....
Realita hidup kemudian, bahwa sumber segala potensi yang mendorong manusia melakukan pelanggaran adalah godaan berupa kesenangan sesaat: makan, minum, dan seks, serta harga diri. Permasalahan tersebut kemudian disim¬bolisasikan dalam ajaran berpuasa sebagai hal-hal yang harus ditahan atau dinyatakan dapat membatal¬kan puasa, sebagaimana sudah menjadi konsensus para ulama fiqih.
Perlu juga untuk diketahui, bahwa pada kenyataannya hampir seluruh masalah kemanusiaan yang ada sekarang pun terjadi akibat ketidak¬mampuan manusia menahan diri dari godaan-godaan tersebut. Julukan ’penjaha’ diberikan kepada manusia yang tak mampu mengekang prilaku dan kecondongan jahat; atau ’koruptor’, disandangkan kepada pejabat yang tak kuasa menahan godaan materi, hingga menyalahgunakan kewenangan. Perampok, maling, pembunuh, pemerkosa adalah julukan-julukan bagi hamba Allah yang pada dasarnya tidak mampu menahan diri dari godaan-godaan yang akan menyesatkannya. Maka, dengan puasa Ramadhan, diharapkan kita mampu melatih diri, menahan dan mengedalikannya.

Saudara-saudara sekalian yang berbahagia....
Untuk mengetahui, apakah kita lulus dalam pendidikan Ramadhan kali ini? Maka, hanya diri kita yang pertama kali mengetahuinya. Bagaimana kemampuan kita menahan dan mengendalikan diri pada hari-hari setelah bulan Ramadhan ini. Sekali lagi, hanya kita yang mengetahuinya...
Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa kembali pada fitrahan manusia, dan terlatih mengendalikan diri setelah kepergian bulan Ramadhan tahun ini; tetap menempati kehormatan sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah akibat tak kuasa menahan godaan yang selalu mengintai. Akhirnya, minal âidzîn wal fâizîn, selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1429 Hijriyah.


جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين المقبولين، وبارك لنا فى القرآن العظيم. ونعفنا بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، إنه هو البر الرؤوف الرحيم،
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: "قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى"
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.


الخطبة الثانية لعيد الفطر
الله أكبر ×٧ الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لاإله إلا الله والله أكبر ولله الحمد.
اللهم لك الحمد كله ولك الشكر كله وإليك يرجع الأمر كله علا نِيتُهُ وسِرُّهُ، فأهلٌ أنت أن تُحمَد وأهلٌ أنتَ أن تُعبَد وأنت علي كل شيئ قدير اللهم فلك الحمد يا الله حتي ترضي، ولك الحمد إذا رضيت ولك الحمد بعد الرضا
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه. اللهم صل على عبدك ورسولك سيدنا وشفيعنا ومولانا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا.
أما بعد: فيا أيها الناس اتقواالله فيما أمر وانتهوا فيما نهى وزجر، واعلموا أن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه وثَنَّى بملائكته بقوله عز من قائل: إن الله وملائكته يصلون على النبي، ياأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أنبيائك ورسلك وملائكتك المقربين، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين المُهْدِيِّيْنَ: أبي بكر وعمر وعثمان و علي وعن بقية الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات
اللهم انْصُرْ مَنْ نصر دين محمدٍ واخْذُل من خذل دينه اللهم انصر الإسلام والمسلمين وأَهْلِكِ الكَفَرَةَ والظالمين اللهم اعصمنا واحفظنا من جميع الفتن وعافنا وسلمنا من البلايا والمحن والوباء والفحشاء والمنكر والبغي والسيوف المختلفة والشدائد ما ظهر منها وما بطن من بلدنا هذا إندونيسية خاصة ومن بلدان المسلمين عامة يا ذاالجلال والإكرام بِحُرْمة وَجْهِكَ الكريم أَعْطِنا صِحَّةً في التقوي وَطُولَ عمرٍ في حُسنِ عَمَلٍ وسعةِ رزقٍ ولا تُعَذّبنا عليه إنّك علي كل شيئ قدير
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم
عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله يذكركم واشكروه علي نعمه يزدكم واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله أعز وأكبر والله يعلم وأنتم لا تعلمون.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

21.9.08

SEPUTAR ZAKAT



SEPUTAR ZAKAT

وَ أَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْناَكُمْ مِنْ قَبْلُ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلُ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَي أَجَلٍ قَرِيْبٍ فَأَصَدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
(المنافقون:١٠)
Artinya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang dari kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkanku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun; 10)

A) Pengertian
Zakat: secara bahasa berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Menurut Lisan Arab, zakat bermakna suci, tumbuh, berkah, terpuji. Sedangkan Al-Wahidi dan beberapa ulama lain menegaskan arti zaka adalah bertambah dan tumbuh. Menurut pengertian dari istilah fiqih, zakat berarti: sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan pada waktu tertentu oleh Muzakki kepada kelompok tertentu yang berhak menerimanya (mustahik).

B) Manfaat Zakat:
Ada banyak manfaat yang timbul dari diwajibkannya zakat: 1) Manfaat bagi muzakki: Pembersih sifat-sifat tercela (kikir, tamak, sombong dll) 2) Manfaat bagi mustahik: Pembersih sifat-sifat tercela (Iri hati, dengki kepada muzakki)
Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ. إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ. وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (التوبة: ١٠٣ )
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’akan untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103)
Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Suyuti mengatakan:

(تُطَهِّرُهُمْ) تَكُوْنُ سَبَبًا فِى تَطْهِيْرِهِمْ مِنْ دَنَسِ اْلبُخْلِ وَالدُّنُوْبِ
(وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا) تُصْلِحُهُمْ وَتُنَمِّي بِهَا حَسَنَاتِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ.
Artinya: “(mensucikan) berarti menjadi sebab kesucian mereka dari kotoran sifat bakhil dan kotoran dosa-dosa. (membersihkan) berarti menjadikan baik serta menambah kebajikan dan jumlah harta mereka.”
Jika hal di atas sudah terbentuk, maka stabilitas kehidupan bersosial akan semakin terpelihara.
3) Selain manfaat di atas, zakat juga menjadi penyebab bertambah suburnya harta muzakki. Hal ini bisa jadi diakibatkan oleh doa para mustahik, khususnya fakir miskin, sehingga harta mereka mendatangkan barakah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
حَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ (رواه الخطيب عن ابن مسعود)
“bentengilah dan suburkanlah hartamu dengan zakat.”


C) Golongan Mustahiq
Ada delapan kelompok yang secara tegas disampaikan dalam al-Qur’an:
ا                        
60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[647].

[647] yang berhak menerima zakat ialah:
1. orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
6. orang berhutang: orang yang berhutang Karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
7. pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

D) Macam-macam zakat:
1. Zakat Fitrah; sedekah wajib yang dibayarkan menjelang idul fitri dengan beberapa ketentuan dan persyaratan.
*) Syarat wajib zakat fitrah:
- Beragama Islam
- Pada waktu terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan sedah lahir atau masih hidup
- Mempunyai kelebihan harta untuk keperluan makan pada malam hari taya dan siang harinya.

*) Syarat sahnya:
Waktu terakhir pembayaran sebelum pelaksanaan shalat idul fitri.
Jika terlewati, maka seperti shadaqah sunnah. Zakat yang dikeluarkan berupa makanan pokok, minimal seberat 3,1 ltr.

2. Zakat Mal; Harta (mal) yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah:
a. Emas perak dan mata uang harta perniagaan
b. Hewan ternak
c. Buah-buahab dan biji-bijian yang dapat dijadikan makanan pokok.
d. Barang tambang dan harta terpendam.

Syarat wajib (a): Muslim, merdeka
Milik pribadi
Sampai nisabnya
Harta tersebut genap setahun dimiliki.

Harta Nisabnya: Jumlah Zakat
Emas (-+) 93,6 g 2,5 %
Perak 672 g 2,5 %
Uang kontan seharga emas 2,5 %
Harta perniagaan seharga emas 2,5 %

Syarat wajib (b) serupa dengan (a), hanya ditambah syarat hewan harus peliharaan; yaitu: sapi, kerbau, unta, kambing, domba dll.
Nisabnya:
*) Sapi/kerbau/onta: 30-39 ekor, zakatnya 1 ekor anak sapi berumur 1 th.
40-59 ekor, zakatnya 1 ekor sapi berumur 2 th.
*) Kambing/domba: 40-120 ekor, zakatnya 1 ekor
121-200 ekor, zakatnya 2 ekor

Syarat wajib (c) sama dengan (a), hanya waktu mengeluarkan bukan setelah genap setahun, tapi setelah selesai panen. Mengenai nisab zakat hasil pertanian dan perkebunan sama -+ 930 ltr. Besar zakat yang dikeluarkan: 5 %, jika tanaman tanpa modal yang banyak, dan 10 % jika banyak menelan biaya.
Hasil tambang seperti emas, perak dan lainnya, syarat-syarat wajib dikeluarkan zakatnya sama dengan zakat uang kontan atau harta perniagaan. Perbedaannya, bahwa hasil tambang ini zakatnya dikeluarkan setelah barang tambang itu dihasilkan.
Tentang harta rikaz, atau harta karun, seperti perhiasan emas atau perak, maka zakat yang wajib dikeluarkan sebesar 20 % tanpa melihat nisab atau menunggu setahun.


Oleh: Zulfan Syahansyah


18.9.08

Rencana Judul Tesisku

ترقية مهارة طلاب المدرسة
الثانوية المنورية مالانج لتكلم اللغة العربية بوسيلة التعلم الحواري

١.خلفية البحث
إن المدرس هو الفرد مثالي فى العالم التربوي والتعليمي فمن واجباته الأساسية تكوين تلاميذه أفرادا متقابلين ومستعدين لإستمرار الحياة المستقبلة نافعين لدنياهم وأخراهم، وإن أئمة اليوم فى كل الناحية الحيوية كانوا أجيالا سابقين ومتعلمين أعدّهم مدرسوهم فى الماضي حتى يصيروا كما هو الآن.
بخلاف المهنة الأخرى، فإن التربية والتعليم مهنة عظيمة لا يعارضها كل الجهة الحيوية سواء أكانت دينية أو حكومية أو عامية المجتمع. كل الأديان الموجودة تجازي وظيفة المدرس إجازة عالية كما أن الحكومة ينبغي لها أن تقرر أن واجبات المدرس عظيمة ثاقلة؛ إعداد أجيال الشعب، لأن حقيقة نجاح الحكومة اليوم لا يفني من نجاح الحكومة قبلها فى إعداد الشبان بمجاهة المدرسين وهكذا عكس ذلك. لأجل ذلك تخطط الحكومة الخطوات التربوية التعليمية من بعضها إصدار الشهادة المهنية للمدرسين المقصودة لإعلاء طبقتهم الحيوية بإتيان المعيشة اللازمة.
***

يجب على المدرسين توحيد النظر والغرض لنجاح أغراض التربوية الدولية المورودة فى مبداء القنون الأساسية: ۱۹٤٥ ؛ رفع مستوى الشعب التعليمى. كالأجيال فإن تلاميذنا اليوم يقع عليهم أمر الأمة غدا ويمكننا حينئذ نحن الشيوخ نستظل تحت ظلهم فقد أفلح المدرس مثلا فى أن يقول: "ها أنا ذا قد علّمتُ سوسيلو بنبانج يودويونو" رئيس الجمهرية الإندونيسية الآن.
وبخلاف غرض الحكومة؛ تعديل معيشة المدرسين بالشهادة المهنية، يجب عليهم أن يروه برنامجا يدافعهم لتطوير مهارتهم النفسية لتتفوّق علومهم التعليمية والتربوية التي هي مهنتهم يوما بعد اليوم. لآسف، وبالخصوص للمدرسين الذين قد نالوا الشهادة المهنية، إذ لم يحسوا أهمية ترقية النفسية فى كل الناحية الحيوية. إذاً يجب على من قد وقّر فى حياته مهنة التدريس خدمة للمجتمع، فعليه أن يستعد حق الإستعداد لأن يتحمل المتضمَّنات المهنية.
أرى فى العالم التربوي و التعليمي شيئين أساسيين يجب على المدرسين إهتمامهما فى تطوير نفس المدرس: ۱) لزوم ترقية النفسية التربوية والتعليمية بالطبع؛ بالتعليم و البحوث عن الطرق التعليمية الجديدة اللائقة للتطبيق لدي الطلاب. ٢) من الأمور الأساسية فى التعليم الحفظ على سلوكية المدرسين أمام التلاميذ خاصة والمجتمع عامة. وهذا الثاني لم يتنبّهه كثير من المدرسين مؤخرا حيث يتأثر إلى انتحطاط نظر المجتمع إلى كون المدرسين.
هذان اثنان؛ ترقية النفسية التربوية والتعليمية و الحفظ على سلوكية المدرسين،لا بد أن يكونا أهم وظيفة اتحاد المدرسين فى المقبل ويحارسوهما تحديدا لسمعة مهنتهم. ويرجى من كل أفراد المدرسين أن يكون كالملك المعصوم بالخطأ أمام تلاميذه ولو مرة وذلك بالتخصيص حين يقوم بتعليم مادته المتخصصة له، ولن يكون ذلك إلا باستعداد التعليم بايجد والإجتهاد قبل دخول الفصل للتعليم.
بناء على ذلك، كمدرس اللغة العربية فى المدرسة الثانوية المنورية ،كان تلاميذي فى هذه المدرسة طلاب المعهد المنورية الإسلامي فى نفس الوقت إذ أنهم قد تعوّدوا فى أيامهم تعلّم العلوم الدينية بكتب التراث المكتوبة طبعا باللغة العربية، فبذلك أشعر بالحزن حين آداء العملية التعليمية بسببين: ۱) نتيجة تعلم اللغة العربية لم تزل بعيدة من قصد منهج التعليم اللغوي، ٢) تقرير المدرسين الآخرين بتساؤلهم عن قلة مكافأة التلاميذ فى اللغة العربية مع أنهم طلاب المعهد الإسلامي.
فى الواقع إن الخوف والحزن لما أشعره شيء معقول كمعلم اللغة الثانية ويشمل ذلك اللغة العربية سواء أكانت فى المرحلة الإبتدائية أم الإعدادية أم العالية يقول لهذا الدكتور محمد عين فى تعبير عن مقالته "تعلم اللغة العربية بأساس البحث العملى: الحل الختياري لتطوير جودة تعليم اللغة العربية"
"إن لتعلم اللغة العربية فى الفصل (مدرسة أو جامعة) لا يفني عن المشاكل التطبيقية سواء ما يتعلق بالأمور اللغوية أو شيء آخر. ولحل هذه المسئلة لا بد من الإجتهاد والوعي لتعريفها الموضوعي والمنتظمي والشمولي وإيجاد الحل الإختياري اللائق. وفي هذه الجهة، كان البحث العمل الفصلي يُعتبر الإنتقاء الإختياري الصالح مادية أم تطبيقية لحل مشاكل تعلم اللغة العربية فى الفصل. وبهذا البحث العملي يمكن تقدُّم تعلم اللغة العربية سواء من ناحية المُدخل أو العملي أو المخرج."
وبالتالي، بدون تصحيح ضعف مهارة الطلاب فى تكلم اللغة العربية، أودّ أن أقوم بالبحث موضوعيا لحل المشاكل التي أجدها حين تعليم اللغة العربية. فلما أدّت مؤسية البحوث وخدمة المجتمع للمدرسة العالية للعلوم التربوية رادين رحمة كافنجين مالانج ومؤسية التنمية التربوية والتعليمية للجامعة الحكومة مالانج تدريب المدرسين للبحث العملي،و أجعله فرصة نافسة لتطبيق ما أريد بحثه. وبجانب توفير الشروط لنيل الشهادة فى مشاركة هذا التدريب بكتابة موجز رسالة البحث، أودّ فى نفس الوقت استفادة التدريب لحل مشاكلى فى التعليم حيث أقوم به بأسرع ما يمكن. فترتب الموضوع لهذا البحث:
" ترقية كفاءة طلاب المدرسة
الثانوية المنورية في المدرسة الثانوية المنورية مالانج
لتكلم اللغة العربية بوسيلة التعلم الحواري"

٢. الدراسات السابقة
تسهيلا و استفاذة لما أقوم ببحثه فأري ضرورية الدراسات أو البحوث التي بحثه الباحثون من قبل المتعلقة ببحثي هذا بكثير . وبعد الخيار والتشكيل مع بذل الجهود لنيل البحوث السابقة المقصودة كفاني خمسة البحوث توازنا لبحثي. وأدون تلك الخمسة مع باحث الكل منها كما يلي:
- شريف الدين، ٢٠٠٧، تدريس مهارة الكلام على أساس المفردات لطلبة المدرسة العالية الإسلامية الحكومية الأولى بمالانج.
- سيف المصطفى، ٢٠٠٦، استراتيجية تعليم مهارة الكلام فى ضوء اتجاه التعليم والتعلم على السياق العام.
- لطيف، ٢٠٠٣، عوامل الضعف لتعليم مهارة الكلام فى اللغة العربية بالمدرسة الثانوية الإسلامية الحكومية ١ بونتياناك.
- صوف رجال، ٢٠٠٧، تنمية مهارة الكلام من خلال التعلم التعاوني في المدرسة العالية دار المخلصين أتشية الوسطى.
- مرضيات رسمة، ٢٠٠٣، دور إمكانية معلم اللغة العربية فى تطوير مهارة الكلام لدى تلميذات المدرسة الثانوية الدينية مالانج.

٣.المراجع
كما أن البحوث العلمية أخري مفتقرة بالمراجع فهكذا بحثي لا يستغني عن المراجع لاستنباط ما كتبه العلماء من العلوم المحتاج عليها. و إلى هذا الحين لم أر فى حاجة إلى المراجع إلا إلى ما دوّنتُه هنا مع إمكان القبول للزيادة فيما بعد. وتلك المراجع، هي:
أ) المراجع العربية:
- أبو بكر عبد اللطيف عبد القادر، ٢٠٠٣، تعليم اللغة العربية الأطراف والإجراءات، ط ١، سلطنة عمان: مكتبة الضامري للنشر والتوزيع.
- الناقة، محمد كامل، ١٩٨٥، تعليم اللغة العربية للنطقين بلغة أخرى ( أسسه- مداخله- طرق تدريسه ) المملكة العربية السعودية: حقوق الطبع وإعادته محفوظة لجامعة أم القرى.
- جابر عبد الحميد جابر أو أحمد خيري كاظم ١٩٧٨.
- أحمد، محمد عبد القادر ١٩٧٩، طرق تعليم اللغة العربية، مصر: دار المعارف.

ب) المراجع الأجنبية:
- Ari Kunto, Suharsini 1998, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
- Furan, Arif, 1982, Pengantar Penelitian dan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.
- Departemen Agama 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Kurikulum dan Hasil Belajar Bahasa Arab Madrasah AliyahJakarta: Direktorat Madrasah, hal. 2 dan Departemen Agama 2006, Kurikulm Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Madrasah Aliyah Jakarta, hal. 66-71.

16.9.08

KRISIS TELADAN DISIPLIN WAKTU


KRISIS TELADAN DISIPLIN WAKTU
Oleh: Abu Elmakkey*

Sudah menjadi aturan, meskipun tak tertulis, setiap kali ingin menggelar hajatan dan berniat mengundang kerabat, handaitaulan, tetangga serta rekanan, seyogyanya kita sertakan undangan sebagai makna keseriusan. Tidak banyak hal yang perlu ditulis dalam undangan. Hanya beberapa poin penting prihal acara dimaksud yang mesti diperjelas; tujuan, tempat dan pastinya waktu atau jam pelaksanaannya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, proses undang-mengundang sudah sedemikian akrab dalam intraksi sosial. Hampir setiap hari kita mendapatinya. Kalau tidak mengundang, biasanya kitalah yang diundang. Setidaknya, ini yang dialami penulis sebagai anggota komunitas masyarakat. Kebetulan, saat sedang menggarap tulisan ini, ada sekretaris penulis dalam kepanitiaan pembangunan sebuah masjid, datang dan menyodorkan selembar undangan; meminta paraf penulis selaku ketua umum, sebelum kemudian digandakan dan diedarkan kepada para undangan. Dalam hal ini, penulis termasuk pihak pengundang. Pada banyak kesempatan, tak jarang juga penulis menjadi pihak yang diundang.
Ada tiga hal mendasar yang perlu dipertegas oleh sộhibul hậjah, saat menulis undangannya, seperti telah disinggung di atas, yakni tujuan, tempat serta waktu pelaksanaan acara. Biasanya, jika memang ada kesanggupan dan berniat hadir, para undangan akan sangat antusias memperhatikan dua poin penting pertama, yakni tujuan dan tempat acara. Adalah lucu, jika kita menghadiri acara non-formal dengan penampilan yang sangat formal. Atau sebaliknya. Untuk menghindari kekeliruan ini, kita harus faham jenis dan tujuan acara.
Selanjutnya, sangat naif jika kita memasuki ruang acara –walaupun dalam acara yang serupa– tapi keliru tempat. Ingin menghadiri sebuah undangan pernikahan, misalnya, tapi keliru masuk pada acara serupa yang bahkan kita tidak diundang; saat ada dua tetangga berdekatan menggelar hajatan yang sama, sementara kita mendapat satu undangan dari keduanya. Maka, keyakinan benarnya sebuah tempat acara adalah konsekuensi yang betul-betul harus diperhatikan.
Untuk poin mendasar terakhir, yakni waktu pelaksanaan acara, sangat jarang –agar tidak menafikan– diperhatikan para undangan. “Jangan terburu-buru, acaranya pasti molor” Ungkapan seperti ini, sering kita dengar setiap akan menghadiri sebuah undangan, baik dari kerabat, teman yang sama-sama diundang, atau mungkin diri kita sendiri yang menjadikan pengalaman sebagai kaca perbandingan. Inilah yang penulis maksud: tradisi melalaikan waktu. Wajarkah?
Menanggapi wacana di atas, mungkin kita sepakat untuk meng”iya”kan kewajaran realita ini. Karena, setidaknya ada dua hujjah mendasar yang bisa dijadikan alasan: pertama, molor waktu atau apapun istilahnya –selama masih dalam lingkup wajar– tidak lantas menggagalkan acara; dan kedua, keberadaan masing-masing person undangan di tempat acara, bukan sebagai otoritas mutlak. Adanya undangan hanya bersifat sosial-kultural; baik pengundang ataupun yang diundang, sama-sama hanya menjalankan tradisi yang berlaku.
Masalah yang timbul kemudian, jika keterlambatan dilakoni oleh undangan yang justru memiliki otoritas dalan pelaksanaan acara. Saat penyelenggaraan upacara pelantikan kepala desa baru, umpamanya, jika Camat setempat, sebagai pelantik terlambat datang, maka “resiko” molornya waktu akan dirasa segenap hadirin. Atau dalam acara pengajian akbar, jika seorang Kiai yang dijadwal menjadi muballig terlambat, maka penundaan acara inti tidak dapat dihindari, sampai Kiai yang bersangkutan hadir. Peristiwa-peristiwa inilah yang kerap terjadi. Sudah mentradisi di masyarakat.
Seakan telah menjamur adigium: “Biasa, orang penting pasti ditunggu. Bukan menunggu”. Sangat jarang kita menghadiri sebuah acara yang bisa dimulai tepat seperti jadwal waktu yang tertulis dalam undangan. Itu tadi, karena undangan otoritas tidak bisa menjadi suri tauladan disiplin waktu. Mereka “senang” jika segenap pandangan hadirin tertuju pada kedatangan mereka. Entah, apa yang ada dalam fikiran mereka saat itu. Yang jelas, jika perasaan malu menjadi hiasan pribadi; malu karena keterlambatan menjadi tontonan khalayak, maka upaya untuk mengulangi keterlambatan, sama artinya ingin menodai hiasan diri. Maka tak heran, jika Nabi Muhammad menyatakan: “Kalau sudah tidak malu, maka lakukan apa yang kamu mau”. Tanpa perlu menggubris apa anggapan orang.
***
Adalah benar jika segala sesuatu yang telah dan akan terjadi merupakan taqdir Allah. Termasuk keterlambatan. “Maksud hati ingin tepat waktu, tapi adanya sebab yang tak terduga, menjadi perantara untuk tidak bisa on time.” Demikian lintasan pemikiran kita, untuk membenarkan keterlambatan. Hanya sikap bijaklah yang dapat memilah prioritas di antara tumpukan aktifitas.
Jika alasan keterlambatan kita karena udzur yang membenarkannya, maka beban malu karena keterlambatan hanya kepada khalayak yang hadir saja. Tapi jika masbuk kedatangan kita ke tempat acara karena mencari perhatian, apalagi merasa penting; yakin acara tidak akan dimulai sebelum kedatangan kita, inilah benih kesombongan alias keangkuhan. Jika kebiasaan “senang ditunggu” mentradisi di kalangan elit masyarakat; para pemerintah, tokoh agama, maka siapakah yang akan dijadikan panutan umat? Bagaimana mungkin seorang muballig memberikan ceramah kepada masyarakat, jika pribadinya tak mampu menjalankan apa yang ia sampaikan?
***
Idealnya, baik pengundang ataupun undang otoritas harus sama-sama berkomitmen agar acara dapat dilaksanakan tepat sesuai jadwal. Koordinasi intens antara keduanya harus sudah ada, jauh sebelum penyelenggaraan acara. Sangat tidak relefan alasan yang disampaikan seorang pembicara yang terlambat datang, karenanya menyita waktu hadirin untuk menunggu: “Maaf, karena ada dua acara serupa yang waktunya sama persis, jadi terpaksa saya terlambat. Agar sama-sama kebagian ceramah.”
Bagaimana mungkin seorang muballig menyanggupi dua acara yang diselenggarakan pada saat bersamaan? Mestinya, saat ada undangan yang meminta kesediaannya, ketegasan untuk menolak atau sedikit menggeser waktu pelaksanaan harus disampaikan. Jangan berfikir “mumpung diundang”. Seperti halnya pengundang, selayaknya mendapatkan kepastian bahwa sang muballig bisa menghadiri acara tepat waktu; tanpa ada udzur mengisi di tempat lain.
Jika ketegasan ini bisa diterapkan oleh para muballigin; memberi teladan ketepatan waktu, merasa malu jadi tontonan hadirin karena terlambat, maka insyaallah, tradisi molor waktu acara akan bisa diatasi. Mari bersama-sama kita benahi penyakit masyarakat; krisis tauladan disiplin waktu.
Tentu, contoh molornya waktu dari prosesi “undang-mengundang” hanya menjadi satu sampel dari sekian sampel yang ada dalam realita menyepelekan waktu; disiplin waktu kerja, waktu mengajar, dan masih banyak lagi disiplin-disiplin waktu dalam menjalankan aktifitas, menjadi “bidikan” tulisan ini. Semoga kita bisa selalu bermuhasabah, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi dan dirugikan waktu. Amin…

* Pencinta disiplin waktu